Hari Raya Ulambana – Cioko
Vihara-vihara / Kelenteng-Kelenteng setiap tahun pada bulan 7 tanggal 15 (Cit Gwe Cap Go) penanggalan Imlek, ada memperingati 中元節 Zhong Yuan Jie {Tiong Gwan Ciap} Hari Raya Ulambana. Orang-orang pada umumnya mengenalnya dengan nama Sembahyang Rebutan (Cioko). Pada tahun ini Sembahyang Cioko diadakan pada Selasa, 24 Agustus 2010.
Perayaan Ulambana ini disebut juga sebagai Hari Raya Setan (Ghost Festival). Namun tahukah kita, sebenarnya Upacara Ulambana ini mengandung makna yang amat mendalam ?
Ada sebuah Kitab Suci Budhis yang berjudul 盂蘭盆經 Yi Lan Pen Jing, di dalam Kitab tersebut ada tercatat sebuah peristiwa :
Pada suatu hari 幕連尊者 Maha Moggalana, salah seorang siswa utama 釋迦牟尼佛 Sang Buddha Sakyamuni, teringat akan ibundanya yang telah meninggal dunia. Berkat kesaktiannya, Maha Moggalana dapat melihat bahwa ibundanya tumimbal lahir di alam Neraka Avicci, sebagai akibat akusala karma (karma buruk) yang telah dilakukannya semasa ia masih hidup.
Sebagai seorang anak yang berbakti & sangat menyayangi orangtuanya, Maha Moggalana merasa berkewajiban untuk menolong ibundanya yang sedang menderita. Dia berusaha memberikan makanan & minuman kepada ibundanya. Tetapi segala makanan & minuman tersebut seketika berubah menjadi bara api begitu disentuh & dimakan oleh ibundanya. Maha Moggalana mengerahkan seluruh kemampuan & kesaktiannya, namun semua usahanya itu sia-sia belaka.
Merasa tak berdaya, Maha Moggalana kembali ke dunia manusia. Kemudian dengan penuh sujud ia memohon petunjuk gurunya, Buddha Sakyamuni, untuk menolong ibundanya agar terbebas dari penderitaan di alam Neraka Avicci.
Melihat usaha Maha Moggalana yang bersungguh hati ingin berbakti & membalas budi orang tuanya, maka dengan penuh Maha Maitri Karuna (Welas Asih) & Maha Prajna (Bijaksana), Buddha Sakyamuni memberikan petunjuk kepada siswanya agar ia memberikan dana paramita kepada Para Arya Sangha & setelah itu memohon Arya Sangha mengadakan suatu upacara guna menolong meringankan penderitaan ibundanya.
Maha Moggalana merasa amat gembira & dengan penuh rasa bakti segera melaksanakan petunjuk Gurunya. Ia mempersembahkan dana paramita dari hasil Pindapatta-nya kepada para Sangha, & kemudian memohon para Arya Sangha mengadakan suatu upacara penyaluran jasa untuk menolong ibundanya.
Setelah menerima dana paramita dari Arahat Moggalana, para Arya Sangha kemudian mengadakan upacara dengan membaca mantra, dharani & ayat-ayat kitab suci, yang mana semua jasa & pahala dari upacara ini disalurkan kepada ibunda Arahat Moggalana & juga kepada makhluk-makhluk lain di 3 alam sengsara.
Sewaktu upacara dilaksanakan, terjadilah berbagai keajaiban: api Neraka menjadi padam, segala penderitaan berubah menjadi kegembiraan & kedamaian, makhluk-makhluk di alam Neraka setelah menerima getaran suci hasil pembacaan dharani tersebut, terbebaslah mereka dari penderitaannya.
Ibunda Maha Moggalana segera tertolong & tumimbal lahir di alam yang lebih baik, begitu pula makhluk-makhluk di 3 alam sengsara lainnya, ikut menikmati hasil jasa & pahala dari diadakannya upacara ini, sehingga merekapun dapat tumimbal lahir ke alam lain sesuai dengan kondisi karmanya.
Semua makhluk turut bersuka cita atas peristiwa ini. Hyang Buddha Sakyamuni menamakan upacara ini dengan nama Upacara Ulambana, yaitu suatu upacara untuk menolong makhluk-makhluk yang karena karma buruknya tumimbal lahir & menderita di 3 alam sengsara. Selanjutnya upacara ini dilakukan setiap tahun (pada bulan 7 Imlek) sampai sekarang. Demikianlah asal mula diadakannya Upacara Ulambana.
O
—oooOOOooo—
O
Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta
