Posts Tagged ‘Kalender’

Sejarah Panjang Tahun Baru Imlek

Wednesday, March 6th, 2013

Sejarah Panjang Tahun Baru Imlek

Pada hari Minggu, tanggal 10 Februari 2013 yang baru lalu kita merayakan Tahun Baru Imlek yang ke 2564. Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia dikenal dengan nama Hari Imlek atau Hari Raya Imlek. Sebenarnya istilah Hari Imlek atau Hari Raya Imlek sebenarnya tidak tepat. Mari kita lihat penjelasan berikut :

Hari Imlek : Imlek merupakan sistem penanggalan yang berdasarkan peredaran bulan, dimana 1 tahunnya terdiri dari + 355 hari. Jadi kalau dikatakan kita merayakan Hari Imlek, berarti kita merayakan selama 355 hari !?!?!? Aneh sekali bukan ??? Ini sama dengan tanggal 1 Januari penanggalan Masehi, yang dirayakan dengan sebutan Tahun Baru Masehi. Kita tidak mungkin menyebut 1 Januari sebagai Hari Masehi bukan ???  Ini juga identik dengan umat Islam yang menyebut 1 Muharram sebagai Tahun Baru Hijriyah. Tentu tidak tepat kalau kita menyebut 1 Muharram sebagai Hari Hijriyah atau Hari Jawa/Hari Arab.

Hari Raya Imlek : dalam 1 tahun ada banyak Hari Raya Imlek, antara lain : Tahun Baru Imlek, Hari Raya Ceng Beng, Hari Raya Peh Cun (Twan Ngo Ciap), Hari Raya Cioko, Hari Raya Kue Bulan, Hari Raya Tang Ce, dan lain-lain. Tahun Baru Imlek merupakan salah 1 dari sekian banyak Hari Raya dalam penanggalan Imlek.

Jadi tanggal 1 bulan 1 penanggalan Imlek {Cia Gwe Ce It} lebih tepat disebut sebagai Tahun Baru Imlek {Hok Kian = Sin Cia, Khe = Ko Nyan}. Semoga dengan penjelasan ini, salah kaprah yang menyebut Tahun Baru Imlek sebagai Hari Imlek / Hari Raya Imlek dapat diluruskan.

Di Indonesia selama 32 tahun (1966-1998), perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya adalah Tahun Baru Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia baru kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002  yang meresmikan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Mulai tahun 2003, Tahun Baru Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

Tahukah kita bahwa Tahun Baru Imlek memiliki sejarah yang amat panjang, tak kurang dari 4.700 tahun ???

Kita mengenal berbagai sistem penanggalan. 公曆/陽曆 (Gong Li / Yang Li) Kalender Masehi yang bertahunkan 2013, menggunakan Sistem Gregorian / Tata Surya / Solar / Matahari, yang dihitung berdasarkan lamanya peredaran bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Tahun pertamanya berdasarkan pada tahun kelahiran Nabi Yesus Kristus. Kalender Islam yang bertahunkan 1434 H, menggunakan Sistem Lunar, yang berdasarkan pada masa orbit bulan mengelilingi bumi selama 354 hari, atau selisih 11 hari dibandingkan sistem Gregorian. Tahun pertamanya dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Medinah.

陰曆 Yin Li {Hok Kian = Im Lek = Kalender Imlek} merupakan perpaduan kedua sistem Matahari & Bulan sekaligus. Perhitungan hari per-bulannya mengacu pada sistem lunar. Namun selisih 11 hari per tahun disesuaikan dengan sistem matahari melalui 閏月Run Yue {Hok Kian = Lun Gwe = mekanisme penyisipan bulan ketiga belas sebanyak 7 (tujuh) kali dalam kurun waktu 19 tahun}. Koreksi atau penyisipan ini membuat jatuhnya awal Tahun Baru Imlek selalu berada dalam rentang waktu antara 21 Januari – 20 Februari, tidak bergeser maju terus seperti halnya Hari Raya Idul Fitri atau Tahun Baru Hijriyah (tahun 2000 umat Islam merayakan Idul Fitri 2X, yaitu 8 Januari 2000 & 27 Desember 2000).

Melalui mekanisme Lun Gwe ini, maka pada tahun-tahun tertentu, Kalender Imlek kadang memiliki bulan ganda. Misal tahun 2009 ada Lun Go Gwe (2x bulan Lima). Kemudian tahun 2012 yang baru lalu ada Lun Si Gwe (2x bulan Empat). Dengan adanya penyesuaian ini maka Kalender Imlek lebih tepat disebut Kalender 陰陽曆Yin Yang Li {Im Yang Lek / Sistem Lunisolar}.

Selain itu penanggalan Imlek masih dilengkapi beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu : 5 unsur, 12 Shio, 24 節氣 Jie Qi (pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, yang terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen), 六十花甲  60 Hua Jia (60 konsep penggabungan Tian Gan & Di Zi), dll. Walaupun demikian, semua perhitungan ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “Penanggalan Imlek” yang Lengkap & Harmonis, bahkan bisa dikatakan Sempurna karena sudah mencakup “Koreksi” -nya juga, sebagai contoh adalah Lun Gwe.

Penanggalan Tionghoa telah ada sejak zaman Kaisar 皇帝 Huang Di [2.696 – 2.598 SM]. Tapi baru digunakan secara resmi oleh Dinasti 夏 Xia [2.205 – 1.766 SM], yaitu 4.217 tahun yang lalu ! Pada tanggal 10 Februari 2013 yang telah lalu kita merayakan Tahun Baru Imlek yang ke 2564. Lalu dari mana angka 2.564 ini? Ini dihitung dari kelahiran Nabi 孔子 Kong Zi {Hok Kian = Khong Cu} atau Confusius yang lahir pada tahun 551 SM. Jadi tahun 2013 ini berarti tahun 551 + 2013 = 2564 Imlek. Karena awal tahunnya dimulai dari awal kelahiran Nabi Kong Zi, maka kalender Imlek kadang disebut juga Khong Cu Lek. Namun bukan berarti usia Kalender Imlek sama dengan usia Kong Hu Cu. Pada kenyataannya, Penanggalan Imlek telah digunakan jauh sebelumnya, tepatnya sejak zaman Kaisar Huang Di, yaitu pada tahun 2.696 SM. Dengan demikian Kalender Imlek telah berusia 4.709 tahun !!!

Tentu timbul pertanyaan, mengapa tahun pertama penanggalan Imlek dihitung sejak kelahiran Nabi Kong Zi ???  Sejarahnya amat panjang ……

Penanggalan Imlek  telah ada sejak zaman Kaisar 皇帝 Huang Di [2.696 – 2.598 SM]. Namun Kalender Imlek secara resmi baru digunakan oleh Dinasti Xia [2.205 – 1.766 SM]. Dinasti Xia hanya berkuasa sampai 1.766 SM, dan kemudian digantikan oleh Dinasti Shang [1.766 – 1.122 SM].

Pada masa Dinasti 商Shang, kalender Imlek yang kita kenal sekarang, dimodifikasi dengan dimajukan penentuan awal tahun barunya sekitar satu bulan. Akibatnya awal tahun baru yang semula jatuh di awal musim semi, bergeser ke musim dingin. Demikian pula dengan perhitungan awal tahunnya, dihitung sejak dinasti Shang berkuasa.

Ketika dinasti Shang digantikan dengan dinasti 周 Zhou [1.122 – 255 SM], perhitungan awal tahun barunya dimajukan lagi, bertepatan dengan 冬至Dong Zi, puncak musim dingin sekitar 22 Desember, tepat ketika matahari berada di 23,5o Lintang Selatan. Perhitungan awal tahunnya dimulai sejak berdirinya Dinasti Zhou.

Nabi Kong Zi, Confusius [551 – 479 SM] hidup pada masa dinasti Zhou. Kong Zi pernah mengingatkan bahwa sebuah sistem penanggalan seharusnya dibuat dengan mempertimbangkan kepentingan orang banyak. Kalender yang baik harus bisa dijadikan Pedoman bagi rakyat yang menggunakannya. Sementara Kalender Dinasti Zhou yang digunakan semasa Kong Zi hidup, dirasakan amat tidak cocok untuk digunakan sebagai panduan bagi rakyat yang mayoritas hidup dari sektor pertanian, karena penentuan awal tahun barunya bertepatan dengan musim dingin. Bila tahun baru jatuh di musim dingin, sulit dijadikan pedoman bagi rakyat untuk mulai kerja baru.

Atas dasar pemikiran ini, Kong Zi menyarankan kepada Kaisar Zhou agar kembali menggunakan Kalender Dinasti Xia, di mana awal tahun baru bertepatan dengan awal musim semi, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi rakyat yang mayoritas petani untuk mulai kerja baru. Namun usulan Kong Zi ini tidak ditanggapi penguasa Zhou pada waktu itu.

Ketika dinasti Zhou digantikan oleh dinasti 秦 Qin [255 SM – 202 SM], nasehat Kong Zi pun tetap diabaikan. Kaisar waktu itu tetap mengikuti tradisi sebelumnya, berupaya memperkuat legitimasi kekuasaan dengan berbagai cara, di antaranya dengan membuat sistem kalender baru. Soal apakah kalender tersebut cocok atau tidak dengan kebutuhan rakyatnya, kurang diperhatikan.

Jadi ketika dinasti Shang diganti dengan dinasti Zhou, dan kemudian diganti dengan dinasti Qin, sistem penanggalan yang digunakan juga terus digonta-ganti, sesuai keinginan sang penguasa.

Dinasti Qin tidak berumur panjang, digantikan oleh Dinasti 漢 Han [202 SM – 206 M] yang didirikan oleh 鷺邦 Lu Bang. Kaisar pertama ini tidak sempat memikirkan penggantian kalender. Baru pada saat 漢武帝 Han Wu Di [140 SM – 86 SM] berkuasa, ia menuruti fatwa Nabi Kong Zi & mengumumkan berlakunya kembali Kalender Xia. Sebagai penghormatan kepada Nabi Kong Zi, penentuan perhitungan awal tahun Kalender Xia (penetapan tahun ke-1 Kalender Imlek), dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Kong Zi, 551 SM.

Kebijakan Han Wu Di ini ternyata lebih abadi, terbukti kaisar sesudahnya, baik dari Dinasti Han maupun dinasti sesudahnya, tetap menggunakan Kalender Xia. Jadi walaupun kaisar berganti kaisar, dinasti berganti dinasti, tidak terjadi lagi pergantian penanggalan. Semuanya menggunakan kalender peninggalan Dinasti Xia, dengan awal tahun yang mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kong Zi. Tidak sampai di situ saja, pada masa Dinasti Han, agama Khong Hu Cu pun kemudian ditetapkan sebagai agama negara, bahkan sampai Dinasti Qing. Ajaran Nabi Kong Zi juga menjadi pedoman utama bagi mereka yang ingin meraih gelar pendidikan tinggi.

Penanggalan Imlek cocok digunakan sebagai pedoman masyarakat yang mayoritas hidup dari pertanian, sehingga sering disebut 農曆 Nong Li (Kalender Petani).  Banyak juga yang menyebut Kalender Kong Zi {Khong Cu Lek}, sehingga tahun barunya disebut Tahun Baru Khong Zi. Sebutan ini lazim digunakan di kalangan umat agama Khong Hu Cu di Indonesia, maupun di beberapa negara yang masyarakatnya banyak menganut agama Khong Hu Cu.

Walaupun demikian, Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya perayaan umat Khong Hu Cu saja. Pada kenyataannya, Perayaan Tahun Baru Imlek terutama diperingati juga oleh penganut agama Buddha & Taoisme, dan juga orang Tionghoa di seluruh dunia. Selain itu, pada Cia Gwe Ce It (tanggal 1 bulan 1 Imlek) ini umat Buddha juga memperingati hari lahirnya 彌勒古佛 Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}.

O

—oooOOOooo—

O

Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta

Long History of Chinese New Year

Long History of Chinese New Year