Posts Tagged ‘imlek’

Sejarah Panjang Sin Cia

Wednesday, February 5th, 2014

Sejarah Panjang Sin Cia

Pada hari Jumat, tanggal 31 Januari 2014 ini kita merayakan Sin Cia (Tahun Baru Imlek) yang ke 2565. Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia dikenal dengan nama Hari Imlek atau Hari Raya Imlek. Istilah Hari Imlek atau Hari Raya Imlek sebenarnya tidak tepat (Salah Kaprah). Mari kita lihat penjelasan berikut :

Hari Imlek : Imlek merupakan Sistem Penanggalan yang berdasarkan peredaran bulan, dimana 1 tahunnya terdiri dari + 355 hari. Jadi kalau dikatakan kita merayakan Hari Imlek, berarti kita merayakan selama 355 hari !?!?!? Aneh sekali bukan ??? Ini sama dengan tanggal 1 Januari penanggalan Masehi, yang dirayakan dengan sebutan Tahun Baru Masehi. Kita tidak mungkin menyebut 1 Januari sebagai Hari Masehi bukan ???  Ini juga identik dengan umat Islam yang menyebut 1 Muharram sebagai Tahun Baru Hijriyah. Tentu tidak tepat kalau kita menyebut 1 Muharram sebagai Hari Hijriyah atau Hari Jawa/Hari Arab…

Hari Raya Imlek : dalam 1 tahun ada banyak Hari Raya Imlek, antara lain : Tahun Baru Imlek, Cap Go Me, Hari Raya Ceng Beng, Hari Raya Peh Cun (Twan Ngo Ciap), Hari Raya Cioko, Hari Raya Kue Bulan, Hari Raya Tang Ce, dan lain-lain. Tahun Baru Imlek merupakan salah 1 dari sekian banyak Hari Raya dalam penanggalan Imlek.

Jadi tanggal 1 bulan 1 penanggalan Imlek {Cia Gwe Ce It} lebih tepat disebut sebagai Tahun Baru Imlek {Hok Kian = Sin Cia, Khe = Ko Nyan}. Semoga dengan penjelasan ini, salah kaprah yang menyebut Tahun Baru Imlek sebagai Hari Imlek / Hari Raya Imlek dapat diluruskan.

Sejarah Sin Cia di Indonesia

Di Indonesia selama 32 tahun (1966-1998), perayaan Sin Cia (Tahun Baru Imlek) dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya adalah Sin Cia (Tahun Baru Imlek).

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia baru kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Inpres Nomor 14/1967. Lalu Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Sin Cia sebagai Hari Libur Fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Kemudian Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002  yang meresmikan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Mulai tahun 2003, Tahun Baru Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional. (selanjutnya Tahun Baru Imlek kita sebut Sin Cia saja).

Pada tahun 1946, ketika Republik Indonesia baru berdiri, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama No.2/OEM-1946 yang pada pasal 4 nya ditetapkan 4 hari raya orang Tionghoa yaitu Sin Cia, hari wafatnya Khong Hu Cu ( tanggal 18 bulan 2 Imlek), Ceng Beng dan hari lahirnya Khong Hu Cu (tanggal 27 bulan 2 Imlek). Dengan demikian secara tegas dapat dinyatakan bahwa Hari Raya Sin Cia Kong Zi Li merupakan hari raya Agama Tionghoa.

Orang Tionghoa yang pertama kali mengusulkan larangan total untuk merayakan Sin Cia, adat istiadat, dan budaya Tionghoa di Indonesia kepada Presiden Soeharto sekitar tahun 1966-1967 adalah Kristoforus Sindhunata alias Ong Tjong Hay. Namun, Presiden Soeharto merasa usulan tersebut terlalu berlebihan, dan tetap mengijinkan perayaan Sin Cia, adat istiadat, dan budaya Tionghoa, namun diselenggarakan hanya di rumah keluarga Tionghoa dan di tempat yang tertutup, hal inilah yang mendasari diterbitkannya Inpres No. 14/1967.

Pada 6 Desember 1967, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No.14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina. Dalam instruksi tersebut ditetapkan bahwa seluruh Upacara Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup. Instruksi Presiden ini bertujuan mengeliminasi secara sistematis dan bertahap atas identitas diri orang-orang Tionghoa terhadap Kebudayaan Tionghoa termasuk Kepercayaan, Agama dan Adat Istiadatnya. Dengan dikeluarkannya Inpres tersebut, seluruh Perayaan Tradisi dan Keagamaan Etnis Tionghoa termasuk Sin Cia, Cap Go Meh, Peh Cun dan sebagainya dilarang dirayakan secara terbuka. Demikian juga tarian Barongsai dan Liong dilarang dipertunjukkan.

Tahun itu pula dikeluarkan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967 dan Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 286/KP/XII/1978 yang isinya menganjurkan bahwa WNI keturunan yang masih menggunakan tiga nama untuk menggantinya dengan nama Indonesia sebagai upaya asimilasi. Hal ini didukung pula oleh Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB).

LPKB menganjurkan keturunan Tionghoa, antara lain, agar :

  1. Mau melupakan dan tidak menggunakan lagi nama Tionghoa.
  2. Menikah dengan orang Indonesia pribumi asli.
  3. Menanggalkan dan menghilangkan agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa, termasuk bahasa maupun semua kebiasaan dan kebudayaan Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk larangan untuk perayaan Sin Cia.

Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC) berada di bawah BAKIN yang menerbitkan tak kurang dari 3 jilid buku masing-masing setebal 500 halaman, yaitu “Pedoman Penyelesaian Masalah Cina” jilid 1 sampai 3. Dalam hal ini, pemerintahan Soeharto dengan sangat tegas menganggap keturunan Cina dan kebiasaan serta kebudayaan Cina, termasuk agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa sebagai “masalah” yang merongrong negara dan harus diselesaikan secara tuntas.

Kemudian dengan diterbitkannya SE Mendagri No.477 / 74054 tahun 1978 tertanggal 18 Nopember 1978 tentang pembatasan kegiatan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina, yang berisi antara lain, bahwa pemerintah menolak untuk mencatat perkawinan bagi yang Beragama Khonghucu dan penolakan pencantuman Khonghucu dalam kolom Agama di KTP, yang didukung dengan adanya kondisi sejak tahun 1965-an atas penutupan dan larangan beroperasinya sekolah-sekolah Tionghoa, hal ini menyebabkan terjadi eksodus dan migrasi identitas diri sebagian besar orang-orang Tionghoa ke dalam Agama Kristen sekte Protestan, dan sekte Katolik, Buddha bahkan ke Islam. Demikian juga seluruh perayaan ritual kepercayaaan, agama dan adat istiadat Tionghoa termasuk perayaan Sin Cia menjadi surut dan pudar.

Surat dari Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Depag No H/BA.00/29/1/1993 menyatakan larangan merayakan Sin Cia di Vihara dan Cetya. Kemudian Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) mengeluarkan Surat Edaran No 07/DPP-WALUBI/KU/93, tertanggal 11 Januari 1993 yang menyatakan bahwa Sin Cia bukanlah merupakan hari raya agama Buddha, sehingga Vihara Mahayana tidak boleh merayakan Sin Cia dengan menggotong Toapekong, dan acara Barongsai.

Pada tanggal 17 Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres N0.14/1967 tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa. Dengan dikeluarkannya Keppres tersebut, masyarakat Tionghoa diberikan kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya termasuk merayakan Upacara-upacara Agama seperti Sin Cia, Cap Go Meh, Peh Cun dan sebagainya secara terbuka.

Pada tahun Imlek 2551 Kong Zi Li di tahun 2000 Masehi, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) mengambil inisiatif untuk merayakan Sin Cia secara terbuka sebagai puncak Ritual Agama Khonghucu secara Nasional dengan mengundang Presiden Abdurrahman Wahid untuk datang menghadirinya.

Pada tanggal 19 Januari 2001, Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 tentang penetapan Hari Raya Sin Cia sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif.

Pada saat menghadiri perayaan Sin Cia 2553 Kong Zi Li, yang diselenggarakan Matakin dibulan Februari 2002 Masehi, Presiden Megawati Soekarnoputri mengumumkan mulai 2003, Sin Cia menjadi Hari Libur Nasional. Pengumuman ini ditindak lanjuti dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002 tentang Hari Sin Cia tertanggal 9 April.

Sejarah Panjang Sin Cia

Tahukah kita bahwa Sin Cia memiliki sejarah yang amat panjang, tak kurang dari 4.700 tahun ???

Kita mengenal berbagai sistem penanggalan. 公曆/陽曆 (Gong Li / Yang Li) Kalender Masehi yang bertahunkan 2014, menggunakan Sistem Gregorian / Tata Surya / Solar / Matahari, yang dihitung berdasarkan lamanya peredaran bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Tahun pertamanya berdasarkan pada tahun kelahiran Nabi Yesus Kristus. Kalender Islam yang bertahunkan 1435 Hijriyah, menggunakan Sistem Lunar, yang berdasarkan pada masa orbit bulan mengelilingi bumi selama 354 hari, atau selisih 11 hari dibandingkan sistem Gregorian. Tahun pertamanya dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Medinah.

陰曆 Yin Li {Hok Kian = Im Lek = Kalender Imlek} merupakan perpaduan kedua sistem Matahari & Bulan sekaligus. Perhitungan hari per-bulannya mengacu pada sistem lunar. Namun selisih 11 hari per tahun disesuaikan dengan sistem matahari melalui 閏月Run Yue {Hok Kian = Lun Gwe = mekanisme penyisipan bulan ketiga belas sebanyak 7 (tujuh) kali dalam kurun waktu 19 tahun}. Koreksi atau penyisipan ini membuat jatuhnya awal Sin Cia selalu berada dalam rentang waktu antara 21 Januari – 20 Februari, tidak bergeser maju terus seperti halnya Hari Raya Idul Fitri atau Tahun Baru Hijriyah (tahun 2000 umat Islam merayakan Idul Fitri 2X, yaitu 8 Januari 2000 & 27 Desember 2000).

Melalui mekanisme Lun Gwe ini, maka pada tahun-tahun tertentu, Kalender Imlek kadang memiliki bulan ganda. Misal tahun 2009 ada Lun Go Gwe (2x bulan Lima). Kemudian tahun 2012 yang lalu ada Lun Si Gwe (2x bulan Empat). Tahun 2014 ini ada Lun Kaw Gwe (2x bulan Sembilan). Dengan adanya penyesuaian ini maka Kalender Imlek lebih tepat disebut Kalender 陰陽曆Yin Yang Li {Im Yang Lek / Sistem Lunisolar}.

Selain itu penanggalan Imlek masih dilengkapi beberapa unsur yang mempengaruhi, yaitu : 5 unsur, 12 Shio, 24 節氣 Jie Qi (pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, yang terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen), 六十花甲  60 Hua Jia (60 konsep penggabungan Tian Gan & Di Zi), dll. Walaupun demikian, semua perhitungan ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “Penanggalan Imlek” yang Lengkap & Harmonis, bahkan bisa dikatakan Sempurna karena sudah mencakup “Koreksi” -nya juga, sebagai contoh adalah Lun Gwe.

Penanggalan Tionghoa telah ada sejak zaman Kaisar 皇帝 Huang Di [2.696 – 2.598 SM]. Tapi baru digunakan secara resmi oleh Dinasti 夏 Xia [2.205 – 1.766 SM], yaitu 4.219 tahun yang lalu ! Pada tanggal 31 Januari 2014 ini kita merayakan Sin Cia yang ke 2565. Lalu dari mana angka 2.565 ini? Ini dihitung dari kelahiran Nabi 孔子 Kong Zi {Hok Kian = Khong Cu} atau Confusius yang lahir pada tahun 551 SM. Jadi tahun 2014 ini berarti tahun 551 + 2014 = 2565 Imlek. Karena awal tahunnya dimulai dari awal kelahiran Nabi Kong Zi, maka kalender Imlek kadang disebut juga Khong Cu Lek. Namun bukan berarti usia Kalender Imlek sama dengan usia Nabi Kong Hu Cu. Pada kenyataannya, Penanggalan Imlek telah digunakan jauh sebelumnya, tepatnya sejak zaman Kaisar Huang Di, yaitu pada tahun 2.696 SM. Dengan demikian Kalender Imlek telah berusia 4.710 tahun !!!

Tentu timbul pertanyaan, mengapa tahun pertama penanggalan Imlek dihitung sejak kelahiran Nabi Kong Zi ???  Sejarahnya amat panjang ……

Penanggalan Imlek  telah ada sejak zaman Kaisar 皇帝 Huang Di [2.696 – 2.598 SM]. Namun Kalender Imlek secara resmi baru digunakan oleh Dinasti Xia [2.205 – 1.766 SM]. Dinasti Xia hanya berkuasa sampai 1.766 SM, dan kemudian digantikan oleh Dinasti Shang [1.766 – 1.122 SM].

Pada masa Dinasti 商Shang, kalender Imlek yang kita kenal sekarang, dimodifikasi dengan dimajukan penentuan awal tahun barunya sekitar satu bulan. Akibatnya awal tahun baru yang semula jatuh di awal musim semi, bergeser ke musim dingin. Demikian pula dengan perhitungan awal tahunnya, dihitung sejak dinasti Shang berkuasa.

Ketika dinasti Shang digantikan dengan dinasti 周 Zhou [1.122 – 255 SM], perhitungan awal tahun barunya dimajukan lagi, bertepatan dengan 冬至Dong Zi, puncak musim dingin sekitar 22 Desember, tepat ketika matahari berada di 23,5o Lintang Selatan. Perhitungan awal tahunnya dimulai sejak berdirinya Dinasti Zhou.

Nabi Kong Zi, Confusius [551 – 479 SM] hidup pada masa dinasti Zhou. Kong Zi pernah mengingatkan bahwa sebuah sistem penanggalan seharusnya dibuat dengan mempertimbangkan kepentingan orang banyak. Kalender yang baik harus bisa dijadikan Pedoman bagi rakyat yang menggunakannya. Sementara Kalender Dinasti Zhou yang digunakan semasa Kong Zi hidup, dirasakan amat tidak cocok untuk digunakan sebagai panduan bagi rakyat yang mayoritas hidup dari sektor pertanian, karena penentuan awal tahun barunya bertepatan dengan musim dingin. Bila tahun baru jatuh di musim dingin, sulit dijadikan pedoman bagi rakyat untuk mulai kerja baru.

Atas dasar pemikiran ini, Kong Zi menyarankan kepada Kaisar Zhou agar kembali menggunakan Kalender Dinasti Xia, di mana awal tahun baru bertepatan dengan awal musim semi, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi rakyat yang mayoritas petani untuk mulai kerja baru. Namun usulan Kong Zi ini tidak ditanggapi penguasa Zhou pada waktu itu.

Ketika dinasti Zhou digantikan oleh dinasti 秦 Qin [255 SM – 202 SM], nasehat Kong Zi pun tetap diabaikan. Kaisar waktu itu tetap mengikuti tradisi sebelumnya, berupaya memperkuat legitimasi kekuasaan dengan berbagai cara, di antaranya dengan membuat sistem kalender baru. Soal apakah kalender tersebut cocok atau tidak dengan kebutuhan rakyatnya, kurang diperhatikan.

Jadi ketika dinasti Shang diganti dengan dinasti Zhou, dan kemudian diganti dengan dinasti Qin, sistem penanggalan yang digunakan juga terus digonta-ganti, sesuai keinginan sang penguasa.

Dinasti Qin tidak berumur panjang, digantikan oleh Dinasti 漢 Han [202 SM – 206 M] yang didirikan oleh 鷺邦 Lu Bang. Kaisar pertama ini tidak sempat memikirkan penggantian kalender. Baru pada saat 漢武帝 Han Wu Di [140 SM – 86 SM] berkuasa, ia menuruti fatwa Nabi Kong Zi & mengumumkan berlakunya kembali Kalender Xia. Sebagai penghormatan kepada Nabi Kong Zi, penentuan perhitungan awal tahun Kalender Xia (penetapan tahun ke-1 Kalender Imlek), dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Kong Zi, 551 SM.

Kebijakan Han Wu Di ini ternyata lebih abadi, terbukti kaisar sesudahnya, baik dari Dinasti Han maupun dinasti sesudahnya, tetap menggunakan Kalender Xia. Jadi walaupun kaisar berganti kaisar, dinasti berganti dinasti, tidak terjadi lagi pergantian penanggalan. Semuanya menggunakan kalender peninggalan Dinasti Xia, dengan awal tahun yang mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kong Zi. Tidak sampai di situ saja, pada masa Dinasti Han, agama Khong Hu Cu pun kemudian ditetapkan sebagai agama negara, bahkan sampai Dinasti Qing. Ajaran Nabi Kong Zi juga menjadi pedoman utama bagi mereka yang ingin meraih gelar pendidikan tinggi.

Penanggalan Imlek cocok digunakan sebagai pedoman masyarakat yang mayoritas hidup dari pertanian, sehingga sering disebut 農曆 Nong Li (Kalender Petani).  Banyak juga yang menyebut Kalender Kong Zi {Khong Cu Lek}, sehingga tahun barunya disebut Tahun Baru Khong Zi. Sebutan ini lazim digunakan di kalangan umat agama Khong Hu Cu di Indonesia, maupun di beberapa negara yang masyarakatnya banyak menganut agama Khong Hu Cu.

Walaupun demikian, Perayaan Sin Cia bukan hanya perayaan umat Khong Hu Cu saja. Pada kenyataannya, Perayaan Sin Cia terutama diperingati juga oleh penganut agama Buddha & Taoisme, dan juga orang Tionghoa di seluruh dunia. Selain itu, pada Cia Gwe Ce It (tanggal 1 bulan 1 Imlek) ini umat Buddha juga memperingati hari lahirnya 彌勒古佛 Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}.

O

—oooOOOooo—

O

Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta

Maitreya

Maitreya