Tat Mo Co Su – Patriach Bodhi Dharma
Membahas tentang Tat Mo Co Su, tak terelakkan terpikir tentang Wihara Shao Lin. Membicarakan tentang Wihara Shao Lin, tak terhindarkan teringat tentang ilmu silat Shao Lin 少林功夫 {Siao Lim Kung Fu} yang terkenal di seluruh dunia. Sebenarnya, ketrampilan ilmu silat Shao Lin (kadang disebut juga Wu Shu), baik dengan tangan kosong maupun dengan memakai alat seperti pedang, tombak, dan sebagainya, pada awalnya hanyalah berasal dari semacam olahraga untuk menyehatkan badan setelah melakukan meditasi.
Tat Mo Co Su termashur ke seluruh dunia, & membuat orang kagum, bukanlah karena ilmu silatnya yang tinggi, melainkan karena keistimewaannya, dan belajar Dharma Buddha melalui pengalaman sendiri yang sempurna. Salah satu bagian kisah hidup beliau yang tersohor adalah Mian Bi Jiu Nian (bertapa menghadap tembok selama 9 tahun).
Da Mo Zu Shi 達摩祖師 {Hok Kian = Tat Mo Co Su} nama aslinya adalah Bodhi Dharma, lahir di India Selatan dalam suku Brahma. Setelah menjadi bikkhu, beliau dengan tekun mendalami aliran Mahayana. Dharma {Mandarin = Da Mo}, Zu Shi = Master / Guru Besar. Da Mo Zu Shi merupakan pendiri aliran Chan {Jepang = Zen} dalam Buddhisme Tiongkok. Beliau juga terkenal dengan nama Master Of Zen. Hari lahir Da Mo Zu Shi diperingati pada tanggal 3 bulan 10 Imlek.
Pada tahun 520 M Bodhi Dharma meninggalkan India & pergi ke Tiongkok (waktu ini merupakan masa Dinasti Liang: 502 – 557 M). Beliau tiba di Guang Zhou, & dari sini berjalan sampai ke negeri Wei (sekarang propinsi Henan). Beliau mengunjungi Wihara Shaolin {Hok Kian = Siao Lim Si} di pegunungan Song Shan. Di wihara ini ia memperdalam ilmu meditasi aliran Chan & mengajarkan kepada para bikkhu di sana. Ilmu meditasi ini kemudian menjadi dasar latihan tenaga dalam, sebagai bagian dari ilmu silat Shaolin yang terkenal. Di biara ini, Hui Ke (kelak menjadi guru besar aliran Chan yang ke-2) berguru pada Da Mo Zu Shi. Karena tertarik akan ketulusan hatinya, Da Mo Zu Shi
menyerahkan 4 gulung Sutra Leng Jia kepada Hui Ke, dan berkata bahwa sutra tersebut paling sesuai untuk orang Tiongkok.
Da Mo Zu Shi menjadi legenda seiring dengan berkembangnya aliran Chan. Sebuah kisah yang amat populer adalah percakapan antara Da Mo Zu Shi
dengan Kaisar Liang Wu Di di Jin Ling (sekarang Nan Jing). Liang Wu Di adalah seorang Kaisar pemeluk agama Buddha yang banyak berbuat amal kebajikan; mendirikan banyak kuil, penulisan kitab suci, membuat banyak Buddha Rupang & pentahbisan bikkhu. Dengan bangga Sang Kaisar bertanya kepada Da Mo Zu Shi : “Aku telah banyak beramal, berapa banyakkah kebajikanku ?” Da Mo Zu Shi menjawab dengan singkat “Tidak ada kebajikan!” Liang Wu Di terkejut dan bertanya: “Mengapa tidak ada kebajikan?” Da Mo Zu Shi menjawab dengan tenang: “Yang Anda kerjakan adalah perbuatan yang bermanfaat, namun itu bukan kebajikan yang sejati.” Liang Wu Di tidak dapat memahami makna dari jawaban Da Mo Zu Shi.
Da Mo Zu Shi lalu meninggalkan negeri Liang & menyeberangi sungai Yang Zi dan masuk ke negeri Wei. Kisah Da Mo Zu Shi menyeberangi sungai Yang Zi ini menjadi sebuah legenda tersendiri. Dikatakan bahwa Da Mo Zu Shi menyeberangi sungai besar tersebut dengan hanya menggunakan sebatang rumput gelagah. Pada zaman setelah itu muncul banyak lukisan yang menggambarkan adegan tersebut.
Buddhis Mahayana yang dibawa Da Mo Zu Shi dari India ke Tiongkok kemudian mendapat pengaruh dari agama asli Tiongkok yaitu Tao dan Khong Hu Cu. Inilah yang kemudian disebut sebagai Zen Buddhisme, merupakan salah satu sekte penting dalam agama Buddha Mahayana. Mulanya Buddhisme Zen (Dhyana/Meditasi) ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Dao {Tao} dan Kong Fu Zi {Khong Hu Cu}. Namun pada perkembangannya, Buddhisme Zen ini mempengaruhi kembali Neo Confucianisme yang terbentuk pada masa Dinasti Song (960-1279 M).
Tat Mo Co Su termasuk salah satu dari Shi Ba Lo Han {Cap Pwe Lo Han} = 18 Lo Han, yang arcanya terdapat di ruang utama kelenteng Kim Tek Ie.
O
—oooOOOooo—
O
Namo Buddhaya,
Tanpa mengurangi hormat dari umat kepada Buddha/dewata yg ada di Kelenteng Jin De Yuan, saya menyarankan untuk menggunakan 1 hio kecil saja untuk setiap tempat hiolo Buddha/dewata. Semoga hal tersebut dapat mengurangi asap hio di ruangan dan dapat menjaga kebersihan kelenteng.
Mohon disampaikan kepada pengurus kelenteng. Terima kasih.
salam kpd pengurus jindeyuan tanpa mengurangi hormat , memang sudah seharusnya setap tempat hanya 1 batang hio saja , supaya mengurangi asap , kan klo asapnya kurang , sedikit
lebih nyaman . thanks
dear @ denwin; dear @ eko;
Namo Buddhaya,
Memang, hal ini (1 batang hio di setiap hiolo) sudah lama menjadi pemikiran kami. Selain menjaga kebersihan, juga menjaga kesehatan pengurus, staf & karyawan kelenteng.
Namun perlu diingat bahwa tuan rumah Kim Tek Ie adalah Dewi Kwan Im (pertama kali didirikan kelenteng ini bernama “Kwan Im Teng”), maka untuk melakukan hal tsb pengurus telah bertanya kepada Kwan Im apakah boleh (ini sudah dilakukan kira-kira 10 tahun yang lalu). Ternyata Kwan Im tidak mengizinkan. Kemudian beberapa tahun kemudian pengurus yang lain bertanya lagi kepada Kwan Im, juga tidak setuju. Masalah ini sudah ditanyakan beberapa kali kepada Dewi Kwan Im, tapi jawabannya selalu sama : Tidak Setuju.
Demikian penjelasan dari kami. Kam Sia atas sarannya.
Namo Buddhaya,
Dahulu bukan Kim Tek Ie tempat tinggal para sangha ( suhu ) ya?
kenapa sekarang tidak diadakan kebaktian juga?
terima kasih
namo omitofo pada pengirus jin de yuan ..
sya lahir pada tgl 31 januari 1993..kira-kira shio saya benar tidak shio ayam..karena dulu orang tua saya tidak tahu lik cun nya ..kalau memang ayam lalu unsur nya apa?