<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buddhist Temple Jin De Yuan - Jakarta &#187; dewa</title>
	<atom:link href="http://jindeyuan.org/tag/dewa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jindeyuan.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 06:05:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kong Tek Cun Ong &#8211; Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa</title>
		<link>http://jindeyuan.org/kong-tek-cun-ong-dewa-pelindung-masyarakat-lam-wa/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/kong-tek-cun-ong-dewa-pelindung-masyarakat-lam-wa/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Sep 2010 05:26:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[dewa]]></category>
		<category><![CDATA[lam wa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa
廣澤尊王Guang Ze Zun Wang {Kong Tek Cun Ong} adalah Dewa Pelindung Masyarakat Nan An {Hok Kian = Lam Wa}, karena beliau berasal dari kota 泉州 Qian Zhou, Kabupaten 南安 Nan An, Propinsi 福建 Fu Jian {Hok Kian. Kong Tek Cun Ong disebut juga保安尊王 Bao An Zun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa</strong></p>
<p>廣澤尊王<strong><em>Guang Ze Zun Wang</em></strong> {Kong Tek Cun Ong} adalah Dewa Pelindung Masyarakat <em>Nan An </em>{Hok Kian =<em> Lam Wa</em>}, karena beliau berasal dari kota 泉州 Qian Zhou, Kabupaten 南安 Nan An, Propinsi 福建 Fu Jian {Hok Kian. <strong>Kong Tek Cun Ong</strong> disebut juga保安尊王 <strong><em>Bao An Zun Wang</em></strong><em> </em>{<em>Po An Cun Ong</em>} dan secara umum disebut郭聖王 <strong><em>Guo Sheng Wang</em></strong><em> </em>{<em>Kwee Seng Ong</em>}, karena berasal dari keluarga Kwee.{Guo}. Beliau bernama asli <em>Kwee Ang Hok </em>{<em>Guo Hong Fu</em>}.</p>
<p>Menurut cerita yang banyak beredar, Kwee Ang Hok pada masa kecil bekerja sebagai gembala pada seorang tuan tanah yang amat kikir. Ia hidup bersama ibunya yang sudah tua. Berkat bimbingan ibunya, Kwee Ang Hok menjadi seorang anak yang berbudi luhur dan rajin bekerja. Pagi-pagi ia telah bangun dan dengan riang gembira pergi mengembala ternak yang dipercayakan kepadanya.</p>
<p>Pada suatu hari sang hartawan mengundang seorang ahli <em>Hong Sui</em> untuk memperbaiki makam leluhurnya. Selama tinggal di rumah hartawan ia berkenalan dengan Kwee Ang Hok dan amat tertarik pada pribadi anak gembala tersebut. Mereka menjadi sahabat baik meskipun usia mereka berbeda jauh. Karena kekikiran sang hartawan, sering kali ahli <em>Hong Sui</em> ini hanya diberi makan nasi dan lauk seadanya saja. Kwee Ang Hok amat iba kepada orangtua ini, dengan rela ia menyisihkan jatah nasinya untuk sahabatnya itu. Ahli <em>Hong Sui </em>ini amat berterima kasih atas kebaikan Kwee Ang Hok.</p>
<p>Untuk membalas budi Ang Hok, ia memberikan petunjuk agar memindahkan makam ayahnya ke suatu tempat yang menurut <em>Hong Sui</em> bagus, agar kelak hidupnya bahagia. Atas persetujuan ibunya ia mengikuti petunjuk sang ahli <em>Hong Sui</em>. Kwee Ang Hok menggali makam ayahnya &amp; mencuci tulangnya sampai bersih, lalu membungkusnya dengan kain &amp; dimasukkan ke dalam periuk tanah liat.</p>
<p>Si ahli <em>Hong Sui</em> berpesan : “Mulai sekarang, kau harus menggembalakan ternakmu di sekitar tempat ini, sampai ada seorang pria bertudung besi menuntun kerbau dengan seorang anak lelaki yang berjalan di bawah perut kerbau lewat di situ. Tempat di mana pertama kali kau melihat mereka, di situlah letak <em>Hong Sui </em>terbaik untuk menguburkan tulang-tulang ayahmu.”</p>
<p>Demikianlah, Kwee Ang Hok menunggu dengan sabar. Sambil menggembala, periuk tanah yang berisi tulang-belulang ayahnya tak pernah lepas dari gendongannya.</p>
<p>Suatu siang yang cerah mendadak berubah menjadi gelap dengan petir yang menyambar-nyambar dan hujan turun dengan lebatnya. Kwee Ang Hok tak sempat menggiring pulang ternaknya, sehingga terpaksa berteduh di bawah sebuah pohon besar. Saat ia berteduh, dari arah tikungan muncul seorang lelaki menuntun kerbau dengan terburu-buru. Ia menggunakan wajan besi untuk melindungi kepalanya dari hujan, dan anaknya yang masih kecil berlindung di bawah perut kerbaunya.</p>
<p>Kwee Ang Hok tertegun melihat hal tersebut. Segera ia sadar akan pesan ahli <em>Hong Sui</em>. Tanpa mempedulikan hujan yang masih turun dengan lebatnya, ia segera menggali tempat di mana ia pertama kali melihat mereka dan menanamkan periuk berisi tulang ayahnya di situ. Aneh, begitu periuk dimasukkan ke dalamnya, lubang itu segera menutup dengan sendirinya. Dengan gembira Ang Hok menggiring ternaknya pulang.</p>
<p>Waktu terus berlalu. Pada suatu hari, desa di mana Kwee Ang Hok tinggal, diserbu kawanan perampok yang ganas. Sasaran utama kawanan perampok itu adalah tempat hartawan kikir di mana Ang Hok bekerja. Mereka merampok harta benda dan membakar rumahnya. Karena khawatir akan kobaran api yang mulai menjalar ke tempat tinggalnya, Kwee Ang Hok meloncat keluar dari jendela. Anehnya, begitu melihat Ang Hok, kawanan perampok segera lari kalang kabut. Api besar yang dilewati Ang Hok pun mengecil dan padam seperti diguyur air. Ang Hok tak menyadari hal tersebut, namun warga kampung yang menyaksikan peristiwa ajaib itu terpana keheranan. Sejak peristiwa tersebut semua orang menaruh hormat kepadanya, terlebih sang hartawan kikir. Kwee Ang Hok tidak diperkenankan menggembala lagi, sebaliknya diberi tunjangan hidup agar dapat hidup layak bersama ibunya.</p>
<p>Setelah dewasa, pada suatu hari Ang Hok mendapat bisikan bahwa ia akan menerima anugerah Tuhan untuk menjadi orang suci. Ia menceritakan hal tersebut kepada ibunya. Lalu ia mandi, keramas &amp; bersemedi dalam kamar sepanjang hari. Menjelang senja, sang ibu yang melihat putranya sejak pagi tidak keluar dari kamar, lalu mendorong pintu kamar tempat putranya bersemedi. Alangkah kagetnya ia ketika menyaksikan tubuh Kwee Ang Hok bersama kursinya terapung di udara dalam keadaan bersemedi. Tanpa pikir panjang, segera ia menarik kaki putranya ke bawah, tapi terasa kaki putranya telah dingin &amp; kaku. Ia baru menyadari bahwa putranya telah meninggal dunia. Sejak itu penduduk kampung menghormati dan memuja Kwee Ang Hok sebagai orang suci, dan mendirikan kelenteng untuknya.</p>
<p>Belakangan, karena Kwee Ang Hok sering muncul dan memberikan pertolongan jika terjadi bencana alam, maka penduduk memberinya gelar <strong>Kong Tek Cun Ong</strong> yang berarti <em>Raja Mulia yang memberi berkah berlimpah.</em> Atau secara singkat disebut <strong>Kwee Seng Ong.</strong></p>
<p><strong> </strong>Kong Tek Cun Ong ditampilkan sebagai seorang pemuda memakai baju kebesaran dengan kaki yang satu bersila dan yang lain terjulur ke bawah, seperti waktu ia ditarik oleh ibunya. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 22 bulan 8 Imlek {<em>Peh Gwe Ji Cap Ji</em>}, dan wafat pada tanggal 22 bulan 2 Imlek {<em>Ji Gwe Ji Cap Ji</em>}.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_324" class="wp-caption aligncenter" style="width: 336px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/09/KongTekCunOng_02.jpg"><img class="size-full wp-image-324" title="Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/09/KongTekCunOng_02.jpg" alt="Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa" width="326" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Kong Tek Cun Ong – Dewa Pelindung Masyarakat Lam Wa</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/kong-tek-cun-ong-dewa-pelindung-masyarakat-lam-wa/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Can Khui Co Su &#8211; Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</title>
		<link>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 06:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[dewa]]></category>
		<category><![CDATA[hakka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka
Dalam Kitab Suci Buddha ada tertulis : Perbedaan terbesar antara manusia dengan hewan adalah karena manusia memiliki rasa malu. Malu di sini berarti malu berbuat kejahatan, malu berbuat dosa. Seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, semasa masih hidup banyak berbuat amal kebajikan, maka setelah meninggal dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</strong></p>
<p>Dalam Kitab Suci Buddha ada tertulis : Perbedaan terbesar antara manusia dengan hewan adalah karena manusia memiliki rasa malu. Malu di sini berarti malu berbuat kejahatan, malu berbuat dosa. Seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, semasa masih hidup banyak berbuat amal kebajikan, maka setelah meninggal dunia ia dapat menjadi dewa. Dalam bahasa Mandarin, <strong><em>Can Kui</em></strong> berarti rasa malu. Disebut <strong><em>Can Kui Zu Shi</em></strong>, bukan karena beliau malu telah berbuat kejahatan, melainkan beliau merasa malu karena diri sendiri merasa kebajikan yang telah dilakukan masih belum cukup.</p>
<p>慚愧祖師 <strong><em>Can Kui Zu Shi</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Can Khui Co Su</em></strong>} adalah Dewa Pelindung yang dipuja oleh masyarakat keturunan Hakka. Nama asli Can Kui Zu Shi adalah <strong><em>Pan Liao Quan</em></strong>. Beliau adalah seorang Bikkhu yang berasal dari Yan Ping, propinsi Fu Jian.</p>
<p>Konon, pada waktu dilahirkan, ia tak dapat membuka sebelah tangannya. Ketika seorang Bikkhu menuliskan sebuah huruf <strong><em>Liao </em></strong>di punggung tangan yang terkatup itu, barulah tangannya berhasil dibuka. Karena itu ia diberi nama <strong><em>Liao Qian </em></strong>yang berarti “Tinju Ulung”.</p>
<p>Pada waktu kecil beliau hidup sebagai pengembala ternak. Untuk menjaga agar ternaknya tidak pergi ke tempat yang jauh, ia menggambar lingkaran di tanah sekeliling rombongan sapinya. Anehnya, ternyata tidak ada seekor sapipun yang keluar dari lingkaran tersebut.</p>
<p>Pan Liao Quan menjadi Bikkhu di bukit Yun Nan Shan, Kabupaten Mei Xian, propinsi Guang Dong. Di sana ia mendirikan kelenteng yang terkenal sampai sekarang, 靈光寺 <strong><em>Ling Guang Si</em></strong> yang merupakan salah satu kelenteng tertua di daerah tersebut.</p>
<p>Satu keanehan yang menakjubkan orang hingga kini adalah sampai sekarang di depan kelenteng tersebut terdapat sepasang pohon cemara (siong); yang satu masih hidup dan segar sedangkan yang ke dua sudah mati dan kering. Namun tinggi dari ke dua pohon tersebut selalu sama tinggi. Pohon yang hidup tidak pernah lebih tinggi daripada pohon yang mati. Selain itu kelenteng Ling Guang Si meskipun dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi &amp; lebat, tidak selembar daunpun yang pernah terlihat jatuh mengotori atap kelenteng Ling Guang Si, &amp; tidak tampak seekor burung pun yang bersarang di atapnya. Keanehan ini menjadikan Ling Guang Si menjadi obyek wisata yang sangat penting di daerah tersebut.</p>
<p>Pemujaan Can Khui Co Su dibawa oleh para imigran Hakka sampai ke Taiwan &amp; Asia Tenggara. Di Taiwan terdapat lebih dari 20 kelenteng Can Khui Co Su, sebagian besar terdapat di Nan Tou. Di Indonesia, selain di Kelenteng Kim Tek Ie ini, pemujaan kepada Can Khui Co Su juga terdapat di Kelenteng Ling Guang Si, Jakarta.</p>
<p>Hari kelahiran Can Khui Co Su diperingati setiap tanggal 25 bulan 3 penanggalan Imlek. Menurut catatan, beliau wafat pada tahun 861 M.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_237" class="wp-caption aligncenter" style="width: 331px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/cankhuicosu02.jpg"><img class="size-full wp-image-237" title="Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/cankhuicosu02.jpg" alt="Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka" width="321" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Can Khui Co Su – Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

