Introduction

Kuil atau kelenteng ini mengikuti Budhis Mahayana sehingga tidak heran bila terdapat berbagai Dewata, baik dari golongan Taois, Confucianis maupun Budhis sendiri.


Nama kuil ini 金德院, diucapkan Jin De Yuan dalam dialek resmi Mandarin dan diucapkan Kim Tek Ie dalam dialek suku Hok Kian, yang berarti Kelenteng Kebajikan Emas. Dahulu di kuil ini pernah tinggal 18 orang Bhiksu yang berasal dari Biara Cu Siu Sian Sie, provinsi Hok Kian, Tiongkok Selatan. Huruf Kim Tek Ie yang tertera pada papan utama (1936) kuil ditulis oleh Bhiksu Biauw Gie, ketua kuil Kim Tek Ie pada waktu itu. Begitu pula syair berpasangan yang tertera di kiri-kanan pintu utama dengan kata2 sebagai berikut:

  • Kim Teng Kiat Siang In, Pian Khay Hoat Kay
    (Pedupaan Emas membentuk Awan Kebahagiaan, semua tempat terbuka demikian pula Alam Dharma).

  • Tek Bun Theng Sui Khi, Kong Pho Jin Khan
    (Gerbang Kebajikan menampakkan atmosfir Kejayaan, menyebar luas di alam semesta).


Percaya dan hormat akan adanya Tuhan Yang Maha Esa telah ada sejak dahulu kala. Bahkan kepercayaan semacam ini sudah ada sejak 5000-an tahun yang silam pada zaman Ngo Te (Lima Kaisar Purba, tahun 2952-2205 SM).


Seorang umat sebelum bersembahyang kepada para Dewata terlebih dahulu senantiasa berdoa kepada Sang Pencipta Alam Semesta (Thi Kong). Caranya dengan menengadah menghadap ke atas (Langit) yang kosong sebagai arah/kiblat, Sangkan Paraning Dumadi. Dimanapun tempatnya tak terbatas oleh ruang dan waktu, seorang umat dapat berdoa kepada Tuhan dengan menghadap ke Langit. Bahwasanya bersembahyang di kuil itu termasuk agama yang monotheis, karena mengakui adanya Tuhan Yang Esa. Sedangkan para Dewata disini adalah sebagai para wakil Tuhan di dunia yang mendengarkan segala doa dari umat-Nya.


Selanjutnya anda dapat menyimak lebih mendalam penjelasan masing2 Dewata yang dipuja di kelenteng ini.

 

papan_nama_utama1.JPG (18969 bytes)


pintu_utama.JPG (24280 bytes)


front_courtyard3.jpg (24672 bytes)

Comments are closed.