<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buddhist Temple Jin De Yuan - Jakarta</title>
	<atom:link href="http://jindeyuan.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jindeyuan.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 07:39:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co</title>
		<link>http://jindeyuan.org/286/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/286/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 07:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Sejit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[* PENGUMUMAN *
Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co
Tanggal         : 30 Juli 2010
H a r i             : Jumat
Imlek             : 2561 Lak Gwe 19
Untuk memperingati HUT tersebut, &#38; untuk memudahkan umat yang akan bersembahyang, Kim Tek Ie pada hari Kamis, 29 Juli 2010 ( Imlek : 2561 Lak Gwe 18 ) tetap buka terus sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>* PENGUMUMAN *</strong></p>
<p><strong>Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co</strong></p>
<p>Tanggal         : 30 Juli 2010</p>
<p>H a r i             : Jumat</p>
<p>Imlek             : 2561 Lak Gwe 19</p>
<p>Untuk memperingati HUT tersebut, &amp; untuk memudahkan umat yang akan bersembahyang, Kim Tek Ie pada hari Kamis, 29 Juli 2010 ( Imlek : 2561 Lak Gwe 18 ) tetap buka terus sampai keesokan harinya (buka 24 jam).</p>
<p>Kim Tek Ie yang pada hari biasa tutup pk. 19.00, khusus pada hari Rabu, 28 Juli 2010 tutup lebih awal yaitu pk. 17.00 WIB, karena akan diadakan pembersihan Wihara.</p>
<div id="attachment_287" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/07/SeJit-100730-A.jpg"><img class="size-full wp-image-287 " title="Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/07/SeJit-100730-A.jpg" alt="Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co" width="512" height="334" /></a><p class="wp-caption-text">Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/286/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kwan Im Hut Co &#8211; Dewi Welas Asih</title>
		<link>http://jindeyuan.org/kwan-im-hut-co-dewi-welas-asih-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/kwan-im-hut-co-dewi-welas-asih-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 13:59:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Avalokitesvara]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[Goddess of Mercy]]></category>
		<category><![CDATA[Kwan Im]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Kwan Im Hut Co – Dewi Welas Asih
 觀音佛祖 Guan Yin Fo Zhu {Hok Kian = Kwan Im Hut Co } secara umum disebut Guan Yin. Sebutan akrabnya adalah Dewi Kwan Im atau Ma Kwan Im / Kwan Im Ma 觀音媽. Dalam bahasa Sansekerta disebut Buddha Avalokitesvara. Mengapa banyak orang yang menyebut Goan Shi Yin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Kwan Im Hut Co – Dewi Welas Asih</span></strong></p>
<p><strong> </strong><strong>觀音佛祖 <em>Guan Yin Fo Zhu</em></strong> {Hok Kian = <em>Kwan Im Hut Co </em>} secara umum disebut Guan Yin. Sebutan akrabnya adalah Dewi Kwan Im atau Ma Kwan Im / Kwan Im Ma 觀音媽. Dalam bahasa Sansekerta disebut Buddha Avalokitesvara. Mengapa banyak orang yang menyebut <em>Goan Shi Yin Pu Sa </em>觀世音菩薩 {Hok Kian = <em>Kwan Si Im Pho Sat </em>} ?  Ini karena ikrar beliau yang amat welas asih yaitu : tidak akan menjadi Buddha sebelum semua manusia terselamatkan. Namun sebenarnya beliau telah menjadi Buddha dan bergelar南海古佛 <strong><em>Nan Hai Gu Fo</em></strong><em> </em>{<strong><em>Lam Hai Ko Hut</em></strong><em> </em>= Buddha Laut Selatan}. Maka kita menyebutnya <strong><em>Kwan Im Hut Co</em></strong>.</p>
<p>Jauh sebelum agama Buddha disebarkan dari India ke Tiongkok, di Tiongkok Kuno sudah ada kepercayaan kepada seorang Dewi yang welas asih dengan penampilan memakai jubah putih. Pada akhir Dinasti Han (25 – 228 M), agama Buddha masuk ke Tiongkok dan mendapat tempat di hati masyarakat. Kisah Putri Miao Shan (Biao Sian) dalam kisah 南海觀音傳團 <strong><em>Nan Hai Guan Yin Zhuan Tuan {Lam Hai Kwan Im Coan</em></strong><em> <strong>Thoan</strong></em>} amat dikenal dalam Buddhisme Tiongkok, dan telah menyatu dalam sanubari orang-orang Tionghoa.</p>
<p>Demikianlah seorang Dewi Welas Asih yang Asli Tiongkok 白衣大士 <strong><em>Bai Yi Da Shi</em></strong> <strong><em>{Pek Ie Tai Su}</em></strong> menyatu dengan Avalokitesvara, jadilah <strong>Dewata Buddhis Khas Tiongkok</strong>, bahkan ciri-ciri ke-India-annya hilang sama sekali. Kisah Putri Miao Shan yang amat berbakti kepada orangtua merupakan cerminan dari kisah Sang Buddha Gautama, di mana beliau meninggalkan keduniawian menjadi pertapa dan sempurna di Gunung <em>Pu To Shan.</em></p>
<p>Figure Kwan Im yang dekat dengan segala lapisan masyarakat membuatnya amat termashur bahkan melebihi Sang Buddha Gautama sendiri. Dalam perujudannya sebagai 千手觀音 <strong><em>Qian Shou Guan Yin {Chien Chiu Kwan Im</em></strong> = Kwan Im Tangan Seribu} beliau secara Esotoris seolah-olah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.</p>
<p>Kwan Im Hut Co dikenal luas sebagai <strong>Dewi Welas Asih</strong>, yang dipuja tidak hanya di kalangan Buddhis saja, tapi juga di kalangan Tao dan semua lapisan masyarakat awam di pelbagai negara terutama di benua Asia. Coba kita perhatikan, di setiap kelenteng atau wihara, siapapun yang menjadi “<em>Tuan Rumah”</em>–nya [misalnya Hian Than Kong 玄壇公, Te Cong Ong 地藏王, Ma Co 媽祖, Kwan Kong 關公 , Ceng Guan Ceng Kun 清元真君, dll] pasti ada sebuah altar khusus untuk menghormati Kwan Im Hut Co ! Bahkan banyak umat yang sembahyang &amp; menaruh altar Kwan Im di rumahnya. Mengapa bisa demikian ? Ini karena Maha Welas Asih (大慈大悲) beliau. Maka beliau disebut Guan Shi Yin. Bahkan Dunia Barat pun mengenalnya sebagai <strong>Goddess Of Mercy</strong><em> </em>!!!</p>
<p>Guan Shi Yin adalah terjemahan harfiah dari bahasa Sansekerta <em>Avalokitesvara</em>, yang mengandung arti sebagai berikut :</p>
<p>觀 <strong>Guan </strong>= melihat, memandang</p>
<p>世 <strong>Shi</strong> = dunia (alam fana yang penuh dengan penderitaan)</p>
<p>音 <strong>Yin</strong> = suara (jeritan penderitaan dari makhluk hidup)</p>
<p>Guan Yin adalah Buddha yang melambangkan hati yang welas asih dan penyayang, yang tertanam dalam relung hati tiap pemujanya. Mereka percaya bahwa Guan Yin dapat mendengarkan keluh-kesah mereka yang menderita dan datang menolong, dalam wujud yang berbeda-beda, baik pria maupun wanita.</p>
<p>Di kalangan rakyat, Kwan Im Hut Co dianggap penolong bagi orang yang sedang dalam kesengsaraan dan penderitaan. Beliau juga dianggap penolong roh-roh yang mengalami penderitaan di neraka, oleh karena itu beliau ditampilkan dalam sembahyang memberi makan roh-roh kelaparan yang diadakan pada bulan 7 Imlek, dengan nama普渡公 <strong><em>Pu Du Gong</em></strong> {<strong><em>Pho To Kong = </em></strong>Tuan Yang Menolong Penyeberangan}.</p>
<p><strong>Perwujudan Kwan Im</strong></p>
<p>Di dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra 妙法蓮花經 <strong><em>Miao Fa Lian Hua Jing {Biauw Hoat Lien Hwa Keng</em></strong>} disebutkan ada 33 perwujudan atau penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani /大悲咒 <strong><em>Da Bei Zhou {Tay Pi Ciu}</em></strong>，ada 84 rupa yang berbeda sebagai pengejawantahan Kwan Im sebagai Bodhisatva yang memiliki kekuasaan besar. Pendampingnya yang setia adalah <em>Kim Tong</em> 金童 (Jejaka Emas) dan <em>Giok Li</em> 玉女 (Gadis Kumala), atau yang sering disebut <em>Sian</em><em> Cay</em> &amp; <em>Liong Ni</em>.</p>
<p>Altar utama di kelenteng 普陀山 <strong><em>Phu Tho San </em>(<em>Pho Jee Sie</em>)</strong> dipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perujudannya sebagai Buddha Vairocana, dan di sisi kiri/kanan berderet masing-masing ke-16 perujudan Beliau lainnya. Total di kiri dan kanan berikut di altar utama Phu Tho San ada 33 macam perwujudan yang mengesankan dan amat berwibawa.</p>
<p>Di negeri-negeri lain yang menganut agama Buddha seperti India, Thailand, Vietnam dan Kamboja, Kwan Im Hut Co biasanya ditampilkan sebagai pria. Hanya di Tiongkok saja Kwan Im Hut Co diujudkan sebagai wanita dengan berbagai penampilan antara lain :</p>
<ol>
<li>Kwan Im membawa Sutra memberi      pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia.</li>
<li>Kwan Im dengan hutan bambu      ungu.</li>
<li>Kwan Im menyeberangi lautan.      Konon Kwan Im dari India      menyeberangi lautan sampai di Phu Tho San, propinsi Zhe Jiang.</li>
<li>Kwan Im bertangan seribu.      Perujudan ini mengandung makna bahwa Kwan Im tahu segala hal dan mampu      melakukan segala hal.</li>
<li>Kwan Im dengan keranjang isi      ikan. Mengandung arti menyayangi mahluk hidup, sebab ikan itu akan      dilepaskan kembali ke laut.</li>
<li>Kwan Im berbaju putih.      Maksudnya putih bersih tanpa dosa seperti halnya Maria dalam agama      Katolik.</li>
<li>Kwan Im dengan 8 (delapan)      rintangan. Ini melambangkan Kwan Im dapat mengatasi berbagai kesukaran      agar dapat dengan tenang menerima ajaran Buddha.</li>
<li>Kwan Im membawa anak.      Merupakan pemujaan bagi orangtua yang ingin memperoleh anak.</li>
<li>Kwan Im membawa botol air      suci. Biasanya ditemani oleh sang bocah suci, San Chai, dan burung      kakatua.</li>
<li>Kwan Im naik gelombang atau      di atas sebuah batu karang, yang melambangkan keteguhan hatinya untuk      menempuh berbagai kesukaran dalam menolong manusia.</li>
</ol>
<p>Ke-10 perujudan di atas adalah yang paling terkenal dari 33 bentuk perujudan Kwan Im, dalam menolong umatnya yang membutuhkan.</p>
<p><strong> </strong>Perwujudan beliau di altar utama <em>Kim Tek Ie </em>adalah sebagai <strong><em>King Cee Kwan Im</em></strong> (Kwan Im membawa Sutra memberi pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia). Di samping itu terdapat wujud Kwan Im Hut Co dalam千手觀音 <strong><em>Chien Chiu Kwan Im</em></strong> (Kwan Im bertangan seribu) sebagai perujudan Beliau yang senantiasa bersedia mengabulkan permohonan yang tulus dari umat-Nya.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_283" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/07/KwanIm06.jpg"><img class="size-full wp-image-283" title="Kwan Im Hut Co – Dewi Welas Asih" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/07/KwanIm06.jpg" alt="Kwan Im Hut Co – Dewi Welas Asih" width="470" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Kwan Im Hut Co – Dewi Welas Asih</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/kwan-im-hut-co-dewi-welas-asih-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wi To Pho Sat &#8211; Bodhisatva Pelindung Kelenteng</title>
		<link>http://jindeyuan.org/wi-to-pho-sat-bodhisatva-pelindung-kelenteng-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/wi-to-pho-sat-bodhisatva-pelindung-kelenteng-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 13:38:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[Pelindung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Wi To Pho Sat – Bodhisatva Pelindung Kelenteng
韋陀菩薩 Wei Tuo Pu Sa {Hok Kian = Wi To Pho Sat} bergelar Hu Fa Pu Sa, yaitu Bodhisatva Pelindung Dharma. Wi To Pho Sat disebut juga 韋陀天 Wei Tuo Tian, adalah Bodhisatva Pelindung Wihara-Wihara, Kelenteng-kelenteng, dan bangunan-bangunan suci. Beliau juga adalah Pelindung Kitab Suci Buddha.
Wi To Pho [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Wi To Pho Sat – Bodhisatva Pelindung Kelenteng</strong></p>
<p><strong>韋陀菩薩 <em>Wei Tuo</em> Pu Sa</strong> {Hok Kian = <strong>Wi To Pho Sat</strong>} bergelar <strong><em>Hu Fa Pu Sa</em></strong><em>, </em>yaitu Bodhisatva Pelindung Dharma. Wi To Pho Sat disebut juga 韋陀天<strong> <em>Wei Tuo Tian, </em></strong>adalah<em> </em>Bodhisatva Pelindung Wihara-Wihara, Kelenteng-kelenteng, dan bangunan-bangunan suci. Beliau juga adalah Pelindung Kitab Suci Buddha.</p>
<p>Wi To Pho Sat berasal dari Dewa agama Brahmana di India. Menurut legenda, Wi To Pho Sat memiliki 6 kepala &amp; 12 lengan. Beliau menunggang burung merak dengan tangan memegang busur &amp; anak panah. Setelah Wi To diserap (diterima masuk) agama Buddha, beliau menjadi Bodhisatva Pelindung Kelenteng/Wihara &amp; menjadi salah satu dari 8 Jendral Langit bagian Selatan.  四大天王 <strong><em>Si Da Tian Wang</em></strong><em> </em>(4 Raja Langit) masing-masing memiliki 8 Jendral Langit, sehingga seluruhnya ada 32 Jendral Langit. Wi To Pho Sat adalah pemimpin dari 32 Jendral Langit tersebut.</p>
<p>Sebagai Penjaga Dharma, biasanya <em>Kim Sin </em>(arca) beliau ditempatkan di ruang utama sebuah kelenteng, beradu punggung dengan 彌勒古佛 <strong><em>Mi Le Gu Fo</em></strong><em> </em>{<em>Bi Lek Ko Hud = </em>Buddha Maitreya}. Pratima beliau digambarkan dengan pakaian perang lengkap dan tangannya membawa <em>Hang Mo Pian </em>(Ruyung Penakluk Iblis).</p>
<p>Menurut buku Buddhis, Wei Tuo adalah putra seorang <em>Tian Wang </em>(Raja Langit) yang karena kebajikannya, Buddha Sakyamuni mengangkat Wei Tuo sebagai Pelindung Buddha Dharma ketika menaiki Nirwana. Oleh karena itu beliau bertugas melindungi Dharma Sang Buddha, melindungi anggota Sangha dari gangguan Mara, dan mendamaikan apabila terjadi perselisihan antar sekte. Apabila seorang Sangha (Mahayana) melanggar Vinaya (Peraturan Kebhiksuan), maka ia dihadapkan kepada <em>Wei Tuo Pu Sa </em>untuk Pertobatan.</p>
<p>Wi To Pho Sat<em> </em>kadang kala ditampilkan sebagai 門神 <strong><em>Men Shen</em></strong><em> </em>{<em>Mui Sin</em> = Malaikat Pintu) yang menjaga kelenteng-kelenteng bersama-sama dengan 迦闌菩薩 <strong><em>Jia Lan Pu Sa</em></strong><em> {Ka Lan Pho Sat = </em>Bodhisatva Pelindung Bangunan-bangunan Suci}.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<div id="attachment_278" class="wp-caption aligncenter" style="width: 369px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/07/WiTo_02.jpg"><img class="size-full wp-image-278" title="Wi To Pho Sat - Bodhisatva the Protector of Temples" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/07/WiTo_02.jpg" alt="Wi To Pho Sat - Bodhisatva the Protector of Temples" width="359" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Wi To Pho Sat - Bodhisatva the Protector of Temples</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/wi-to-pho-sat-bodhisatva-pelindung-kelenteng-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seng Hong Ya &#8211; Dewa Pelindung Kota</title>
		<link>http://jindeyuan.org/seng-hong-ya-dewa-pelindung-kota-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/seng-hong-ya-dewa-pelindung-kota-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 03:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Delapan Dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Seng Hong Ya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Seng Hong Ya – Dewa Pelindung Kota
Di dalam hati rakyat banyak, Seng Hong Ya adalah pejabat pengadilan di akhirat (alam baka), yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia, sehingga Seng Hong Ya sangat dihormati di kalangan rakyat jelata. Kepercayaan kepada Seng Hong Ya berasal dari pemujaan terhadap terhadap 水庸神 Shui Yong Shen (Dewa Pengawas Saluran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Seng Hong Ya – Dewa Pelindung Kota</span></strong></p>
<p>Di dalam hati rakyat banyak, Seng Hong Ya adalah pejabat pengadilan di akhirat (alam baka), yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia, sehingga Seng Hong Ya sangat dihormati di kalangan rakyat jelata. Kepercayaan kepada Seng Hong Ya berasal dari pemujaan terhadap terhadap 水庸神 <strong><em>Shui Yong Shen</em></strong> (Dewa Pengawas Saluran Air), yaitu salah satu dari <em>Ba Zha Shen</em> (Dewa Palawija yang terdiri dari 8 Dewata).</p>
<p>Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Seng Hong Ya adalah satu-satunya Dewa yang memiliki perbedaan tingkatan (kelas). Yang mengepalai seluruh negeri disebut 天下都城隍 <em>Tian Xia Dou Cheng Huang. </em>Yang mengurus sebuah propinsi disebut 都城隍 <em>Dou Cheng Huang. </em>Yang mengurus sebuah karesiden adalah 府城隍 <em>Fu Cheng Huang</em>.</p>
<p><strong>城隍爺</strong> <strong><em>Cheng Huang Ye</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Seng Hong Ya</em></strong>} adalah <strong>Dewa Pelindung Kota</strong>. Secara harfiah <em>Cheng Huang</em> berarti parit pelindung benteng kota ( 城 <em>Cheng</em> = tembok kota. 隍 <em>Huang </em>= parit yang kering di luar tembok kota ).</p>
<p>Upacara sembahyang untuk menghormati <em>Ba Zha Shen</em> dimulai oleh Kaisar 堯<em>Yao</em> [2357 SM – 2258 SM]. <em>Shui Yong Shen</em> sebagai salah satu dari <em>Ba Zha Shen</em> menduduki tempat penting di antara kedelapan dewa itu. Lama-kelamaan arti saluran air diperluas meliputi saluran atau parit pelindung benteng yang disebut Cheng Huang.</p>
<p>Pada zaman 三國 <em>San Guo</em> { Hok Kian = <em>Sam Kok </em>} [221 M – 265 M] di negeri <em>Wu</em> {Hok Kian = <em>Gouw </em>}, <em>Cheng Huang</em> mulai dihormati tersendiri, terlepas dari <em>Ba Zha Shen.</em> Pada tahun 239 M didirikan kelenteng 城隍廟 <strong><em>Cheng Huang Miao</em></strong><em> </em>{<strong><em>Seng Hong Bio</em></strong>}<em>, </em>yaitu<em> </em>Kelenteng <em>Seng Hong Ya</em> yang pertama.</p>
<p>Pada masa dinasti 唐 <em>Tang</em> [618 M – 907 M] di tiap ibukota propinsi mulai banyak didirikan kelenteng untuk menghormati Seng Hong. Sejak itu Seng Hong secara resmi menjadi Dewa Pelindung Kota, dengan panggilan yang umum <em>Cheng Huang Lao Ye {Seng Hong Lo Ya} </em>atau <em>Cheng Huang Ye {Seng Hong Ya}</em>.</p>
<p>Setelah 明太祖 <em>Ming Tai Zu</em> {<em>Beng Thai Cou</em>} – 朱元璋  Zhu Yuan Zhang Kaisar pertama Dinasti Ming berkuasa, dia lalu mengangkat <em>Cheng Huang </em>di ibukota Negara (waktu itu di Nan Jing) sebagai <em>Tian Xia Dou Cheng Huang</em> yang berarti Dewa Pelindung Ibukota Negara dengan gelar Ming Ling Wang. Lalu, semua <em>Cheng Huang </em>dari tiap ibukota propinsi diangkat sebagai <em>Du Cheng Huang </em>yang berarti Dewa Pelindung Ibukota. Kemudian <em>Cheng Huang </em>dari tiap ibukota karesidenan dianugerahi gelar <em>Wei Ling Gong</em>. Sedangkan pada tingkat kabupaten dianugerahi gelar <em>Ling Ying Hou </em>dan pada tingkat kecamatan diberi gelar <em>Xian You Bo. </em>Oleh karena ini Cheng Huang Ye menjadi memiliki corak kedaerahan yang khas.</p>
<p>Pada masa Kaisar Ming Tai Zu ini, kelenteng-kelenteng untuk menghormati Seng Hong Ya di Tiongkok, bentuknya menyerupai kantor pejabat pemerintah &amp; tingkat kepangkatannya pun mengikuti urutan kepangkatan pejabat pemerintah.</p>
<p>Pada masa Dinasti 清 Qing [ 1644 - 1911 ] setiap kantor pemerintah baik sipil maupun militer, diharuskan membangun sebuah kelenteng untuk memuja <em>Cheng Huang</em> di dekatnya, sebagai lambang <em>Yang</em> (pemerintahan yang nyata, kantor pemerintah) dan <em>Yin</em> (pemerintahan oleh roh, yang berwujud klenteng <em>Cheng Huang</em>). Para pejabat yang bertugas di situ diwajibkan bersembahyang setiap <em>Ce It &amp; Cap Go </em>(tgl 1 &amp; 15 penanggalan Imlek) di klenteng <em>Cheng Huang </em>tersebut, sebagai penghormatan kepada penguasa dari alam baka itu.</p>
<p>Rakyat banyak percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia, arwahnya akan dibawa ke hadapan Seng Hong Ya untuk diperiksa, lalu diputuskan akan masuk surga atau ke neraka. Seng Hong Ya memiliki banyak anak buah, di antaranya adalah 文武判官 <strong><em>Wen Wu Pan Guan</em></strong><em> {<strong>Bun Bu Pwan Kwan</strong>} </em>yaitu jaksa sipil &amp; militer<em>, </em>牛頭馬面<em> </em><strong><em>Niu Tou Ma Mian</em></strong><em> {<strong>Gu Thou Be Bin} </strong></em>yaitu Si Kepala Sapi &amp; Si Muka Kuda<em>, <strong>Qi Ye Ba Ye</strong> </em>atau disebut juga 大爺二爺 <strong><em>Da Ye Er Ye</em></strong><em> </em>(lihat juga artikel tentang <em>Da Ye Er Ye – </em>Dewa Jangkung &amp; Pendek – Archive bulan Maret 2008), lalu ada lagi 24 pejabat yang disebut <strong><em>Er Shi Si Si</em></strong><em> {<strong>Ji Cap Si Su</strong>}.</em></p>
<p>Seng Hong Ya<em> </em>adalah penguasa dari alam baka namun kekuasaannya juga termasuk di dunia fana. Beliau dipuja sebagai contoh pejabat tinggi yang jujur dan ideal. Bila ada dua belah pihak yang saling berselisih, mereka akan pergi ke Kelenteng Seng Hong Bio untuk saling bersumpah. Pada peringatan hari ulang tahunnya diadakan upacara <em>Gotong Toa Pe Kong </em>dengan thema Seng Hong Ya<em> </em>menginspeksi rakyatnya.</p>
<p>Ada beberapa kelenteng <em>Cheng Huang </em>yang bersambung langsung dengan <em>Dong Yue Miao </em> (kelenteng tempat pemujaan <em>Dong Yue Da Di</em>,<em> </em>Dewata Penguasa Pegunungan Timur). Di samping <em>Dong Yue Da Di</em>, dipahatkan 10 Raja Akhirat dan 18 tingkat Neraka. Ini menggambarkan bahwa di akhirat pun ada urutan pemeriksaan. Setelah diperiksa secara teliti di tempat <em>Cheng Huang</em>, roh akan dibawa ke hadapan <em>Dong Yue Da Di, </em> dan diteruskan ke tempat Raja Neraka, <em>Yan Luo Wang </em>{ Hok Kian = <em>Giam Lo Ong</em> } untuk dijebloskan ke Neraka.</p>
<p>Kepercayaan kepada Seng Hong Ya tersebar secara turun-temurun di kalangan rakyat. Orang-orang percaya bahwa para pahlawan yang telah gugur, orang-orang yang bajik atau telah berjasa bagi masyarakat, akan diangkat menjadi Seng Hong Ya. Oleh karena ini, di berbagai kota Seng Hong Ya yang dihormati tidak sama. Misalnya di kota <em>Hang Zhou</em>, ibukota propinsi <em>Zhe Jiang</em>, tokoh yang dianggap Seng Hong Ya adalah <strong><em>Zhou Xin</em></strong><em>. </em>Zhou Xin adalah gambaran seorang pejabat pengadilan yang jujur &amp; tegas dalam usahanya menegakkan keadilan, tidak bisa disuap &amp; tidak takut digertak, bahkan oleh orang yang amat berkuasa sekalipun. Di kota <em>Gun Ming</em>, ibukota propinsi <em>Yun Nan</em>, yang diangkat sebagai Seng Hong Ya adalah <strong><em>Yu Qian</em></strong>, seorang tokoh pada zaman Dinasti Ming yang pernah menjadi perdana menteri.</p>
<p>Suasana Kelenteng <em>Cheng Huang </em> biasanya berwibawa. Ada papan besar yang bertuliskan kata-kata : <em>Anda juga akan kemari kalau harinya tiba. </em>Ada pula yang dilengkapi dengan <em>sempoa – abakus </em>(alat hitung)<em> </em>besar, yang menyatakan bahwa para malaikat di sini adalah lurus, tidak bisa disuap. Apa yang anda perbuat selama kehidupan di dunia, akan diperhitungkan dengan teliti.</p>
<p>Kelenteng untuk pemujaan <em>Cheng Huang Ye </em>merupakan salah satu kelenteng yang paling besar dan tersebar luas di Tiongkok. Hampir di tiap kota besar atau kecil terdapat <em>Cheng Huang Miao.</em></p>
<p>Di Tainan, Taiwan terdapat 3 buah <em>Cheng Huang Miao.</em> Kota-kota di Asia Tenggara juga banyak kelenteng yang memuja <em>Cheng Huang Ye. </em>Antara lain di Singapura, pemujaan terhadap <em>Cheng Huang Ye </em>terdapat di Kelenteng <em>Hong San Si</em> di Sultan Muhammad Road.</p>
<p>Demikianlah asal mula sembahyang kepada <em>Seng Hong Ya</em> sudah dimulai sejak lebih dari 4.300 tahun yang lalu !!!</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/06/SengOngYa_03.jpg"><img class="size-full wp-image-273" title="Seng Hong Ya – Dewa Pelindung Kota" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/06/SengOngYa_03.jpg" alt="Seng Hong Ya – Dewa Pelindung Kota" width="275" height="480" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/seng-hong-ya-dewa-pelindung-kota-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Mula Hari Raya Twan Ngo Ciap</title>
		<link>http://jindeyuan.org/asal-mula-hari-raya-twan-ngo-ciap/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/asal-mula-hari-raya-twan-ngo-ciap/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 09:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[bacang]]></category>
		<category><![CDATA[duan wu jie]]></category>
		<category><![CDATA[peh cun]]></category>
		<category><![CDATA[Qu Yuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Asal Mula Hari Raya Twan Ngo Ciap
Hari Raya Duan Wu Jie {Hok Kian = Twan Ngo Ciap} atau yang lebih terkenal dengan sebutan Hari Raya Peh Cun diperingati setiap tahun pada Go Gwe Cwe Go (tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek). Pada hari tersebut biasanya orang Tionghoa mempersembahkan bacang dan kue cang untuk sembahyang. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Asal Mula Hari Raya Twan Ngo Ciap</span></strong></p>
<p>Hari Raya <strong><em>Duan Wu Jie</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Twan Ngo Ciap</em></strong>} atau yang lebih terkenal dengan sebutan Hari Raya <strong><em>Peh Cun</em></strong><em> </em>diperingati setiap tahun pada <em>Go Gwe Cwe Go</em> (tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek). Pada hari tersebut biasanya orang Tionghoa mempersembahkan <strong><em>bacang</em></strong><em> </em>dan <strong><em>kue cang</em></strong><em> </em>untuk sembahyang. Dari manakah asal mula <em>bacang</em> <em> </em>tersebut?</p>
<p><strong>端午節</strong><em> <strong>Duan Wu Jie</strong> </em>adalah salah satu dari 3 Hari Raya Besar yang diperingati oleh orang-orang Tionghoa. [ 2 hari raya lainnya adalah 春節 <strong><em>Chun Jie</em></strong><em> </em>(Hari Raya menyambut Musim Semi – <strong>Tahun Baru Imlek</strong>) &amp; 中秋節 <strong><em>Zhong Qiu Jie</em></strong><em> </em>(<strong>Hari Raya Tiong Ciu</strong> – Pertengahan Musim Gugur). ]</p>
<p>Walaupun asal mula <em>Duan Wu Jie </em>menurut legenda ada 3 macam [ 2 yang lainnya adalah untuk memperingati <strong>Putri Berbakti </strong><strong>曹娥 <em>Chao E</em></strong> pada masa Dinasti Han Timur (25 – 220 M)<em> </em>yang mati terjun ke sungai karena berkabung atas meninggal ayahnya, &amp; untuk memperingati hari <strong>wafatnya </strong><strong>伍子胥 <em>Wu Zi Xu</em></strong><em> </em>dari negara <em>Chu </em>yang hidup pada masa 春秋 <em>Chun Qiu </em>(770 – 476 SM) ], namun asal mula Hari Raya <em>Duan Wu Jie</em> yang sangat terkenal &amp; diperingati di Tiongkok, Taiwan, dan lain-lain adalah berdasarkan wafatnya 屈原 <strong><em>Qu Yuan</em></strong><em> {<strong>Khi Gwan} </strong></em>yang meninggal terjun ke sungai 汨羅江 <em>Mi Luo.</em> Qu Yuan dengan kesetiaannya berkorban untuk rakyat dan negara. Di Taiwan, Qu Yuan juga dihormati sebagai 水仙尊王 <strong><em>Shui Xian Zhun Wang</em></strong><em> </em>(<strong>Dewa Air Yang Terhormat</strong>).</p>
<p>Dinasti Zhou pada zaman peperangan di Tiongkok <span style="text-decoration: underline;">+</span> 2.400 tahun yang lalu (475-221 SM) terbagi 7 (tujuh) Negara. Negeri Qin adalah yang paling kuat dan agresif, sering melakukan serangan (agresi militer) terhadap enam negeri lainnya. <em>Qu Yuan</em> (baca : Chi Yen) adalah seorang menteri besar dan setia dari negeri Chu (salah satu dari keenam negeri yang diserang negeri Qin). Beliau adalah seorang tokoh yang berhasil menyatukan keenam negeri untuk menghadapi agresi negeri Qin, sehingga namanya amat disegani di negeri Qin.</p>
<p>Qu Yuan pernah menghalangi Raja 楚懷王 Chu Huai Wang untuk memenuhi undangan raja negeri Qin ke ibukotanya. Namun sayang sekali pada waktu itu Raja Chu Huai Wang telah termakan siasat adu domba dari Negeri Qin, hubungannya menjadi renggang dengan Qu Yuan dan tidak mau mempercayai sarannya lagi.</p>
<p>Untuk mengatasi hati yang sumpek, Qu Yuan menulis sajak 離騷 <em>Li Sao</em>, mengharap Raja Chu Huai Wang mawas diri &amp; tidak termakan siasat adu domba tersebut.</p>
<p>Akhirnya Raja Chu Huai Wang tertipu oleh janji-janji Raja Qin untuk datang ke ibukotanya, lalu dipenjarakan di sana, sampai akhirnya mangkat di Negeri Qin.</p>
<p>Setelah Raja 楚襄王 Chu Xiang Wang naik tahta menggantikan Raja Chu Huai Wang, tidak hanya tidak terpikir untuk balas dendam, bahkan sebaliknya menjadikan Raja Qin sebagai ayahnya ! Ditambah lagi ada sebagian menteri yang mendapat keuntungan dari Negeri Qin, di luar dugaan malah menyarankan Raja Chu Xiang Wang agar menyerah kepada Negeri Qin.</p>
<p>Qu Yuan berusaha menentang masalah ini, berdebat dengan Raja Chu Xiang Wang sehingga menyebabkannya marah besar, lalu memecat Qu Yuan yang telah mengabdi bertahun-tahun di negeri Chu, dan mengirimnya ke tempat pembuangan di 長沙 <em>Chang Sha</em>.</p>
<p>Qu Yuan melewati kehidupan sebagai orang pelarian selama 9 tahun, telah melewati hari-hari yang tragis di mana negeri hancur keluarga berantakan. Qu Yuan yang sebenarnya bertekad untuk melindungi negara, menjadi putus asa, &amp; akhirnya pada tanggal 5 bulan 5 Imlek bunuh diri terjun ke sungai <strong>Mi Luo</strong> (sekarang Sungai 錢塘<strong><em>Qian Tang</em></strong> di Propinsi 浙江 <strong><em>Zhe Jiang</em></strong>). Beberapa orang yang mengetahui berusaha menolong, tetapi tidak berhasil. Jenazahnya pun tidak ditemukan. Qu Yuan wafat pada usia 62 tahun.</p>
<p>Rakyat Negeri Chu sangat bersedih setelah mengetahui bahwa Qu Yuan, menteri mereka yang sangat cinta Negeri telah meninggal, lalu mereka berduyun-duyun mendayung perahu ke Sungai Mi Luo untuk mencari &amp; mengeluarkan jenazah Qu Yuan dari dalam sungai. Namun mereka tidak berhasil menemukan jasadnya. Lalu mereka pergi ke tepi sungai  menyatakan duka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Qu Yuan. Mereka melemparkan makanan ke sungai untuk dimakan ikan, udang &amp; hewan laut lainnya, sehingga hewan2 tersebut tidak memakan tubuh Qu Yuan.</p>
<p>Tak lama kemudian, rakyat seluruh negeri menyelenggarakan upacara untuk memperingati Qu Yuan, menganggap bahwa semangat cinta Negeri dari Qu Yuan sungguh-sungguh sangat mulia.</p>
<p>Setelah Qu Yuan terjun ke Sungai Mi Luo, ada seorang dari Negara Chu yang bertemu dengan arwah Qu Yuan. Qu Yuan memberitahu orang ini, orang-orang yang menghormati Qu Yuan dengan melempar makanan ke sungai semuanya habis diperebutkan ikan-ikan &amp; udang. Maka Qu Yuan berpesan kepada orang tersebut untuk menyampaikan kepada orang banyak agar makanan yang dipersembahkan dibungkus dengan daun bambu, &amp; dipersembahkan pada tanggal 5 bulan 5 Imlek. Inilah <strong>asal mula makan bacang</strong> pada Hari Raya Duan Wu Jie.</p>
<p>Qu Yuan yang seumur hidupnya amat setia kepada negara, telah menulis sangat banyak karya sastra. Beliau meninggalkan nama harum sepanjang masa. Untuk menyatakan rasa hormat dan cinta Qu Yuan kepada Negeri, maka tanggal 5 bulan 5 (Imlek) ini juga merupakan Hari Raya Penyair di Tiongkok.</p>
<p>Orang-orang pada generasi berikutnya, untuk menghormati &amp; memperingati wafatnya Qu Yuan, melakukan adat istiadat 扒龍船 <strong><em>Ba Long Chuan</em></strong>,<strong><em> </em></strong>membentuk Perahu Naga, &amp; mengadakan 龍舟競賽 <strong><em>Long Zhou Jing Sai</em></strong><em>,<strong> </strong></em>Lomba Dayung Perahu Naga.</p>
<p>Diadakannya Perlombaan Perahu Naga di Hari Raya Duan Wu Jie, adalah mengingatkan usaha mencari jenazah Qu Yuan yang terjun ke sungai.</p>
<p>Zaman sekarang, begitu tiba Hari Raya Duan Wu Jie, di berbagai tempat diselenggarakan Lomba Dayung Perahu Naga, pertama untuk memperingati Qu Yuan, mengembangkan semangat cinta Negeri; kedua untuk menggalakkan olahraga, baru bisa dengan badan yang sehat untuk melindungi Negeri. Selain itu, sekeluarga berkumpul bersama sambil makan bacang, juga dapat menikmati bersama kebahagiaan keluarga.</p>
<p>Kelenteng yang khusus untuk menghormati Qu Yuan jarang ada. Di Taiwan, kelenteng khusus untuk menghormati Qu Yuan adalah 屈原宮 <strong><em>Qu Yuan Gong</em></strong> di 洲美 <em>Zhou Mei</em>, 士林 <em>Shi Lin</em>, 臺北 Taipei, yang didirikan  pada 6 Nopember 1981 (Imlek bulan 10 tanggal 10).</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/06/bacang-vegetarian.jpg"><img class="size-full wp-image-269" title="bacang vegetarian" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/06/bacang-vegetarian.jpg" alt="bacang-vegetarian" width="345" height="305" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/asal-mula-hari-raya-twan-ngo-ciap/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tho Tak Thien Ong &#8211; Raja Langit Penyangga Pagoda</title>
		<link>http://jindeyuan.org/tho-tak-thien-ong-raja-langit-penyangga-pagoda-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/tho-tak-thien-ong-raja-langit-penyangga-pagoda-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 03:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Pagoda]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Si Da Tian Wang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Tho Tak Thien Ong – Raja Langit Penyangga Pagoda
Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Tho Tak Thien Ong adalah Jendral Langit yang memimpin para perwira langit, pada umumnya menganggap beliau adalah dewa dari Taoisme, namun sebenarnya Tho Tak Thien Ong adalah salah satu dari 四大天王 Si Da Tian Wang {Si Twa Thien Ong = Empat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Tho Tak Thien Ong – Raja Langit Penyangga Pagoda</strong></p>
<p>Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Tho Tak Thien Ong adalah Jendral Langit yang memimpin para perwira langit, pada umumnya menganggap beliau adalah dewa dari Taoisme, namun sebenarnya Tho Tak Thien Ong adalah salah satu dari 四大天王 <strong><em>Si Da Tian Wang {Si Twa Thien Ong = Empat Raja Langit} </em></strong>dalam agama Buddha, yaitu 北方多聞天王 <strong><em>Bei Fang Duo Wen Thian Wang</em></strong> (Raja Langit Utara yang sangat termashur); disebut juga 毗沙門天王 <strong><em>Pi S</em></strong><strong><em>ha Men Tian Wang</em></strong>.</p>
<p>Pi Sha Men Tian Wang adalah salah satu dari Si Da Tian Wang (Empat Raja Langit), menjadi Dewa Pelindung Dharma &amp; penakluk iblis dalam agama Buddha. Karena beliau menyangga sebuah pagoda Buddha dengan telapak tangannya, sehingga beliau disebut 托塔天王 <strong><em>Tuo Ta Tian Wang</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Tho Tak Thien Ong</em></strong>}, yang berarti Raja Langit Penyangga Pagoda.</p>
<p>Pi Sha Men Tian Wang dihormati secara universal antara lain di India &amp; Tibet. Kadang kala beliau juga dipuja sebagai Dewa Pemenangan Peperangan. Selain itu Pi Sha Men Tian Wang disebut juga sebagai salah satu dari Tujuh Dewa Keberuntungan dalam Buddhisme, karena beliau bisa memberikan berkah rezeki kepada umatnya.</p>
<p>Rupang Dewa Tho Tak Thien Ong pada umumnya berujud Raja dengan kaki menginjak 2 setan, tangan kiri mengangkat sebuah pagoda kecil, &amp; tangan kanan menggenggam sebuah gada mestika. Ujud lainnya dilukiskan dengan tangan yang memegang payung, tikus, ular &amp; naga.</p>
<p>Setelah Tho Tak Thien Ong masuk ke Tiongkok, secara perlahan-lahan figur Buddhisme ini berubah menjadi Tho Tak Thien Ong versi Tionghoa, yaitu 托塔李天王 <strong><em>T</em></strong><strong><em>uo Ta Li Tian Wang {Tho Tak Li Thien Ong</em></strong><strong><em>}. </em></strong>Penambahan marga Li ini karena dikaitkan dengan <strong><em>Li Jing</em></strong> yang berasal dari propinsi <em>Shan Xi</em>, seorang panglima perang terkenal yang sangat berjasa dalam membantu Kaisar <em>Li Shi Min {Lie Se Bin}</em> mendirikan Dinasti Tang.</p>
<p>Dalam 封神演義 <strong><em>Feng Shen Yan Yi {</em></strong><strong><em>Hok Kian = Hong Sin Yen Gi = Kisah Penganugerahan Dewa}</em></strong>, disebutkan bahwa Tho Tak Thien Ong adalah 李靖 <strong><em>Li Jing {Li Ceng}</em></strong>, panglima perang yang pernah bertugas di kota <em>Chen Tang Guan</em>, &amp; pernah membantu Raja Zhou Wu Wang menumbangkan Raja Zhou Wang (Raja terakhir Dinasti Shang : <span style="text-decoration: underline;">+</span> abad 16 SM – abad 11 SM) yang lalim. Setelah berhasil membantu raja mendirikan Dinasti Zhou, Li Ceng kembali ke kampung halamannya, mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk membina diri. Akhirnya ia berhasil mencapai kesucian.</p>
<p>Li Ceng pernah berguru kepada 度厄真人 <strong><em>Du E Zhen Ren</em></strong>. Dari hasil pernikahannya ia memperoleh 3 orang putra : 金吒 <strong><em>Jin Zha {Kim Cia}</em></strong>, 木吒 <strong><em>Mu Zha {Bok Cia}</em></strong>, 哪吒 <strong><em>Na Zha {Lo Cia}</em></strong> .</p>
<p>Pada saat Li Ceng mengirim pasukan bersenjata untuk menumpas Raja Zhou yang lalim, tak terduga ia malah bermusuhan dengan putranya. Li Ceng bukanlah tandingan putra ketiganya tersebut, maka kemudian Li Ceng meminta bantuan kepada 太乙真人 <strong><em>Tai Yi Zhen Ren {Thay It Cin Jin}</em></strong> yang memberinya sebuah pagoda wasiat yang mungil, barulah Li Ceng bisa menaklukkan putra ketiganya, Lo Cia. Pagoda ini akhirnya menjadi ciri khas yang melekat erat dengan julukannya yaitu <strong><em>Tuo Ta Tian Wang {Tho Tak Thien Ong</em></strong> = <strong>Raja Langit Penyangga Pagoda</strong>} !</p>
<p>Dalam 西遊記 <strong><em>Xi You Ji {Se Yu Ki </em></strong><strong><em>= </em>Catatan Perjalanan Ke Barat</strong><strong>},</strong> oleh 玉皇大帝 <strong><em>Yu Huang Da Di {Giok Hong Tay Te</em> = Maha Dewa Kaisar Giok</strong>} Li Ceng diangkat menjadi Jendral Langit yang memimpin para perwira langit. Setiap kali memimpin pasukan kahyangan, Lo Cia menjadi kepala pasukan perintis.</p>
<p>Dewa Tho Tak Thien Ong sangat terkenal di kalangan rakyat Tiongkok. Pada zaman dinasti Tang &amp; Song, di mana Buddhisme mencapai masa keemasannya, keluarga Kaisar mendorong pemujaan kepada Tho Tak Li Thien Ong, sehingga di setiap kota besar didirikan kelenteng <strong><em>Tian Wang Ci {Thien Ong Su}</em></strong> sebagai lambang kewibawaan kerajaan.</p>
<p>Di Taiwan hanya sedikit kelenteng yang memuja Tho Tak Thien Ong. Kelenteng 天王宮 <strong><em>Tian Wang Gong</em></strong> di kota <em>Ji Long</em> menjadikan Tho Tak Thien Ong sebagai tuan rumahnya. Selain itu Tho Tak Thien Ong juga dipuja di 文殊殿 <strong><em>Wen Su Dian &amp; </em></strong>天池壇<strong><em> </em></strong><strong><em>Tian Chi Tan</em></strong> di kota <em>Tai Nan</em>.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_263" class="wp-caption aligncenter" style="width: 369px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/06/thotakthienong_02.jpg"><img class="size-full wp-image-263" title="Tuo Ta Tian Wang – King of Heavens the Support of Pagoda" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/06/thotakthienong_02.jpg" alt="Tuo Ta Tian Wang – King of Heavens the Support of Pagoda" width="359" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Tuo Ta Tian Wang – King of Heavens the Support of Pagoda</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/tho-tak-thien-ong-raja-langit-penyangga-pagoda-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sik Ka Mo Ni Hut &#8211; Guru Agung Para Dewa &amp; Manusia</title>
		<link>http://jindeyuan.org/sik-ka-mo-ni-hut-guru-agung-para-dewa-manusia-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/sik-ka-mo-ni-hut-guru-agung-para-dewa-manusia-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 07:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[enlightment]]></category>
		<category><![CDATA[gautama]]></category>
		<category><![CDATA[nirvana]]></category>
		<category><![CDATA[parinibbana]]></category>
		<category><![CDATA[siddharta]]></category>
		<category><![CDATA[vesak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Sik Ka Mo Ni Hut – Guru Agung Para Dewa &#38; Manusia
Setiap bulan 4 tanggal 15 Imlek, umat Buddha memperingati Hari Trisuci Waisak, yaitu memperingati 3 (tiga) peristiwa suci :

Hari lahir Pangeran Sidharta Gautama.
Saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, &#38;
Hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni.

Namun di kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap bulan 4 tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Sik Ka Mo Ni Hut – Guru Agung Para Dewa &amp; Manusia</strong></p>
<p>Setiap bulan 4 tanggal 15 Imlek, umat Buddha memperingati <strong>Hari Trisuci Waisak</strong>, yaitu memperingati 3 (tiga) peristiwa suci :</p>
<ol>
<li>Hari lahir Pangeran Sidharta Gautama.</li>
<li>Saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, &amp;</li>
<li>Hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni.</li>
</ol>
<p>Namun di kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap bulan 4 tanggal 8 penanggalan Imlek. Hari beliau 成道 <strong><em>Cheng Dao</em></strong> {<strong><em>Sik Ka Mo Ni Hut Sing To</em></strong> = Buddha Sakyamuni mencapai Penerangan Sempurna} diperingati setiap bulan 12 tanggal 8 penanggalan Imlek.</p>
<p>釋迦牟尼佛 <strong><em>Shi Jia Mou Ni Fo</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Sik Ka Mo Ni Hut</em></strong> = <strong>Buddha Sakyamuni</strong>} adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia dengan penganut yang berjumlah milyaran orang. Buddha Sakyamuni adalah ahli agama yang agung &amp; mulia, juga adalah orang suci yang arif bijaksana &amp; diakui di seluruh dunia.</p>
<p>Ideologi &amp; peradaban (kebudayaan) agama Buddha yang disabdakan Buddha Sakyamuni, diturunkan dari generasi ke generasi, sejak lama telah menjadi aspek penting &amp; utama yang memberikan nuansa aneka warna kebudayaan Dunia Timur, dan juga telah meninggalkan kebudayaan berharga yang sempurna &amp; berlimpah bagi sejarah dunia.</p>
<p><strong>Sik Ka Mo Ni Hut</strong> adalah guru agung para Dewa &amp; manusia. Perjalanan hidup Beliau yang telah mencapai penerangan sempurna atas usaha sendiri, merupakan kisah perjuangan yang tiada taranya guna mendapatkan kebahagiaan abadi.</p>
<p>Sik Ka Mo Ni Hut lahir pada tahun 623 SM di sebuah Kerajaan yang terletak di daerah Madyadesa, India Utara (sekarang Kerajaan Nepal), dengan ibukotanya Kapilavastu. Beliau terlahir dengan nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti : “Seorang yang tercapai cita-citanya”. Sebelum terlahir sebagai Pangeran Sidharta, beliau sebenarnya adalah Maha Bodhisatva yang datang dari Surga Tusita.</p>
<p>Ayah Sidharta adalah <strong>Raja Sudhodana</strong> yang berasal dari Suku Sakya. Karena berasal dari Suku Sakya inilah maka kemudian beliau disebut sebagai <strong>Buddha Sakyamuni</strong>. Ibunda beliau adalah <strong>Ratu Mahamaya</strong>.</p>
<p>Sebelum melahirkan Sidharta, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih bertaring empat mengelilingi tempat tidurnya searah jarum jam sebanyak 3 X. Kemudian gajah putih tersebut bersama sebuah bintang segi 6 (enam) yang bercahaya amat terang memasuki perut Dewi Mahamaya. Setelah mimpi tersebut, Dewi Mahamaya mengandung. Namun sungguh aneh, walaupun telah mengandung selama lebih dari 9 bulan, anak yang ditunggu-tunggu belum juga lahir.</p>
<p>Pada waktu kandungan permaisuri berusia 10 bulan, beliau mengunjungi keluarganya di Devadaha. Saat itu juga jalan-jalan dari Kapilavastu ke Devadaha dibersihkan &amp; dipenuhi dengan hiasan-hiasan indah. Di antara kedua kota terhampar <strong>Taman Lumbini </strong>yang dipenuhi pohon sal. Pada waktu itu bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, berbagai jenis burung bersiul-siul sepanjang hari. Melihat keindahan Taman Lumbini tersebut, sang permaisuri beristirahat di bawah pohon sal di dalam taman itu. Ketika permaisuri hendak meraih salah satu dahan pohon sal itu, tubuhnya terguncang oleh getaran kelahiran anak. Dengan memegangi dahan pohon &amp; dalam keadaan berdiri, ia melahirkan seorang putra. Waktu itu tepat bulan <strong>Waisaka Purnamasidhi</strong>.</p>
<p>Sewaktu beliau lahir terjadi keajaiban, seperti yang tercatat dalam Kitab Sakyamuni Buddha : Sungguh mengherankan. Bayi tersebut lahir dalam keadaan bersih, tak ternoda oleh cairan, lendir, darah, ataupun kotoran yang lain. Pada saat kelahiran sang pangeran, 2 arus air jatuh dari langit. Yang satu dingin, &amp; yang satunya lagi hangat. 2 arus air ini membasuh bayi tersebut &amp; ibunya. Bahkan bayi tersebut lahir dalam keadaan berdiri tegak.</p>
<p>Begitu bayi tersebut dilahirkan, ia melangkah 7 (tujuh) langkah. Bunga teratai yang berwarna merah &amp; kuning keemasan muncul dari dalam tanah setiap kali ia menapakkan kakinya. Pada langkah terakhir, dengan tangan kanan menunjuk ke langit &amp; tangan kiri menunjuk ke bumi, bayi tersebut mengumandangkan suaranya dengan lantang : “<em>Akulah yang teragung di antara langit &amp; bumi. Aku datang dari Surga Tusita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta &amp; kebenaran tentang kehidupan, guna membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Inilah kelahiranku yang terakhir di dunia ini!”</em></p>
<p>Bayi tersebut kemudian dibawa ke istana. Raja Suddhodana amat bahagia menyambut kedatangan putranya. Pada hari itu juga di istana datanglah seorang pertapa dari Gunung Himalaya yang bernama <strong>Kala Dewala</strong> (disebut juga <strong>Pertapa Asita</strong>), bersama keponakannya Nakala. Saat melihat bayi tersebut, ia langsung menjatuhkan diri &amp; berlutut. Pertapa Kala Dewala tertawa bahagia. Namun kemudian ia menangis tersedu-sedu. Raja sangat heran melihat kejadian ini. Raja menanyakan apakah ada yang tidak baik dalam diri putranya? Pertapa Kala Dewala menjelaskan bahwa ia gembira karena di dunia telah lahir seorang manusia agung, seorang calon Buddha. Namun ia menangis sedih karena mengingat usianya yang telah tua, sehingga tidak mungkin baginya untuk mendengarkan ajaran Buddha ini kelak.</p>
<p>Demikianlah seorang Maha Bodhisatva telah dilahirkan melalui kandungan Permaisuri Dewi Maha Maya yang berhati suci &amp; berbudi luhur. Seminggu setelah melahirkan Pangeran Sidharta, sang ibunda meninggal dunia. Pangeran Sidharta kemudian dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh bibinya (adik Dewi Mahamaya) Putri Prajapati.</p>
<p>Sebagai seorang Pangeran, Sidharta menikmati kehidupan istana yang menyenangkan, nikmat &amp; serba berkecukupan. Raja Sudhodana  membangun 3 (tiga) buah istana untuk Pangeran Sidharta. Satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin, &amp; satu lagi untuk musim hujan. Sejak kecil, Sidharta dilimpahi dengan segala jenis kemewahan dunia. Raja Sudhodana mengharapkan putranya naik tahta &amp; menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja. Namun Pangeran Sidharta tak terbiasa dengan kehidupan mewah, senang &amp; berkedudukan tinggi seperti ini.</p>
<p>Pangeran Sidharta menikah pada usia 16 tahun dengan <strong>Putri Yasodhara</strong>, yang masih merupakan saudara sepupu Pangeran Sidharta. Putri Yasodhara yang cantik jelita adalah putri tunggal dari <strong>Raja Suprabuddha</strong> &amp; <strong>Ratu Pamita</strong> dari <strong>suku Koliya</strong>. Untuk bisa menyunting Putri Yasodhara ini diadakan sayembara besar-besaran. Yang mengikuti sayembara ini adalah para ksatria gagah &amp; para pangeran dari hampir semua kerajaan-kerajaan di daratan India.</p>
<p>Sayembara ini selain untuk memperebutkan Putri Yasodhara, juga sekaligus sebagai ajang pembuktian siapa yang terbaik di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Sayembara itu adalah perlombaan memanah dengan busur raksasa, perlombaan menjinakkan kuda liar, perlombaan merobohkan pohon raksasa dengan sebilah pedang. Pangeran Sidharta memenangi seluruh perlombaan yang diadakan &amp; akhirnya menikah dengan Putri Yasodhara. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama <strong><em>Rahula</em></strong><em>, </em>yang berarti belenggu.</p>
<p>Pada usia 29 tahun, Pangeran Sidharta <strong>melihat 4 peristiwa</strong> yang kemudian sama sekali mengubah jalan kehidupannya. <strong>Pertama</strong>, ia melihat seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bersandar pada tongkatnya. <strong>Kedua</strong>, ia melihat seorang yang menderita sakit parah. <strong>Ketiga</strong>, ia melihat seorang yang telah meninggal dunia. <strong>Keempat</strong>, ia melihat seorang pertapa dengan jubah kuning berjalan tenang dengan wajah yang penuh kedamaian. Ketiga peristiwa pertama menyadarkan pangeran akan hukum alam yang pasti akan dialami setiap orang tanpa pandang bulu. Peristiwa keempat menunjukan cara untuk mengatasi penderitaan dunia &amp; mencapai ketentraman hidup.</p>
<p>Demikianlah Sang Pangeran Sidharta meninggalkan istana pada usia 29 tahun bersama pengiringnya yang setia, <strong>Channa</strong> &amp; kuda putihnya <strong>Kanthaka</strong>. Beliau membina diri dengan penuh penderitaan di hutan. Ia berguru kepada pertapa-pertapa terkenal, seperti <strong>Resi Alara Kalama</strong> &amp; <strong>Uddaka Ramaputra</strong>.</p>
<p>Enam tahun lamanya beliau membina diri hidup sebagai seorang pertapa di hutan Uruvela. Ia menjalani penyiksaan diri &amp; pantang makan yang keras, sehingga beliau menjadi kurus kering &amp; amat lemah. Pada waktu beliau diliputi kekosongan bathin &amp; penderitaan badan yang amat sangat, serombongan penari lewat di dekat tempatnya bertapa, sambil mendendangkan nyanyian merdu: “Jika senar mandolin ditarik terlalu kencang, akan putuslah senarnya. Sebaliknya jika senar mandolin terlalu dikendurkan, akan hilanglah suaranya.” Bait lagu ini menyadarkan beliau akan perlunya merawat badan untuk menjamin kesegaran bathin. Ia sadar bahwa dengan penyiksaan diri yang berat seperti itu tidak akan berhasil mencapai penerangan sempurna.</p>
<p>Pada suatu hari datanglah <strong>Sujata</strong>, seorang wanita muda, mempersembahkan makanan dari susu murni ke hadapan pertapa Gautama, sebagai pernyataan terima kasih atas terkabulnya permintaannya untuk memiliki seorang putra. Sujata mengira pertapa Gautama adalah penjelmaan dari dewa yang telah mengabulkan permintaannya, sehingga ia menyajikan masakan yang enak bagi pertapa kurus namun agung itu. Pertapa Gautama menerima persembahan makanan Sujata.</p>
<p>Sementara itu 5 orang pertapa yang mengikuti pertapa Gautama semenjak ia menjalani penyiksaan diri, ketika melihat ia mulai makan secukupnya, meninggalkan pertapa Gautama karena menganggap beliau telah kalah, karena telah menjalani kehidupan yang berlebihan.</p>
<p>Kemudian pertapa Gautama berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bangkit &amp; berhenti samadhi sebelum cita-citanya untuk mendapatkan penerangan sempurna demi kebahagiaan umat manusia sejagat raya tercapai. Dengan tekad yang tak tergoyahkan pertapa Gautama menekuni kembali <strong>Samadhi Anapanasati Bhavana</strong> selama 7 minggu, yang pernah dilatihnya sewaktu beliau berusia 7 tahun.</p>
<p>Dalam samadhinya, pertapa Gautama mencapai <strong><em>Jhana </em></strong>pertama, di mana kegiuran &amp; kegembiraan muncul dari penyepian bersama dengan penalaran &amp; pengamatan. Namun, perasaan itu tidak menguasai pikirannya. Dengan berakhirnya penalaran &amp; pengamatan ia mencapai &amp; tinggal di dalam jhana kedua, di mana kegiuran &amp; kegembiraan muncul dari konsentrasi, dengan kedamaian &amp; pemusatan pikiran pada 1 titik, tanpa penalaran &amp; pengamatan.</p>
<p>Ia tinggal dengan penuh perhatian &amp; sadar, tinggal dengan keseimbangan. Ia mencapai &amp; tinggal dalam jhana ketiga. Meninggalkan kenikmatan bahkan sebelum lenyapnya kegembiraan &amp; ketenangan bathin, ia mencapai &amp; tinggal dalam jhana keempat, yang adalah tanpa rasa sakit maupun kenikmatan, hanya berisikan kesucian yang timbul dari perhatian &amp; keseimbangan.</p>
<p>Pada pengamatan pertama malam itu, beliau memperoleh pengetahuan pertama, yaitu ia mengingat banyak rincian kehidupannya di masa yang lalu dengan amat jelas, beliau juga melihat banyak siklus kehancuran &amp; pembentukan alam semesta. Pada pengamatan yang kedua kalinya pada malam itu, dengan pandangan yang terang &amp; suci beliau memperoleh pengetahuan kedua, yaitu ia melihat mahluk hidup mati &amp; dilahirkan kembali (tumimbal lahir), mahluk hidup yang melakukan perbuatan jahat, pada saat kematiannya dilahirkan kembali dalam keadaan yang menderita &amp; sengsara. Tetapi mahluk hidup yang menjalani hidup baik dalam perbuatan, kata-kata &amp; pikiran, pada saat kematian dilahirkan kembali dalam keadaan yang membahagiakan.</p>
<p>Kemudian pada pengamatan terakhir malam itu ia memusatkan pikirannya yang jernih &amp; bersih pada pengetahuan terhadap kehancuran kekotoran bathin. Ia memperoleh pengetahuan ketiga yaitu: ia menyadari adanya penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, &amp; jalan menuju lenyapnya penderitaan. Setelah menyadari kebenaran ini, pikirannya bebas dari nafsu indria, bebas dari nafsu keinginan, &amp; bebas dari ketidaktahuan. Ia menyadari bahwa kelahiran kembali telah dilenyapkan; bahwa telah terlaksana apa yang harus dilaksanakan.</p>
<p>Akhirnya di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, tepat pada malam <strong>Purnamasidhi</strong> di bulan Waisak, pada usia 35 tahun pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna atau <strong>Samyak Sambodhi</strong>, &amp; dengan demikian menjadi <strong>Samyak Sambuddha, Buddha Yang Maha Sempurna.</strong> Sejak itu beliau disebut sebagai Buddha Gautama.</p>
<p>Tepat 2 bulan setelah mencapai kesempurnaan, di <strong>Taman Rusa Isipatana, </strong>Buddha Gautama untuk pertama kalinya membabarkan Dharma, Ajaran-Nya, kepada 5 orang pertapa yang menemaninya selama masa penyiksaan diri. Dalam khotbah-Nya yang pertama, Buddha membabarkan <strong>Empat Kesunyataan Mulia </strong>&amp; <strong>Jalan Mulia Beruas Delapan. </strong>Peristiwa ini sekarang diperingati oleh umat Buddha sebagai Hari Suci <strong>Asadha</strong>, hari pemutaran roda Dharma. Selanjutnya, kelima orang pertapa itu ditahbiskan oleh Buddha menjadi Bhikkhu-bhikkhu yang pertama.</p>
<p>Buddha membabarkan Dharma selama 45 tahun kepada murid-muridnya yang tak terhitung jumlahnya &amp; mendirikan Sangha (persaudaraan suci para Bikkhu/Bikkhuni).</p>
<p>Pada tahun 543 SM pada usia 80 tahun, pada bulan Waisaka Purnamasidhi, di kota <strong>Kusinara</strong>, di kebun bunga Sala, di bawah 2 batang pohon sal, Buddha Sakyamuni, Guru Agung para Dewa &amp; manusia, dengan tenang Parinibbana (wafat). Para dewa &amp; brahma terus menaburkan bunga-bunga &amp; air suci menyambut Buddha Yang Maha Sempurna meninggalkan bentuk-Nya di dunia fana ini. Raga Buddha telah disempurnakan, tetapi ajaran Dharma-Nya tetap hidup &amp; jaya sepanjang masa mengarungi seluruh penjuru alam semesta.</p>
<p>Dalam bahasa Mandarin, 如來佛<strong><em>Ru Lai Fo</em></strong><em> </em>{Hok Kian = <strong><em>Ji Lay Hud</em></strong><em> </em>} merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, <strong><em>Tathagata</em></strong>, yang berarti <em>Ia Yang Datang.</em></p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_258" class="wp-caption aligncenter" style="width: 369px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/SiKaMoNiHut_02.jpg"><img class="size-full wp-image-258" title="Sik Ka Mo Ni Hut – Guru Agung Para Dewa &amp; Manusia" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/SiKaMoNiHut_02.jpg" alt="Sik Ka Mo Ni Hut – Guru Agung Para Dewa &amp; Manusia" width="359" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Sik Ka Mo Ni Hut – Guru Agung Para Dewa &amp; Manusia</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/sik-ka-mo-ni-hut-guru-agung-para-dewa-manusia-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Go Ho Ciong Kun &#8211; Lima Jendral Harimau</title>
		<link>http://jindeyuan.org/go-ho-ciong-kun-lima-jendral-harimau-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/go-ho-ciong-kun-lima-jendral-harimau-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 05:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[jendral harimau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau
五虎將軍 Wu Hu Jiang Jun {Hok Kian = Go Ho Ciong Kun} adalah Lima Jendral Harimau. Dalam cerita-cerita klasik Tiongkok banyak terdapat kisah-kisah yang menceritakan tentang keberanian jendral yang karena keperwiraannya diberi julukan Jendral Harimau. Dalam cerita San Guo Yan Yi {Sam Kok Yen Gi = Kisah Tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Go Ho Ciong Kun</strong> – <strong>Lima</strong><strong> Jendral Harimau</strong></p>
<p>五虎將軍 <strong><em>Wu Hu Jiang Jun</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Go Ho Ciong Kun</em></strong>} adalah Lima Jendral Harimau. Dalam cerita-cerita klasik Tiongkok banyak terdapat kisah-kisah yang menceritakan tentang keberanian jendral yang karena keperwiraannya diberi julukan Jendral Harimau. Dalam cerita <strong><em>San Guo Yan Yi</em></strong> {<strong><em>Sam Kok Yen Gi</em></strong> = Kisah Tiga Kerajaan}, kelima Jendral Harimau tersebut adalah sbb:</p>
<ol>
<li>關公 <em>Guan Gong</em> {<em>Kwan Kong</em>}</li>
<li>張飛  <em>Zhang Fei</em> {<em>Thio Hui</em>}</li>
<li>張朱龍  <em>Zhang Zhu Long</em> {<em>Thio Cu Liong</em>}</li>
<li>黃仲  <em>Huang Zhong</em> {<em>Oey Tiong</em>}</li>
<li>馬銚  <em>Ma Diao</em> {<em>Ma Tiauw</em>}</li>
</ol>
<p>Namun di Kim Tek Ie ini bukan kelima Jendral Harimau tersebut yang dihormati, namun semata-mata adalah perwujudan dari <strong><em>Tu Di Gong</em></strong> {<strong><em>Tho Te Kong</em></strong> = Dewa Bumi).</p>
<p>Menurut kepercayaan Tho Te Kong sering kali mengejawantah sebagai harimau. Tho Te Kong sendiri dianggap sebagai dewa yang berkuasa memberi rahmat kepada umatnya. Ditampilkan dengan wujud Lima Harimau dan ada di Lima Penjuru (Timur, Selatan, Tengah, Barat &amp; Utara), bermakna Tho Te Kong itu ada di mana saja. Dalam wujud animasi harimau dipercaya dapat menolak pengaruh-pengaruh buruk yang mungkin datang dari 5 penjuru.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_254" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/GoHoCiongKun02.jpg"><img class="size-medium wp-image-254" title="Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/GoHoCiongKun02-300x276.jpg" alt="Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau" width="300" height="276" /></a><p class="wp-caption-text">Go Ho Ciong Kun – Lima Jendral Harimau</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/go-ho-ciong-kun-lima-jendral-harimau-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bun Cu Pho Sat &#8211; Manjusri Bodhisattva</title>
		<link>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisattva-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisattva-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 04:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[manjusri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisattva
Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 Kesesatan (Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.
文殊菩薩Wen Shu Pu Sa {Hok Kian = Bun Cu Pho Sat} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisattva</strong></p>
<p>Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 <strong>Kesesatan </strong>(Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.</p>
<p><strong>文殊菩薩</strong><strong><em>Wen Shu Pu Sa</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Bun Cu Pho Sat</em></strong>} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh sebab itu, walaupun beliau bukan tokoh dalam sejarah, tapi karena beliau bisa menampilkan ciri khas dari ideologi agama Buddha secara jelas &amp; nyata, maka kedudukannya dalam agama Buddha sangat tinggi. Beliau adalah Bodhisatva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci. Bahkan ada kitab suci tertentu yang menyatakan bahwa Wen Shu Pu Sa adalah guru dari semua Buddha pada 3 masa kehidupan.</p>
<p>Wen Shu Pu Sa disebut juga 文殊師利<strong><em>Wen Shu Shi Li </em></strong>(baca: Wen Su Se Li), diterjemahkan secara bebas menjadi 妙吉祥 <strong><em>Miao Ji Xiang (Keberuntungan Yang Mukjizat), </em></strong>法王子 <strong><em>Fa Wang Zi (Putra Raja Dharma), </em></strong>dsb. Wen Shu Pu Sa yang mewakili kebijaksanaan, &amp; 普賢菩薩 <strong><em>Pu Xian Pu Sa</em></strong> yang mewakili Budi Pekerti, di kelenteng-kelenteng di Tiongkok &amp; Jepang seringkali ditampilkan di samping Sang Buddha Sakyamuni.</p>
<p>Manjusri adalah Bodhisatva Kebijaksanaan &amp; Pengetahuan, &amp; dianggap sejajar dengan Bodhisatva Avalokitesvara atau 觀音菩薩 <strong><em>Guan Yin Pu Sa </em></strong>{<strong><em>Kwan Im Pho Sat</em></strong>} yang merupakan Bodhisatva Welas Asih. Manjusri dalam bahasa Sansekerta berarti “Keagungan Yang Lemah Lembut”. Orang Tionghoa menganggap Manjusri adalah Bodhisatva yang memberi penerangan &amp; kebijaksanaan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma.</p>
<p>Tempat suci Bun Cu Pho Sat adalah di Gunung 五臺山 <strong><em>Wu Tai Shan</em></strong>, propinsi <em>Shan Xi</em>. Di tempat ini Bun Cu Pho Sat sering menampakkan kemukjizatannya. Gunung Wu Tai Shan ini adalah salah satu dari 4 gunung suci Buddhisme di Tiongkok, &amp; menjadi tempat berkumpul para penganut Bun Cu Pho Sat.  Walaupun untuk mencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit &amp; berliku-liku. Mereka ingin merasakan suatu ketentraman bathin dengan mencapai kelenteng Wen Shu Pu Sa yang berada di puncak gunung tersebut.</p>
<p>Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak umat di puncak gunung suci tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap sebagai “hallusinasi” dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki gunung tersebut. Namun harus diingat bahwa orang-orang yang naik ke sana umumnya adalah mereka yang ingin mencari “Kebijaksanaan”, &amp; mereka telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga mempunyai pikiran yang tidak akan mudah goyah atau tidak stabil, atau mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan hallusinasi tersebut.</p>
<p>Bentuk Bun Cu Pho Sat yang paling sering dilihat adalah tangan kanan memegang pedang mestika, tangan kiri memegang gulungan kitab suci, menunggang seekor singa berbulu hijau. Pedang mestika melambangkan kearifan yang dapat memutuskan semua kilesa (kegelisahan bathin). Gulungan kitab suci melambangkan kearifan yang seperti lautan &amp; menuntun umat manusia memasuki gudang kitab suci. Singa yang ditunggangi dihargai sebagai Raja Hewan, &amp; disebut juga <em>Auman Singa, </em>menyebarkan Dharma Buddha. Maka Bun Cu Pho Sat menunggang singa mengandung arti mengembangkan Buddha Dharma &amp; menyelamatkan umat manusia.</p>
<p>Dalam kisah <em>Miao Shan</em>, singa hijau Wen Shu Pu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api, sedangkan gajah putih Pu Xian Pu Sa adalah Dewa Air. Kedua Dewa ini menangkap rombongan Raja <em>Miao Zhuang</em> yang akan berziarah ke <em>Xiang Shan</em>, tempat Miao Shan. Kemudian keduanya ditaklukan oleh para Panglima Langit. Setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. <em>Miao Shu</em> (dalam versi yang lain disebut sebagai <em>Miao Qing</em>) diangkat sebagai Wen Shu Pu Sa &amp; <em>Miao Yin</em> diangkat sebagai Pu Xian Pu Sa. Walaupun Wen Shu Pu Sa &amp; Pu Xian Pu Sa berasal dari India, akhirnya mempunyai bentuk Tionghoa 100 %.</p>
<p>Kelenteng yang khusus untuk menghormati Bun Cu Pho Sat jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan tersebut. Namun arca-arcanya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Bun Cu Pho Sat sering ditampilkan dalam bentuk <strong>3 Serangkai</strong> bersama dengan Buddha Sakyamuni &amp; Pho Hian Pho Sat. Atau bersama dengan <strong>Kwan Im Pho Sat</strong> &amp; <strong>Pho Hian Pho Sat</strong>.</p>
<p>Dalam bentuk 3 Serangkai dengan Kwan Im, biasanya Bun Cu Pho Sat &amp; Pho Hian Pho Sat ditampilkan dalam wujud wanita. Kwan Im sebagai lambang Maha Pengasih &amp; Penyayang, Bun Cu melambangkan kebijaksanaan, Pho Hian sebagai lambang pelaksanaan cinta kasih. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme.</p>
<p>Hari lahir Wen Shu Pu Sa diperingati setiap tanggal 4 bulan 4 Imlek, &amp; diperingati secara khusus setiap tahun oleh umat Buddhisme Zen.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_249" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/buncuphosat_02.jpg"><img class="size-full wp-image-249" title="Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/buncuphosat_02.jpg" alt="Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva" width="320" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisattva-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DAFTAR KRONOLOGIS KLENTENG-KLENTENG DI JAKARTA</title>
		<link>http://jindeyuan.org/daftar-kronologis-klenteng-klenteng-di-jakarta/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/daftar-kronologis-klenteng-klenteng-di-jakarta/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 03:04:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[kelenteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[







DAFTAR KRONOLOGIS KLENTENG-KLENTENG DI JAKARTA


NO
NAMA KLENTENG
NAMA WIHARA
TAHUN
ALAMAT


1
JinDeYuan (KimTek Ie)
Wihara Dharma Bhakti
± 1650
Jl. Kemenangan III No. 13 (Petak 9)


2
Da Bo Gong An Xu Miao

± 1650
Ancol, dekat Tmn Impian Jaya Ancol


(3)
Bao En Si

± 1660
Jl. Pangeran Jayakarta, ujung Timur


(4)
Dan Rong Xuan Tian Shang Di Miao

± 1669
Kl. Univ Trisakti, Jl. Tanjung Gedong, seb Selatan Jl. Kyai Tapa


5
DaShiMiao (TwaSeBio)
Wihara Dharma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="border: 1px solid black; border-collapse: collapse; width: 428pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="570">
<col style="width: 25pt;" width="33"></col>
<col style="width: 102pt;" width="136"></col>
<col style="width: 100pt;" width="133"></col>
<col style="width: 51pt;" width="68"></col>
<col style="width: 150pt;" width="200"></col>
<tbody>
<tr style="height: 15.75pt; font-weight: bold;" height="21">
<td class="xl68" style="border: 1px solid black; height: 15.75pt; width: 428pt; text-align: center;" colspan="5" width="570" height="21">DAFTAR KRONOLOGIS<span> </span>KLENTENG-KLENTENG<span> </span>DI JAKARTA</td>
</tr>
<tr style="height: 18pt;" height="24">
<td class="xl69" style="border: 1px solid black; height: 18pt; text-align: center; font-weight: bold;" height="24">NO</td>
<td class="xl69" style="border: 1px solid black; text-align: center; font-weight: bold;">NAMA KLENTENG</td>
<td class="xl69" style="border: 1px solid black; text-align: center; font-weight: bold;">NAMA WIHARA</td>
<td class="xl69" style="border: 1px solid black; text-align: center; font-weight: bold;">TAHUN</td>
<td class="xl69" style="border: 1px solid black; text-align: center; font-weight: bold;">ALAMAT</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">1</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">JinDeYuan (KimTek Ie)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Bhakti</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1650</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kemenangan III No. 13 (Petak 9)</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">2</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Da Bo Gong An Xu Miao</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1650</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Ancol, dekat Tmn Impian Jaya Ancol</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(3)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Bao En Si</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1660</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Pangeran Jayakarta, ujung Timur</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(4)</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Dan Rong Xuan Tian Shang Di Miao</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1669</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Kl. Univ Trisakti, Jl. Tanjung Gedong, seb Selatan Jl. Kyai Tapa</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">5</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">DaShiMiao (TwaSeBio)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Jaya</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1751</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kemenangan III No. 48</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">6</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Chen Shi Zu Miao</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1757</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Blandongan 97</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">7</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wan Jie Si</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Budhayana</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1761</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Lautze 38</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(8)</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Klenteng Petani</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1774</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Kini Mal Tmn Anggrek, k.l di Jl. Tanjung Duren<span> </span></td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">9</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Tian Hou Gong</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dewi Samudra</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1784</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Bandengan Selatan</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">10</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Di Cang Yuan</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Tri Ratna</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1789</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Lautze 64</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">11</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Dan Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1792</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Tanjung Kait, dekat Mauk</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">12</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Lu Ban Gong</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1794</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Bandengan Selatan 36</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">13</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Klenteng Cileungsi</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">akhir abad ke-18<span> </span></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">60 km ke Selatan Jakarta</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">14</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Li Tie Guai</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Budhi Dharma</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1812</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Perniagaan Selatan</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">15</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Da Bo Gong</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Padi Lapa</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1823</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Pejagalan II</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(16)</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Di Cang Wang Miao</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1824</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">alamat dekat no. 8</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">17</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Nan Jing Miao</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Arya Marga</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1824</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Gg. Lamceng 6 (Jl. Perniagaan)</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">18</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Xin De Miao</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Jaya</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1825</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Pasar Baru</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">19</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Lu Dong Bin</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Paramita</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1826</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Angke 71</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">20</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Chen Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1830</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Pinangsia III/36</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">21</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Di Cang Wang Miao</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Sakti</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1830</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">alamat = no. 1</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">22</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">San Yuan Gong</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1847</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Batu 45</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">23</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Lu Guo Dai Fu</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1860</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Angke</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">24</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Ba Cheng Yi Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1865</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Batu 49</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">25</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Hong Xi Miao</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Tedja</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1869</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Gg. Jamhari, dekat Jl. Angke</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">26</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Liu Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1879</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Batu 59</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">27</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Jaya</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1885</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Gg. Kedondong, dekat Jl. Kali Lio</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">28</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Zhang Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1894</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Batu 68</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">29</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Liang Shi Zong Ci</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">akhir abad ke 19<span> </span></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Batu 42</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">30</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Khema, akhir abad ke-19</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Pecah Kulit, sebelah Selatan Jl. Pangeran Jayakarta</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(31)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Guo Sheng Wang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">akhir abad ke 19<span> </span></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kali Lio 30<span> </span>*</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">32</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Prayna Paramita, akhir abad ke-19</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Gajah Mada 36</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">33</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Fu De Gong</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">akhir abad ke 19<span> </span></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Pasar Lama 35, Jatinegara</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">34</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Guan Yin Tang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Avalokitesvara, akhir abad 19</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar II/12</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">35</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Guan Yin Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Avalokitesvara, akhir abad 19</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar Raya 58</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">36</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Yao Wang Gong</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Jati Dharma, Istana Raja Obat</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">akhir abad 19</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Petokangan 46-48</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(37)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Keramat Ayam</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">awal abad ke-20<span> </span></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kali Lio<span> </span>*</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(38)</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Keramat Kuda</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1904</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Lautze, seberang no. 7</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">39</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Tian Bao Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Budhis Avalokitesvara</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1920</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Raya Jatinegara 102</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">40</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Tong Shan Tang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Kusala Ratna</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1925</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar V</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">(41)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Yu Lian Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1927</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">telah hancur</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">42</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Kl. Pasar Tanah Abang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Avalokitesvara</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1928</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Pasar Tanah Abang</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">43</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">San Yuan Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Sanata Dharma</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1930</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Taman Sari Raya 70</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">44</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jing Fu Tang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Candra Sasana</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1930</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Taman Sari X/14</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">45</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Xiang Qing Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Budha Sasana</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1935</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar VIII/10</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">46</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Shan Fu Tang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Sasana Dipa</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1935</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Lima 164</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">47</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Nan Hua Si</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Nana Dasana</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1935</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Krendang</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">48</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Yu Qing Shan Tang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">(Guan Yi Tang)</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1936</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Tanah Sereal IV/17</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">49</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Tunggal Dharma</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1938</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Lautze 45</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">50</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Xuan Tan Gong</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Sakti</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1938</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">alamat = no. 1</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">51</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Gu Cheng Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">1950</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Pinangsia III/18</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">52</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Fu Pu Xian Zong Yi Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1950</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar V</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">53</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Cang Xia Jing She</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Candra Metta</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1950</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar Raya 122</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">54</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Dharma Yuga</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1950</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">alamat = no. 7</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">55</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Chi Yuan Kwan Yin Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Avalokitesvara</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1950</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kartini II/1</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">56</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Zhu Yuan An</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Juana Marga</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1952</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Lautze 26</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">57</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Ci Yuan An</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Amerta Dharma</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1955</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Krekot Bunder III/6</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">58</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Lai Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1955</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Jembatan Lima 204</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">59</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jia Wei Miao</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Sapto Ronggo</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1956</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Petojo VI J, III/68</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">60</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Yang Shi Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1956</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">alamat = no. 51</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">61</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">LingYingSi (Kl. Cilincing)</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Lali Tawis Tara</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">1957</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Cilincing</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">62</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Guan Yin Tang</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Avalokitesvara</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1958</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Gg. Mandor 8, dekat no. 7</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">63</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Ci Hang An</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Sila Amerta</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">1962</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kemurnian V/208</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">64</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jiu Li Dong</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Wihara Kampung Duri</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1963</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Gg. TSS 64, kini Jl. Duri</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">65</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Yong Qing Gong</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Jasodhara</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1963</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kebon Krendang 34</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">66</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Hui Ze Miao</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">(Hui Tek Bio)</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1964</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">alamat = no. 1</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">67</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Feng Huo Yuan</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Angin Api</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">1969</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Kemurnian V/26</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">68</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Li Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">± 1970</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Pinangsia 15</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">69</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Wihara Tilakhanna</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">± 1970</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Arabika 10</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">70</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Liao Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1971-72</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar V/277</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl70" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">71</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Lu Jiang Tang</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">1973</td>
<td class="xl70" style="border: 1px solid black;">Jl. Mangga Besar V/25</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl71" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt; text-align: center;" height="26">72</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Xie Shi Zong Ci</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;"></td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">1975</td>
<td class="xl71" style="border: 1px solid black;">Jl. Kartini I/33</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl66" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt;" colspan="5" height="26">NB: (…) = No Klenteng dalam kurung sudah tidak ada (dihancurkan)</td>
</tr>
<tr style="height: 20.1pt;" height="26">
<td class="xl66" style="border: 1px solid black; height: 20.1pt;" colspan="5" height="26">* = Dihancurkan pada tahun 1985</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;" height="20">
<td class="xl67" style="border: 1px solid black; height: 15pt;" colspan="5" height="20">Sumber: Dari Buku <span class="font6">Klenteng-Klenteng di Jakarta</span><span class="font5">, karangan Cl. Salmon &amp; D. Lombard</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="attachment_246" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/KronologiKltJkt-02.jpg"><img class="size-medium wp-image-246" title="DAFTAR KRONOLOGIS  KLENTENG-KLENTENG  DI JAKARTA" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2010/05/KronologiKltJkt-02-300x235.jpg" alt="DAFTAR KRONOLOGIS  KLENTENG-KLENTENG  DI JAKARTA" width="300" height="235" /></a><p class="wp-caption-text">DAFTAR KRONOLOGIS KLENTENG-KLENTENG DI JAKARTA</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/daftar-kronologis-klenteng-klenteng-di-jakarta/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
