Posts Tagged ‘Pagoda’

Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita

Saturday, April 6th, 2013

Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita

Ada umat yang bertanya: “Kwan Im Pho Sat sebetulnya pria atau wanita ???” Ada yang menjawab Kwan Im Pho Sat sebenarnya pria. Namun banyak juga yang menjawab Kwan Im Pho Sat adalah wanita.

Sebenarnya tingkat kesucian Bodhisatva telah berada di atas perbedaan bentuk : pria – wanita, tua – muda, cantik – jelek, kaya – miskin, mulia – hina, dan sebagainya. Dengan kata lain tingkat kesucian Bodhisatva telah menghilangkan perbedaan wujud pria atau wanita. Bodhisatva bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi / keadaan. Seorang Bodhisatva bisa berubah wujud menjadi sesuatu yang sesuai dengan sebab jodoh orang yang memohon pertolongan kepadanya.

Maka Kwan Im Pho Sat bisa berwujud pria, bisa juga berwujud wanita. Semua ini berdasarkan kebutuhan umat manusia yang membutuhkan pertolongannya.

Jauh sebelum agama Buddha disebarkan dari India ke Tiongkok, di Tiongkok Kuno sudah ada kepercayaan kepada seorang Dewi yang welas asih dengan penampilan memakai jubah putih. Pada waktu memasuki Tiongkok pada masa Dinasti Han [ 206 SM – 220 M ), agama Buddha memperkenalkan Bodhisatva Avalokitesvara – 觀自在菩薩 Guan Zi Zai Pu Sa (kemudian dikenal sebagai Kwan Im Pho Sat) sebagai pria.

Mulai zaman Dinasti Tang [ 618 – 907 M ], Kwan Im ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang telah berurat akar dalam sistem sosial masyarakat pada saat itu. Mereka menganggap tidak layak kalau wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para umatnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar beliau dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon bantuannya.

Nampaknya perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan. Mula-mula Kwan Im ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa-dewa dari India yang selalu berpasangan). Lambat laun oleh para penganutnya di Tiongkok, Dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Pada abad ke-12 Masehi, Kwan Im telah dipuja tersendiri sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu pula Dewata-dewata Buddhis lainnya.

Sebelum masuknya Buddhis ke Tiongkok, kaum wanita di sana telah banyak menghormati para Dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan 娘娘 Niang Niang {Hok Kian = Nio Nio }, sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan & keturunan. Oleh karena itu ketika muncul Guan Yin, mereka menyebutnya dengan panggilan Niang Niang pula. Sebutan 觀音菩薩 Guan Yin Pu Sa {Hok Kian = Kwan Im Pho Sat} yang sepenuhnya bersifat Buddhisme, di kalangan rakyat Tiongkok akhirnya terkenal dengan sebutan 觀音娘娘 Guan Yin Niang Niang {Kwan Im Nio Nio}.

Tidak hanya sampai di situ, kaum Taois-pun akhirnya ikut pula menghormati, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu 天后聖母 Tian Hou Sheng Mu (Tian Shang Sheng Mu). Nama Taois untuk Guan Yin adalah 慈航道人 Ci Hang Dao Ren {Cu Hang To Jin} yang berarti Dewa Penyelamat Pelayaran.

Demikianlah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi – Sakyamuni Buddha, walaupun dalam banyak kelenteng & wihara, Buddha Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.

E.T.C. Werner dalam bukunya Myths and Legends of China menyebut Dewi Kwan Im sebagai Buddhist Saviour atau Dewi Penyelamat dari Buddhis. Kutipan dari buku tersebut tentang kepercayaan rakyat kepada Dewi Kwan Im adalah sebagai berikut:

Ia disebut Guan Yin karena ia mau mendengarkan ratapan dari dunia & turun memberikan pertolongan. Ia memperoleh sebutan Buddha yang mengusir rasa takut. Jika nama Guan Yin disebut di tengah kobaran api, maka api tak akan dapat membakar. Jika namanya disebut di tengah hempasan ombak yang setinggi gunung, maka air tersebut akan menjadi dangkal. Apabila seorang awak perahu yang tengah dihantam gelombang besar menyebut nama Guan Yin yang Maha Penyayang, maka ia akan selamat sampai tujuan. Di tengah-tengah gemerincingan pedang & tombak di medan perang, apabila menyebut nama Guan Yin akan luputlah ia dari maut. Jika ada iblis yang merasuki ke dalam dirimu, sebutlah nama Guan Yin, maka anda akan memperoleh kedamaian & ketenangan bathin.

Napsu amarah & kebencian akan sirna kalau nama beliau diucapkan. Seorang yang menderita penyakit ingatan akan pulih kembali kalau berdoa dengan penuh ketulusan kepada Guan Yin. Guan Yin yang Maha Pengasih & Penyayang akan memberikan anak bagi para ibu yang mendambakannya, seorang putra yang tampan & seorang putri yang cantik. Seorang yang menyebutkan nama-nama dari 6.200.000 Buddha atau jumlah yang banyak laksana pasir Sungai Gangga, sama nilainya dengan orang lain yang hanya mengucapkan nama Guan Yin sekali saja. Guan Yin dapat muncul dalam wujud Buddha, Pangeran, Bikkhu, Pelajar, Nenek tua, dan lain-lain. Beliau dapat pergi ke negara mana saja, membabarkan ajaran suci ke berbagai penjuru dunia.

Demikianlah seorang Dewi Welas Asih yang Asli Tiongkok menyatu dengan Avalokitesvara, jadilah Dewata Buddhis khas Tiongkok, bahkan ciri-ciri ke-India-annya hilang sama sekali. Kisah Putri Miao Shan (Biao Sian) dalam kisah Lam Hai Kwan Im Cwan Thwan amat dikenal dalam Buddhisme Tiongkok, dan telah menyatu dalam sanubari orang-orang Tionghoa. Kisah Putri Miao Shan yang amat berbakti kepada orangtua ini merupakan cerminan dari kisah Sang Buddha Gautama, di mana beliau meninggalkan keduniawian menjadi pertapa dan sempurna di Gunung Pu To Shan.

Figure Kwan Im yang dekat dengan segala lapisan masyarakat membuatnya amat termashur bahkan melebihi Sang Buddha Gautama sendiri. Dalam perujudannya sebagai Chien Chiu Kwan Im (Kwan Im Tangan Seribu) beliau secara Esotoris seolah-olah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.

Kwan Im Hut Co dikenal luas sebagai Dewi Welas Asih, yang dipuja tidak hanya di kalangan Buddhis saja, tapi juga di kalangan umat Taoisme dan semua lapisan masyarakat awam di pelbagai negara terutama di benua Asia.

Coba kita perhatikan, di setiap kelenteng atau wihara, siapapun yang menjadi Tuan Rumah–nya, misalnya玄壇公 Xian Tan Gong {Hian Than Kong}; 地藏王 Di Zang Wang {Te Cong Ong}; 媽祖 / 天后聖母 Ma Zhu / Tian Hou Sheng Mu {Ma Co / Thien Hou Sing Bo}; 關聖帝君 / 關公 Guan Sheng Di Jun / Guan Gong {Kwan Seng Te Kun / Kwan Kong}; 清元真君 Qing Yuan Zhen Jun {Ceng Guan Ceng Kun}; dan lain-lain, pasti di dalam kelenteng tersebut ada sebuah altar khusus untuk menghormati Kwan Im Hut Co ! Mengapa bisa demikian ? Ini karena Maha Cinta Kasih & Maha Karuna (大慈大悲) beliau. Maka beliau disebut Guan Shi Yin. Bahkan Dunia Barat pun mengenal Dewi Kwan Im sebagai Goddess of Mercy !!!

O

—oooOOOooo—

O

Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta

Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita

Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita