<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buddhist Temple Jin De Yuan - Jakarta</title>
	<atom:link href="http://jindeyuan.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jindeyuan.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 May 2013 05:37:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bun Cu Pho Sat &#8211; Manjusri Bodhisatva</title>
		<link>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisatva-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisatva-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 05:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesesatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva
Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 Kesesatan (Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.
文殊菩薩Wen Shu Pu Sa {Hok Kian = Bun Cu Pho Sat} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva</strong></p>
<p>Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 <strong>Kesesatan </strong>(Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.</p>
<p><strong>文殊菩薩</strong><strong><em>Wen Shu Pu Sa</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Bun Cu Pho Sat</em></strong>} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh sebab itu, walaupun beliau bukan tokoh dalam sejarah, tapi karena beliau bisa menampilkan ciri khas dari ideologi agama Buddha secara jelas &amp; nyata, maka kedudukannya dalam agama Buddha sangat tinggi. Beliau adalah Bodhisatva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci. Bahkan ada kitab suci tertentu yang menyatakan bahwa Wen Shu Pu Sa adalah guru dari semua Buddha pada 3 masa kehidupan.</p>
<p>Wen Shu Pu Sa disebut juga 文殊師利<strong><em>Wen Shu Shi Li </em></strong>(baca: Wen Su Se Li), diterjemahkan secara bebas menjadi 妙吉祥 <strong><em>Miao Ji Xiang (Keberuntungan Yang Mukjizat), </em></strong>法王子 <strong><em>Fa Wang Zi (Putra Raja Dharma), </em></strong>dsb. Wen Shu Pu Sa yang mewakili kebijaksanaan, &amp; 普賢菩薩 <strong><em>Pu Xian Pu Sa</em></strong> yang mewakili Budi Pekerti, di kelenteng-kelenteng di Tiongkok &amp; Jepang seringkali ditampilkan di samping Sang Buddha Sakyamuni.</p>
<p>Manjusri adalah Bodhisatva Kebijaksanaan &amp; Pengetahuan, &amp; dianggap sejajar dengan Bodhisatva Avalokitesvara atau 觀音菩薩 <strong><em>Guan Yin Pu Sa </em></strong>{<strong><em>Kwan Im Pho Sat</em></strong>} yang merupakan Bodhisatva Welas Asih. Manjusri dalam bahasa Sansekerta berarti “Keagungan Yang Lemah Lembut”. Orang Tionghoa menganggap Manjusri adalah Bodhisatva yang memberi penerangan &amp; kebijaksanaan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma.</p>
<p>Tempat suci Bun Cu Pho Sat adalah di Gunung 五臺山 <strong><em>Wu Tai Shan</em></strong>, propinsi <em>Shan Xi</em>. Di tempat ini Bun Cu Pho Sat sering menampakkan kemukjizatannya. Gunung Wu Tai Shan ini adalah salah satu dari 4 gunung suci Buddhisme di Tiongkok, &amp; menjadi tempat berkumpul para penganut Bun Cu Pho Sat.  Walaupun untuk mencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit &amp; berliku-liku. Mereka ingin merasakan suatu ketentraman bathin dengan mencapai kelenteng Wen Shu Pu Sa yang berada di puncak gunung tersebut.</p>
<p>Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak umat di puncak gunung suci tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap sebagai “hallusinasi” dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki gunung tersebut. Namun harus diingat bahwa orang-orang yang naik ke sana umumnya adalah mereka yang ingin mencari “Kebijaksanaan”, &amp; mereka telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga mempunyai pikiran yang tidak akan mudah goyah atau tidak stabil, atau mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan hallusinasi tersebut.</p>
<p>Bentuk Bun Cu Pho Sat yang paling sering dilihat adalah tangan kanan memegang pedang mestika, tangan kiri memegang gulungan kitab suci, menunggang seekor singa berbulu hijau. Pedang mestika melambangkan kearifan yang dapat memutuskan semua kilesa (kegelisahan bathin). Gulungan kitab suci melambangkan kearifan yang seperti lautan &amp; menuntun umat manusia memasuki gudang kitab suci. Singa yang ditunggangi dihargai sebagai Raja Hewan, &amp; disebut juga <em>Auman Singa, </em>menyebarkan Dharma Buddha. Maka Bun Cu Pho Sat menunggang singa mengandung arti mengembangkan Buddha Dharma &amp; menyelamatkan umat manusia.</p>
<p>Dalam kisah <em>Miao Shan</em>, singa hijau Wen Shu Pu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api, sedangkan gajah putih Pu Xian Pu Sa adalah Dewa Air. Kedua Dewa ini menangkap rombongan Raja <em>Miao Zhuang</em> yang akan berziarah ke <em>Xiang Shan</em>, tempat Miao Shan. Kemudian keduanya ditaklukan oleh para Panglima Langit. Setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. <em>Miao Shu</em> (dalam versi yang lain disebut sebagai <em>Miao Qing</em>) diangkat sebagai Wen Shu Pu Sa &amp; <em>Miao Yin</em> diangkat sebagai Pu Xian Pu Sa. Walaupun Wen Shu Pu Sa &amp; Pu Xian Pu Sa berasal dari India, akhirnya mempunyai bentuk Tionghoa 100 %.</p>
<p>Kelenteng yang khusus untuk menghormati Bun Cu Pho Sat jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan tersebut. Namun arca-arcanya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Bun Cu Pho Sat sering ditampilkan dalam bentuk <strong>3 Serangkai</strong> bersama dengan Buddha Sakyamuni &amp; Pho Hian Pho Sat. Atau bersama dengan <strong>Kwan Im Pho Sat</strong> &amp; <strong>Pho Hian Pho Sat</strong>.</p>
<p>Dalam bentuk 3 Serangkai dengan Kwan Im, biasanya Bun Cu Pho Sat &amp; Pho Hian Pho Sat ditampilkan dalam wujud wanita. Kwan Im sebagai lambang Maha Pengasih &amp; Penyayang, Bun Cu melambangkan kebijaksanaan, Pho Hian sebagai lambang pelaksanaan cinta kasih. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme.</p>
<p>Hari lahir Wen Shu Pu Sa diperingati setiap tanggal 4 bulan 4 Imlek, &amp; diperingati secara khusus setiap tahun oleh umat Buddhisme Zen.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_865" class="wp-caption aligncenter" style="width: 327px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/BunCuPhoSat_05.jpg"><img class="size-full wp-image-865" title="Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/BunCuPhoSat_05.jpg" alt="Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva" width="317" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Bun Cu Pho Sat – Manjusri Bodhisatva</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/bun-cu-pho-sat-manjusri-bodhisatva-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Can Khui Co Su &#8211; Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</title>
		<link>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-5/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-5/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 May 2013 05:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[dewa]]></category>
		<category><![CDATA[Malu]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[Can Khui Co Su &#8211; Dewa Pelindung Masyarakat Hakka
Dalam Kitab Suci Buddha ada tertulis : Perbedaan terbesar antara manusia dengan hewan adalah karena manusia memiliki rasa malu. Malu di sini berarti malu berbuat kejahatan, malu berbuat dosa. Seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, semasa masih hidup banyak berbuat amal kebajikan, maka setelah meninggal dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Can Khui Co Su &#8211; Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</strong></p>
<p>Dalam Kitab Suci Buddha ada tertulis : Perbedaan terbesar antara manusia dengan hewan adalah karena manusia memiliki rasa malu. Malu di sini berarti malu berbuat kejahatan, malu berbuat dosa. Seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, semasa masih hidup banyak berbuat amal kebajikan, maka setelah meninggal dunia ia dapat menjadi dewa. Dalam bahasa Mandarin, <strong><em>Can Kui</em></strong> berarti rasa malu. Disebut <strong><em>Can Kui Zu Shi</em></strong>, bukan karena beliau malu telah berbuat kejahatan, melainkan beliau merasa malu karena diri sendiri merasa kebajikan yang telah dilakukan masih belum cukup.</p>
<p>慚愧祖師 <strong><em>Can Kui Zu Shi</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Can Khui Co Su</em></strong>} adalah Dewa Pelindung yang dipuja oleh masyarakat keturunan Hakka. Nama asli Can Kui Zu Shi adalah <strong><em>Pan Liao Quan</em></strong>. Beliau adalah seorang Bikkhu yang berasal dari Yan Ping, propinsi Fu Jian.</p>
<p>Konon, pada waktu dilahirkan, ia tak dapat membuka sebelah tangannya. Ketika seorang Bikkhu menuliskan sebuah huruf <strong><em>Liao </em></strong>di punggung tangan yang terkatup itu, barulah tangannya berhasil dibuka. Karena itu ia diberi nama <strong><em>Liao Qian </em></strong>yang berarti “Tinju Ulung”.</p>
<p>Pada waktu kecil beliau hidup sebagai pengembala ternak. Untuk menjaga agar ternaknya tidak pergi ke tempat yang jauh, ia menggambar lingkaran di tanah sekeliling rombongan sapinya. Anehnya, ternyata tidak ada seekor sapipun yang keluar dari lingkaran tersebut.</p>
<p>Pan Liao Quan menjadi Bikkhu di bukit Yun Nan Shan, Kabupaten Mei Xian, propinsi Guang Dong. Di sana ia mendirikan kelenteng yang terkenal sampai sekarang, 靈光寺 <strong><em>Ling Guang Si</em></strong> yang merupakan salah satu kelenteng tertua di daerah tersebut.</p>
<p>Satu keanehan yang menakjubkan orang hingga kini adalah sampai sekarang di depan kelenteng tersebut terdapat sepasang pohon cemara (siong); yang satu masih hidup dan segar sedangkan yang ke dua sudah mati dan kering. Namun tinggi dari ke dua pohon tersebut selalu sama tinggi. Pohon yang hidup tidak pernah lebih tinggi daripada pohon yang mati. Selain itu kelenteng Ling Guang Si meskipun dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi &amp; lebat, tidak selembar daunpun yang pernah terlihat jatuh mengotori atap kelenteng Ling Guang Si, &amp; tidak tampak seekor burung pun yang bersarang di atapnya. Keanehan ini menjadikan Ling Guang Si menjadi obyek wisata yang sangat penting di daerah tersebut.</p>
<p>Pemujaan Can Khui Co Su dibawa oleh para imigran Hakka sampai ke Taiwan &amp; Asia Tenggara. Di Taiwan terdapat lebih dari 20 kelenteng Can Khui Co Su, sebagian besar terdapat di Nan Tou. Di Indonesia, selain di Kelenteng Kim Tek Ie ini, pemujaan kepada Can Khui Co Su juga terdapat di Kelenteng Ling Guang Si, Jakarta.</p>
<p>Hari kelahiran Can Khui Co Su diperingati setiap tanggal 25 bulan 3 penanggalan Imlek. Menurut catatan, beliau wafat pada tahun 861 M.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong></p>
<div id="attachment_861" class="wp-caption aligncenter" style="width: 206px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/CamKuiCoSu_05.jpg"><img class="size-full wp-image-861" title="Can Khui Co Su - Dewa Pelindung Masyarakat Hakka" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/CamKuiCoSu_05.jpg" alt="Can Khui Co Su - Dewa Pelindung Masyarakat Hakka" width="196" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Can Khui Co Su - Dewa Pelindung Masyarakat Hakka</p></div>
<p></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/can-khui-co-su-dewa-pelindung-masyarakat-hakka-5/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ma Co &#8211; Dewi Pelindung Pelayaran</title>
		<link>http://jindeyuan.org/ma-co-dewi-pelindung-pelayaran-6/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/ma-co-dewi-pelindung-pelayaran-6/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 14:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Bei Gang]]></category>
		<category><![CDATA[Kang Xi]]></category>
		<category><![CDATA[Tian Hou]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran
媽祖 Ma Zu {Hok Kian = Ma Co} adalah salah satu dari khasanah Dewata Tiongkok yang paling dihormati di kalangan rakyat. Oleh orang di luar Tiongkok  Ma Co dijuluki sebagai “Dewi Laut dari Tiongkok”, Kelenteng-kelenteng Ma Co di Taiwan saja, jumlahnya mencapai 800 buah. Kelenteng yang paling ramai adalah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran</strong></p>
<p>媽祖 <strong><em>Ma Zu</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Ma Co</em></strong>} adalah salah satu dari khasanah Dewata Tiongkok yang paling dihormati di kalangan rakyat. Oleh orang di luar Tiongkok  Ma Co dijuluki sebagai “Dewi Laut dari Tiongkok”, Kelenteng-kelenteng Ma Co di Taiwan saja, jumlahnya mencapai 800 buah. Kelenteng yang paling ramai adalah di 北港 <strong><em>Bei Gang</em></strong> (baca: Pei Kang). Setiap tahun pada tanggal 23 bulan 3 Imlek (bertepatan dengan Ulang Tahun Ma Zu), orang yang datang bersembahyang di kelenteng ini, jumlahnya mencapai 1 juta orang lebih.</p>
<p>Ma Co dikenal juga dengan sebutan 天上聖母 <strong><em>Tian Shang Sheng Mu </em></strong><em>{<strong>Thian Siang Sing Bu</strong>}.</em> Panggilan akrab beliau adalah 媽祖婆 <strong><em>Ma Co Po. </em></strong>Nama aslinya adalah<em> </em>林默娘<em> </em><em> </em><strong><em>Lin Mo Niang</em></strong><em> {<strong>Lim Bik Nio</strong>}, </em>lahir di propinsi 福建 <em>Fu Jian</em> {<em>Hok Kian</em>}, pulau 湄洲 <em>Mei Zhou {Bi Ciu}</em> dekat 莆田 <em>Pu Tian {Poh Chan}</em>. Lin Mo Niang lahir pada malam hari tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun 960 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian Long pertama. Sewaktu dilahirkan sinar merah menyorot dari langit ke kamar bersalinnya &amp; bau harum tercium ke mana-mana. Mengapa diberi nama Mo, yang berarti diam? Sejak dilahirkan sampai berusia 1 bulan lebih, Ma Zu tidak pernah menangis sama sekali. Maka ayahnya memberi nama Lin Mo Niang (Gadis Pendiam).</p>
<p>Sejak masih dalam gendongan (berusia sekitar 1 tahun), begitu melihat Buddha Rupang atau arca dewa, beliau langsung memberi hormat dengan <em>Pai</em> &#8211; bersikap <em>Anjali </em>(sikap sembahyang dengan kedua tangan ditelungkupkan di depan dada). Sewaktu berusia 5 tahun, Lim Bik Nio bisa membaca 觀音經 <strong><em>Guan Yin Jing {Kwan Im Keng = Kitab Suci Kwan Im}</em></strong> di luar kepala. Hal ini membuktikan bahwa Lim Bik Nio memiliki sebab jodoh yang mendalam dengan Buddha &amp; Dewa.</p>
<p>Pada usia sekolah beliau dapat mencerna pelajaran-pelajaran <strong><em>San Jiao {Sam Kaw = Tridharma: Buddha, Taoisme, Khong Hu Cu}</em></strong> dengan pemahaman yang luar biasa. Selain tekun belajar, ia juga tekun bersembahyang. Ia sangat berbakti kepada orangtuanya, &amp; suka menolong para tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Oleh karena itu penduduk desa sangat menghormatinya.</p>
<p>Setelah cukup dewasa beliau tak mau menikah walau dipinang oleh hartawan <em>Bu</em> dari Hok Kian. Misinya datang ke dunia untuk menolong umat manusia mulai menampakkan gregetnya pada usia 16 tahun.</p>
<p>Lim Bik Nio amat mengerti ilmu falak &amp; peredaran cuaca. Kehidupan di tepi laut menempanya menjadi seorang gadis yang tak gentar menghadapi dahsyatnya angin topan &amp; gelombang yang dihadapi para pelaut. Selain itu, ia juga dapat menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan para penduduk desa menyebutnya sebagai 靈女 <strong><em>Ling Ni</em></strong><em> </em>yang berarti Gadis Mukjizat, 龍女 <strong><em>Long Ni</em></strong><em> </em>(Gadis Naga), &amp; 神姑 <strong><em>Shen Gu</em></strong><em> </em>(Bibi yang Sakti).</p>
<p>Dalam usia 23 tahun, Lim Bik Nio berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah <em>Qian Li Yan {Cian Li Gan}</em> yang dapat melihat sejauh ribuan <em>Li,</em> &amp; <em>Sun Feng Er {Sun Hong Ni}</em> yang dapat mendengar ribuan kilometer, kemudian menjadi pengawalnya. Selanjutnya Lim Bik Nio banyak membantu rakyat membasmi kejahatan &amp; menolong kapal-kapal yang diserang badai di laut. Karena kebajikannya ini namanya terkenal di seluruh propinsi.</p>
<p>Suatu ketika beliau tidur, dalam penglihatannya tampak ayah &amp; kedua kakak laki-lakinya mendapat bahaya di tengah laut. Perahu yang ditumpangi dihantam gelombang hingga pecah berantakan. Tak ayal lagi Bik Nio terbang dari atas langit &amp; turun untuk menolong mereka. Kakak tertua dipegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar kakak kedua. Ayahnya yang telah tak berdaya ditolongnya dengan menggigit baju sang ayah. Apa lacur ibunda Bik Nio membangunkan dari tidurnya karena mendengar suara ganjil Bik Nio seperti sedang mengigau. Bik Nio pun tersentak bangun. Setelah tenang, Bik Nio menuturkan kepada ibunya bahwa ia baru saja menolong kedua kakaknya, namun sang ayah tak tertolong karena ketika sedang menggigit baju sang ayah, ia menjawab panggilan ibu (yang membangunkannya). Sehingga mulutnya terbuka &amp; gigitannya terlepas.</p>
<p>Sejak itu misi Ke-Ilahiannya semakin kental, beliau menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan di laut.</p>
<p>Pada perayaan Tiong Yang, tanggal 9 bulan 9 Imlek tahun 987 Masehi, sewaktu berusia 27 tahun, Lim Bik Nio naik ke surga. Pagi hari itu, penduduk Mei Zhou melihat awan warna-warni menyelimuti pulau tersebut. Di angkasa terdengar musik yang amat merdu. Terlihat Lim Bik Nio perlahan-lahan naik ke angkasa &amp; menjadi Dewi. Setahun kemudian, penduduk mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga. Kelenteng yang didirikan di Mei Zhou ini merupakan Kelenteng Ma Zu yang pertama di Tiongkok.</p>
<p>Seperti halnya <strong><em>Kwan Kong </em></strong>yang dihormati di seluruh dunia, Ma Co pun dipuja dengan penuh penghormatan. Karena tanpa beliau orang-orang Tionghoa yang melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, mustahil dapat tiba dengan selamat. Mengingat teknologi kebaharian pada waktu itu sangat terbatas. Di mana kaum imigran itu sampai, di situlah mereka mendirikan kelenteng untuk menghormati Ma Co yang telah melindungi selama dalam pelayaran.</p>
<p>Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari propinsi Hok Kian sangat berkembang. Namun para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara bahaya yang setiap saat bisa mengancam. Untuk memohon perlindungan &amp; keselamatan, arca Ma Co selalu dibawa serta ke mana-mana. Kisah kemukjizatan tentang pemunculan Dewi Ma Zu dalam memberi pertolongan kepada para pelaut mulai tersebar.</p>
<p>Pada tahun 1122 M, Kaisar <strong><em>Song Hui Zong</em></strong> memerintahkan seorang menteri yang bernama <em>Lu Yun Di</em> untuk menjadi Duta ke negeri <strong><em>Gao Li</em></strong> (sekarang Korea). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ikut berlayar, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang dinaiki Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main. Ia bertanya kepada anak buahnya, siapakah Dewa yang telah menyelamatkan mereka? Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian &amp; biasa bersembahyang kepada Dewi Ma Zu. Ia lalu mengatakan kepada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi yang berasal dari pulau Mei Zhou yaitu Lin Mo Niang. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini kepada Kaisar Song Hui Zong. Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar <strong><em>Sun Ji Fu Ren </em></strong>kepada Lin Mo Niang &amp; sebuah papan bertuliskan <strong><em>Sun Ji, </em></strong>yang berarti <em>Pertolongan Yang Amat Dibutuhkan. </em>Hasil tulisan tangan sang Kaisar lalu dipasang di kelenteng di Mei Zhou. Sejak itulah pemujaan terhadap Ma Zu mulai mendapat pengakuan resmi dari Kerajaan.</p>
<p>Sejak zaman Dinasti Song [960 – 1279 M] sampai Dinasti Qing [1644 – 1911 M], kerajaan telah menganugerahkan tidak kurang dari 28 gelar kehormatan kepada Ma Zu. Gelar-gelar itu antara lain adalah : <strong>Fu Ren </strong>yang berarti Nyonya Agung, <strong>Tian Hou </strong>atau <strong>Tian Fei </strong>(Permaisuri Surgawi), <strong>Tian Shang Sheng Mu </strong>(Bunda Suci dari Langit), <strong>Ma Zu Po </strong>(Bunda Ma Zu).</p>
<p>Sejak Dinasti Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok Timur yang memanjang dari Utara sampai ke Selatan seperti : <em>Dan Dong, Yan Tai, Qin Huang Dao, Tian Jin, Shang Hai, Ning Po, Hang Zhou, Fu Zhou, Xia Men, Guang Zhou, Macao </em>dan lain-lain, telah bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini. Ma Zu telah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Mei Zhou saja.</p>
<p>Telah menjadi kebiasaan pada waktu itu, sebelum pelayaran dimulai, selalu diadakan sembahyang besar untuk mohon perlindungan Ma Zu. Pada setiap kapal pun selalu disediakan ruang sembahyang untuk arcanya.</p>
<p>Pelaut terkenal pada masa Dinasti Ming, <strong><em>Zheng He {Ceng Ho}, </em></strong>yang dikenal dengan sebutan <strong><em>San Bao Da Ren {Sam Po Tai Jin}</em></strong>, walaupun seorang Islam, tidak melupakan kebiasaan ini. 7 kali Zheng He memimpin armada besar yang terdiri dari puluhan kapal, mengunjungi berbagai negeri Asia &amp; Afrika. Setiap akan memulai pelayarannya, Zheng He selalu memimpin upacara sembahyang besar kepada Ma Zu untuk memohon perlindungan akan keselamatan perjalanannya.</p>
<p>Pada pelayaran Ceng Ho yang ke-3 kali yaitu pada tahun  1409 M (Tahun ke-7 pemerintahan Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming), atas perintah Kaisar, Ceng Ho menyempatkan diri bersembahyang di kelenteng Ma Zu di pulau Mei Zhou. Sebuah prasasti peninggalan Ceng Ho yang terdapat di <em>Zhang Le, </em>propinsi Fu Jian, secara teliti menyebutkan bahwa keselamatan perjalanan Zheng He sampai berhasil menyelesaikan tugas melakukan kunjungan muhibah ke manca Negara sampai 7 X, adalah berkat kemukjizatan &amp; perlindungan Tian Shang Sheng Mu. Gelar <strong>Tian Fei</strong> dianugerahkan kepada Ma Zu pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le zaman Dinasti Ming, berkat perlindungannya pada armada Ceng Ho.</p>
<p>Pada masa Dinasti Ming ini, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk propinsi Hok Kian yang pergi merantau, penghormatan kepada Ma Zu memasuki pulau Taiwan. Kelenteng Ma Zu tertua di propinsi Taiwan adalah yang terdapat di kota <strong><em>Ma Gong</em></strong>, kepulauan <em>Peng Hu</em>. Kini di Taiwan terdapat lebih dari 800 buah kelenteng Ma Zu, dan dua per tiga penduduknya memuja arcanya di dalam rumah.</p>
<p>Kelenteng Ma Zu terbesar &amp; paling ramai dikunjungi orang di Taiwan adalah di Bei Gang. Arca Tian Fei yang dihormati di sini berasal dari Mei Zhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar <strong><em>Kang Xi. </em></strong>Gelar kehormatan <strong><em>Tian Hou</em></strong> adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan Kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan. Dengan demikian <strong>Bei Gang </strong>dianggap tempat suci bagi penghormatan Ma Zu. Setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun Ma Zu (tanggal 23 bulan 3 Imlek), jutaan warga Taiwan membanjiri kota Bei Gang untuk berziarah.</p>
<p>Penghormatan kepada Ma Zu juga bermunculan di banyak negara, bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai penjuru dunia. Di negara-negara seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, bahkan hingga ke Amerika Serikat, dan lain-lain, di mana banyak bermukim para Tionghoa perantau, banyak dijumpai Kelenteng Ma Zu. Di Jepang, penghormatan kepada Ma Zu dimulai pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang, Sui Hu, Ma Zu telah dimasukkan ke dalam jajaran Dewata Jepang, &amp; dihormati di kuil utama kota itu. Di Jepang terdapat tak kurang dari 100 buah kuil Ma Zu.</p>
<p>Ma Zu selalu ditampilkan sebagai seorang Dewi yang cantik &amp; berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dengan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) &amp; Sun Feng Er (Si Kuping Angin). Qian Li Yan berkulit hijau kebiru-biruan dengan mulut bertaring, &amp; senjata tombak bercagak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, &amp; bersenjata kapak bergagang panjang.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_857" class="wp-caption aligncenter" style="width: 240px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/MaCu_06.jpg"><img class="size-full wp-image-857" title="Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/MaCu_06.jpg" alt="Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran" width="230" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Ma Co – Dewi Pelindung Pelayaran</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/ma-co-dewi-pelindung-pelayaran-6/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciam Si Umum Tahun 2013 &#8211; Wihara Dharma Bhakti Jin De Yuan</title>
		<link>http://jindeyuan.org/ciam-si-umum-tahun-2013-wihara-dharma-bhakti-jin-de-yuan/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/ciam-si-umum-tahun-2013-wihara-dharma-bhakti-jin-de-yuan/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 May 2013 16:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciamsi]]></category>
		<category><![CDATA[2013]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Dagang]]></category>
		<category><![CDATA[Fortune]]></category>
		<category><![CDATA[keselamatan]]></category>
		<category><![CDATA[nasib]]></category>
		<category><![CDATA[Ramalan]]></category>
		<category><![CDATA[Rejeki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_850" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/Ciam-Si-Umum-2013.jpg"><img class="size-large wp-image-850" title="Ciam Si Umum 2013" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/05/Ciam-Si-Umum-2013-648x1024.jpg" alt="Ciam Si Umum Tahun 2013 - Wihara Dharma Bhakti Jin De Yuan" width="450" height="711" /></a><p class="wp-caption-text">Ciam Si Umum Tahun 2013 - Wihara Dharma Bhakti Jin De Yuan</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/ciam-si-umum-tahun-2013-wihara-dharma-bhakti-jin-de-yuan/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hian Thian Siang Te &#8211; Dewa Langit Utara</title>
		<link>http://jindeyuan.org/hian-thian-siang-te-dewa-langit-utara-5/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/hian-thian-siang-te-dewa-langit-utara-5/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Apr 2013 03:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Hormat]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[Utara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=846</guid>
		<description><![CDATA[Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara
玄天上帝Xuan Tian Shang Di {Hok Kian = Hian Thian Siong Te} oleh sebagian orang disebut sebagai 上帝公Shang Di Gong {Siong Te Kong}. Nama lain Hian Thian Siong Te adalah 玄天大帝 Xuan Tian Da Di、元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara</strong></p>
<p>玄天上帝<strong><em>Xuan Tian Shang Di</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Hian Thian Siong Te</em></strong><em>}</em> oleh sebagian orang disebut sebagai 上帝公<strong><em>Shang Di Gong</em></strong><em> {<strong>Siong Te Kong</strong>}</em>. Nama lain Hian Thian Siong Te adalah 玄天大帝 Xuan Tian Da Di、元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian Da Di、玄武帝 Xuan Wu Di、真武帝 Zhen Wu Di、元武帝 Yuan Wu Di, adalah salah satu Dewa yang paling terkenal dengan wilayah penghormatan yang amat luas, dari Tiongkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia &amp; Indonesia. Kedudukannya di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, berada setingkat di bawah <em>Yu Huang Da Di {Giok Hong Tai Te}. </em>Merupakan salah satu dari <em>Si Tian Shang Di</em> (baca: Se Thian Sang Ti = Empat Maha Raja Langit), yang terdiri dari :</p>
<ol>
<li>青天上帝 Qing Tian Shang Di      di Timur.</li>
<li>殷天上帝 Yan Tian Shang Di      di Selatan.</li>
<li>白天上帝 Bai Tian Shang Di      di Barat.</li>
<li>玄天上帝 Xuan Tian Shang Di      di Utara.</li>
</ol>
<p>Hian Thian Siang Te mempunyai kekuasaan di Langit bagian Utara &amp; menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di kawasan tersebut. Arcanya selalu digambarkan dengan menginjak kura-kura &amp; ular. <strong><em>Xuan Wu</em></strong> adalah dewa yang berkedudukan di wilayah Utara &amp; dilambangkan sebagai ular &amp; kura-kura. Hian Thian Siang Te<em> </em>yang disebut juga <strong><em>Zhen Wu Da Di</em></strong><em> {<strong>Cin Bu Tay Tee</strong>}</em> adalah <em>Xuan Wu. </em>Pada zaman Dinasti Song secara resmi huruf Xuan diganti Zhen, dan sebutan Xuan Wu diganti menjadi Zhen Wu Da Di. Di sebelah kiri &amp; kanan Hian Thian Siang Te biasanya terdapat 2 orang pengawal yaitu Jendral Zhao &amp; Jendral Kang.</p>
<p>Penghormatan kepada  Hian Thian Siang Te mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakan Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di Pegunungan <em>Wu Tang Shan {Bu Tong San}, </em>propinsi<em> Hu Bei, </em>dalam sebuah Kelenteng <em>Shang Di Miao. </em>Berkat perlindungan Hian Thian Siang Te, Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol, yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya.</p>
<p>Kemudian berkat bantuan Hian Thian Siang Te pula, Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongolia dan menumbangkan Dinasti Yuan. Zhu Yuan Zhang mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.</p>
<p>Untuk mengenang jasa-jasa Hian Thian Siang Te &amp; berterima kasih atas perlindungannya, Zhu Yuan Zhang lalu mendirikan kelenteng penghormatan kepadanya di ibukota Nan Jing (Nan King) &amp; di Gunung Bu Tong San. Sejak itu Bu Tong San menjadi tempat suci bagi penganut Taoisme. Kemudian penghormatan kepada Hian Thian Siang Te meluas ke seluruh negeri, &amp; hampir di setiap kota besar ada kelenteng yang menghormatinya. Kelenteng Hian Thian Siang Te dengan arcanya yang terbuat dari tembaga, bisa dilihat sampai sekarang. Selain itu Hian Thian Siang Te juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara.</p>
<p>Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong {Siang Te Kong} didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, &amp; menjadi pusat pemujaan bersama rakyat &amp; tentara. Oleh karena itu, kelenteng Shang Di Miao {Siang Te Bio} tersebar di berbagai tempat. Di antaranya yang terbesar adalah di Tai Nan (Taiwan Selatan), yang dibangun pada saat Belanda berkuasa di Taiwan.</p>
<p>Setelah kekuasaan Zheng Cheng Gong jatuh, Dinasti Qing dari Manzhu yang berkuasa, mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebenarnya adalah seorang tukang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan &amp; mengikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng ajaran Buddha tentang seorang tukang jagal yang telah bertobat, lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya &amp; menjadi pengikut Buddha. Kura-kura &amp; ular yang diinjak tersebut dikatakan sebagai usus &amp; jeroan si tukang jagal. Oleh karena itu tingkatannya diturunkan menjadi Malaikat Pelindung Pejagalan.</p>
<p>Sejak itu pembangunan kelenteng-kelenteng Siang Te Bio amat berkurang. Pada masa ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu Shi Miao di Tai Nan.</p>
<p>Namun sebenarnya Kaisar-Kaisar Manzhu sangat menghormati Hian Thian Siang Te, terbukti dengan dibangunnya kelenteng penghormatan khusus untuk Hian Thian Siang Te di komplek Kota Terlarang, Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian. Satu kelenteng lagi dibangun di Istana Persinggahan di Cheng De.</p>
<p>Wu Dang Shan, gunung suci para penganut Taoisme, terletak di propinsi Hu Bei, Tiongkok Tengah. Sejak zaman Dinasti Tang, kelenteng-kelenteng sudah mulai didirikan di sana. Namun pembangunan secara besar-besaran adalah pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le pada zaman Dinasti Ming. Hal ini tidak mengherankan karena Xuan Tian Shang Di diangkat sebagai Dewa Pelindung Kerajaan.</p>
<p>Di antara kelenteng-kelenteng di sana yang terkenal adalah <em>Yu Xu Gong {Giok Hi Kiong}</em> dengan bangunannya bergaya istana Beijing, terletak di bagian Barat Laut puncak utama Bu Tong San. Adalagi kelenteng <em>Yu Zhen Gong</em> yang dibangun pada tahun Yong Le ke-15, terletak di kaki Utara Bu Tong San. Di kelenteng ini terdapat penghormatan &amp; arca <em>Zhang San Feng {Thio Sam Hong}, </em>pendiri perguruan silat cabang <em>Wu Dang {Bu Tong Pay}.</em></p>
<p>Bangunan kuil yang paling lengkap adalah kelenteng <em>Zi Xiao Gong </em>yang terletak di puncak Timur Laut, merupakan pusat dari keseluruhan rangkaian tempat ibadah di gunung tersebut. Arca perunggu Hian Thian Siang Tee hasil pahatan Guru Ji (pemahat ulung dari Korea yang amat terkenal sampai ke manca negara) ditempatkan di sini. Di kelenteng ini dapat terlihat lambang Gunung Bu Tong San yaitu patung kura-kura &amp; ular. Patung logam itu menggambarkan seekor kura-kura sedang dililit erat-erat oleh seekor ular. Katanya sang ular bermaksud memaksa sang kura-kura memuntahkan semua isi perutnya.</p>
<p>Menurut kepercayaan, kura-kura tersebut berasal dari perut besar (lambung/maag), &amp; sang ular dari usus Zhen Wu yang berubah ujud. Dikisahkan bahwa suatu ketika dalam samadhinya yang tanpa makan &amp; minum, Zhen Wu merasakan usus &amp; lambungnya sedang bertengkar. Rupanya rasa lapar yang amat sangat menyebabkan kedua organ tubuh tersebut saling menyalahkan. Zhen Wu menyadari kalau dibiarkan, hal ini dapat mempengaruhi ketentraman batinnya. Dalam kejengkelannya, ia membelah perutnya &amp; mengeluarkan kedua organ tubuh tersebut, lalu melemparkan ke rerumputan di belakangnya. Kemudian seperti tanpa terjadi sesuatu ia melanjutkan samadhinya.</p>
<p>Sang lambung &amp; usus karena setiap hari mendengarkan Zhen Wu membaca ayat-ayat suci Tao, lama kelamaan memiliki tenaga gaib juga. Keduanya lalu berubah menjadi kura-kura &amp; ular, kemudian menyelinap turun gunung untuk memakan ternak &amp; juga manusia. Zhen Wu yang telah menjadi Dewa, amat murka akan kejadian ini. Dengan mengendarai awan &amp; pedang terhunus ia turun gunung. Tebasan pedangnya di punggung kura-kura meninggalkan bekas sampai sekarang. Sejak itu di punggung kura-kura tampak guratan-guratan seperti bekas tebasan pedang. Dengan tali wasiat diikatnya leher sang ular, sehingga sejak itu leher ular menjadi lebih kecil daripada tubuhnya.</p>
<p>Setelah ditaklukkan, kura-kura &amp; ular memperoleh pangkat <em>Er Jiang </em>yang berarti “Dua Panglima”, dan menjadi landasan tempat duduk Zhen Wu Da Di. Tapi sang kura-kura rupanya masih belum hilang watak silumannya. Hal ini diketahui oleh Zhen Wu, beliau lalu menyuruh sang ular melilit tubuh kura-kura erat-erat, agar segala benda yang telah ditelannya dimuntahkan kembali, &amp; agar mengungkapkan semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Patung kura-kura &amp; ular ini sampai sekarang masih ada di ruang belakang kelenteng Zi Xiao Gong, &amp; selanjutnya dijadikan logo yang melambangkan gunung Bu Tong San.</p>
<p>Masih ada 1 peninggalan penting yang ada kaitannya dengan Hian Thian Siang Tee, yaitu sebuah sumur yang dinamakan <strong><em>Mo Zhen Jing</em></strong> (Sumur tempat mengasah jarum). Konon pada waktu Zhen Wu sedang melakukan tapa di gunung ini, hatinya merasa goyah. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Sampai di tepi sumur ini ia melihat seorang wanita tua sedang mengasah alu besi. Zhen Wu merasa heran, lalu menanyakan apa maksud si nenek mengasah alu besi. Dengan tertawa si nenek berkata bahwa ia sedang mengasah alu untuk membuat jarum sulam. Mendengar jawaban ini Zhen Wu baru menyadari maksud yang terkandung di balik perkataan sang nenek. Segera ia kembali ke atas gunung untuk melanjutkan tapanya. Nama <em>Mo Zhen Jing</em> kemudian menjadi terkenal. Kini di dekat sumur itu dibangun rangon &amp; patung seorang nenek tua yang sedang mengasah alu.</p>
<p>Sehubungan dengan kura-kura &amp; ular ini, para pengusaha rakit bambu di Taiwan &amp; Hongkong sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee, agar kura-kura &amp; ular di sungai-sungai tidak berani menimbulkan ombak &amp; gelombang yang mengancam usaha mereka. Selain di Taiwan &amp; Hongkong, persembahyangan kepada Hian Thian Siang Tee ini telah menyebar ke Asia Tenggara, terutama di Malaysia, Singapura &amp; Indonesia. Di Singapura, kelenteng Wak Hai   Cheng Bio di Philip Street, terkenal sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee. Di Indonesia hampir setiap kelenteng menyediakan altar untuknya.</p>
<p>Menurut cerita, Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang, sebagian besar kelenteng ada menyediakan altar khusus untuknya. Sedangkan kelenteng yang khusus sembahyang Hian Thian Siang Tee sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen &amp; Bugangan.</p>
<p>Hian Thian Siang Tee (Zhen Wu Da Di / Cin Bu Tay Tee) ditampilkan sebagai seorang dewa yang memakai pakaian perang keemasan dengan tangan kanan menghunus pedang penakluk iblis, kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura &amp; ular. Hari <em>Se Jit</em> Hian Thian Siang Te diperingati setiap <em>Ji Gwe Ji Cap Go </em>(tanggal 25 bulan 2 Imlek).</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_650" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/HianThianSiangTe_04.jpg"><img class="size-full wp-image-650" title="Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/HianThianSiangTe_04.jpg" alt="Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara" width="300" height="274" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/hian-thian-siang-te-dewa-langit-utara-5/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pho Hien Pho Sat &#8211; Bodhisatva Samanta Bhadra</title>
		<link>http://jindeyuan.org/pho-hien-pho-sat-bodhisatva-samanta-bhadra-5/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/pho-hien-pho-sat-bodhisatva-samanta-bhadra-5/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 17:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Bhadra]]></category>
		<category><![CDATA[Samanta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[
  Pho Hien Pho Sat - Bodhisatva Samanta Bhadra
 普賢菩薩Pu Xian Pu Sa {Hok Kian = Pho Hien Pho Sat} dalam bahasa Sansekerta adalah Bodhisatva Samanta Bhadra yang berarti Kebajikan Yang Universal. Pho Hien Pho Sat merupakan perwujudan dari cinta, kebajikan, ketekunan, kesabaran &#38; aktivitas yang suci. Dalam khasanah Dewata Tiongkok, Pu Xian Pu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OfficeDocumentSettings> <o:AllowPNG /> <o:TargetScreenSize>1024&#215;768</o:TargetScreenSize> </o:OfficeDocumentSettings> </xml><![endif]--></p>
<p style="text-align: center;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>IN</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>ZH-CN</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> <w:UseFELayout /> </w:Compatibility> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif] --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} --> <!--[endif] --><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 16.0pt;" lang="EN-US">Pho Hien Pho Sat </span></strong><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 16.0pt; mso-ansi-language: IN;">-</span></strong><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 16.0pt;" lang="EN-US"> Bodhisatva Samanta Bhadra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span lang="EN-US"><span style="mso-tab-count: 1;"> </span></span></strong><span style="font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW">普賢菩薩</span><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">Pu Xian Pu Sa</span></em></strong><span lang="EN-US"> {Hok Kian = <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;">Pho Hien Pho Sat</em></strong>} dalam bahasa Sansekerta adalah <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">Bodhisatva Samanta Bhadra</strong> yang berarti <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kebajikan Yang Universal. </em>Pho Hien Pho Sat merupakan perwujudan dari cinta, kebajikan, ketekunan, kesabaran &amp; aktivitas yang suci. Dalam khasanah Dewata Tiongkok, Pu Xian Pu Sa ditampilkan dalam <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">Tiga Serangkai</strong> bersama </span><span style="font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW">觀音菩薩</span><span style="mso-fareast-font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW"> </span><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">Guan Yin Pu Sa</span></em></strong><span lang="EN-US"> &amp; </span><span style="font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW">文殊菩薩</span><span style="mso-fareast-font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW"> </span><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">Wen Su Pu Sa</span></em></strong><span lang="EN-US">. Namun di dalam Kelenteng-kelenteng di Tiongkok &amp; Jepang, Pu Xian Pu Sa sering juga tampil bersama Buddha Sakyamuni &amp; Wen Su Pu Sa. Pu Xian dalam bahasa Jepang disebut <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Fu Gen.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US">Arca Pho Hien Pho Sat biasanya ditampilkan duduk di atas gajah putih dengan membawa setangkai bunga teratai atau gulungan kitab suci. Gajah putih tersebut umumnya dalam keadaan berdiri atau jongkok, kadang-kadang berkepala 1 atau 3, dengan 6 batang gading</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US">Pho Hien Pho Sat terkenal karena persembahannya yang tak terbatas &amp; 10 Sumpah Agungnya yang ditujukan kepada para Buddha &amp; mahkluk yang sengsara, yaitu sebagai berikut:</span></p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Memuja      para Buddha.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Memuja      Tatagatha.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Menghaturkan      sembah-sujud kepada para Buddha.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Mengakui      dosa-dosa pada masa kehidupan yang lalu &amp; berbuat kebaikan.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Bergembira      dalam kebajikan &amp; kebaikan orang lain.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Memohon      kepada Buddha untuk membabarkan ajarannya.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Memohon      kepada Buddha untuk tetap tinggal di dunia.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Mempelajari      Dharma &amp; mengajarkannya kembali.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Membantu      sesama makhluk yang sengsara.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 36.0pt;"><span lang="EN-US">Menyalurkan      hal-hal yang baik kepada pihak lain.</span></li>
</ol>
<p><span lang="EN-US">Di dalam</span><span style="font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW">普賢菩薩蓮花經</span><span style="mso-fareast-font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW"> </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">Sutra Bunga Teratai Pu Xian Pu Sa, </span></em><span lang="EN-US">Sang Buddha<em style="mso-bidi-font-style: normal;"> </em>memujinya &amp; mengatakan bahwa Pu Xian Pu Sa terlahir di tanah suci sebelah Timur. Di dalam <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Sutra Bunga Teratai</em> ini Sang Buddha menggambarkan sebagai berikut: </span></p>
<p><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">Pu Xian Pu Sa memiliki tubuh yang besarnya tidak terbatas. Namun karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, ia mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Pu Xian Pu Sa muncul dengan menunggang seekor gajah putih. Di bawah telapak kaki gajah tersebut, bunga-bunga teratai yang berwarna putih bermekaran. Gajah ini berwarna yang paling cemerlang di antara semua warna putih, sampai-sampai Kristal maupun Puncak Gunung Himalaya – pun tidak bisa menandinginya ………</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">Sutra Bunga Teratai Pu Xian Pu Sa</span></em><span lang="EN-US"> ini menarik perhatian banyak orang, terutama kaum wanita, sebab mereka dijanjikan juga dapat mencapai tingkat kesucian Buddha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US">Tempat suci Pu Xian Pu Sa adalah di Gunung </span><span style="font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW">峨嵋山</span><span style="mso-fareast-font-family: &amp;quot;AR PL KaitiM Big5&amp;quot;; mso-fareast-language: ZH-TW;" lang="ZH-TW"> </span><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span lang="EN-US">E Mei Shan</span></em><span lang="EN-US"> <em style="mso-bidi-font-style: normal;">{Go Bi San}</em> di propinsi Xi Chuan yang merupakan salah satu dari 4 Gunung Suci agama Buddha di Tiongkok. Di Jepang ia sering kali dihormati oleh para umatnya untuk memperoleh kemakmuran &amp; panjang umur. Bahkan oleh sebagian orang ia dianggap pelindung pengobatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US">Arca Pho Hien Pho Sat biasanya dapat dijumpai di kelenteng-kelenteng yang menghormati Kwan Im Pho Sat. Hari ulang tahun Pho Hien Pho Sat diperingati setiap bulan 2 tanggal 21 Imlek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="EN-US">O</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="EN-US">&#8212;oooOOOooo&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="EN-US">O</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="EN-US"><strong>Buddhist Temple Jakarta Jindeyuan</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="EN-US"><strong></p>
<div id="attachment_843" class="wp-caption aligncenter" style="width: 188px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/04/PoHienPoSat_05.jpg"><img class="size-full wp-image-843" title="Pho Hien Pho Sat - Bodhisatva Samanta Bhadra" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/04/PoHienPoSat_05.jpg" alt="Pho Hien Pho Sat - Bodhisatva Samanta Bhadra" width="178" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pho Hien Pho Sat - Bodhisatva Samanta Bhadra</p></div>
<p></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/pho-hien-pho-sat-bodhisatva-samanta-bhadra-5/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kwan Im Pho Sat &#8211; Pria Atau Wanita</title>
		<link>http://jindeyuan.org/kwan-im-pho-sat-pria-atau-wanita-5/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/kwan-im-pho-sat-pria-atau-wanita-5/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Apr 2013 17:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cure]]></category>
		<category><![CDATA[Goddess of Mercy]]></category>
		<category><![CDATA[Mercy]]></category>
		<category><![CDATA[Pagoda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita
Ada umat yang bertanya: “Kwan Im Pho Sat sebetulnya pria atau wanita ???” Ada yang menjawab Kwan Im Pho Sat sebenarnya pria. Namun banyak juga yang menjawab Kwan Im Pho Sat adalah wanita.
Sebenarnya tingkat kesucian Bodhisatva telah berada di atas perbedaan bentuk : pria – wanita, tua – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita</strong></p>
<p>Ada umat yang bertanya: “<em>Kwan Im Pho Sat sebetulnya pria atau wanita</em> ???” Ada yang menjawab Kwan Im Pho Sat sebenarnya pria. Namun banyak juga yang menjawab Kwan Im Pho Sat adalah wanita.</p>
<p>Sebenarnya tingkat kesucian Bodhisatva telah berada di atas perbedaan bentuk : pria – wanita, tua – muda, cantik – jelek, kaya – miskin, mulia – hina, dan sebagainya. Dengan kata lain tingkat kesucian Bodhisatva telah menghilangkan perbedaan wujud pria atau wanita. Bodhisatva bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi / keadaan. Seorang Bodhisatva bisa berubah wujud menjadi sesuatu yang sesuai dengan sebab jodoh orang yang memohon pertolongan kepadanya.</p>
<p>Maka Kwan Im Pho Sat bisa berwujud pria, bisa juga berwujud wanita. Semua ini berdasarkan kebutuhan umat manusia yang membutuhkan pertolongannya.</p>
<p>Jauh sebelum agama Buddha disebarkan dari India ke Tiongkok, di Tiongkok Kuno sudah ada kepercayaan kepada seorang Dewi yang welas asih dengan penampilan memakai jubah putih. Pada waktu memasuki Tiongkok pada masa Dinasti Han [ 206 SM – 220 M ), agama Buddha memperkenalkan Bodhisatva Avalokitesvara – 觀自在菩薩 <strong><em>Guan Zi Zai Pu Sa</em></strong> (kemudian dikenal sebagai Kwan Im Pho Sat) sebagai pria.</p>
<p>Mulai zaman Dinasti Tang [ 618 – 907 M ], Kwan Im ditampilkan sebagai wanita. Mungkin ini terpengaruh ajaran Konfusianisme yang telah berurat akar dalam sistem sosial masyarakat pada saat itu. Mereka menganggap tidak layak kalau wanita memohon anak dari seorang Dewata pria. Bagi para umatnya, hal itu dianggap sebagai kehendak dari Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai wanita, agar beliau dapat leluasa dengan kaum wanita yang banyak memohon bantuannya.</p>
<p>Nampaknya perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan. Mula-mula Kwan Im ditampilkan sebagai pasangan Avalokitesvara (seperti halnya Dewa-dewa dari India yang selalu berpasangan). Lambat laun oleh para penganutnya di Tiongkok, Dewata pria Avalokitesvara mulai dilupakan. Pada abad ke-12 Masehi, Kwan Im telah dipuja tersendiri sebagai Dewata yang khas Tiongkok, begitu pula Dewata-dewata Buddhis lainnya.</p>
<p>Sebelum masuknya Buddhis ke Tiongkok, kaum wanita di sana telah banyak menghormati para Dewi dari Taoisme yang mereka panggil dengan sebutan 娘娘 <em>Niang Niang </em>{Hok Kian = <em>Nio Nio </em>}, sebagai tempat mereka memohon perlindungan, keselamatan &amp; keturunan. Oleh karena itu ketika muncul Guan Yin, mereka menyebutnya dengan panggilan Niang Niang pula. Sebutan <strong>觀音菩薩</strong> <em>Guan Yin Pu Sa </em>{Hok Kian = <em>Kwan Im Pho Sat</em>} yang sepenuhnya bersifat Buddhisme, di kalangan rakyat Tiongkok akhirnya terkenal dengan sebutan <strong>觀音娘娘</strong> <strong><em>Guan Yin Niang Niang {Kwan Im Nio Nio}</em></strong>.</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ, kaum Taois-pun akhirnya ikut pula menghormati, bahkan menempatkannya sejajar dengan Dewi mereka, yaitu 天后聖母 <strong>Tian Hou Sheng Mu (Tian Shang Sheng Mu). </strong>Nama Taois untuk Guan Yin adalah 慈航道人 <strong>Ci Hang Dao Ren {Cu Hang To Jin} </strong>yang berarti Dewa Penyelamat Pelayaran.</p>
<p>Demikianlah Guan Yin memperoleh kepopuleran yang jauh melebihi Dewata Buddhisme yang tertinggi – Sakyamuni Buddha, walaupun dalam banyak kelenteng &amp; wihara, Buddha Sakyamuni duduk di altar yang paling terhormat.</p>
<p>E.T.C. Werner dalam bukunya <strong><em>Myths and Legends of China</em></strong> menyebut Dewi Kwan Im sebagai Buddhist Saviour atau Dewi Penyelamat dari Buddhis. Kutipan dari buku tersebut tentang kepercayaan rakyat kepada Dewi Kwan Im adalah sebagai berikut:</p>
<p><em>Ia disebut Guan Yin karena ia mau mendengarkan ratapan dari dunia &amp; turun memberikan pertolongan. Ia memperoleh sebutan Buddha yang mengusir rasa takut. Jika nama Guan Yin disebut di tengah kobaran api, maka api tak akan dapat membakar. Jika namanya disebut di tengah hempasan ombak yang setinggi gunung, maka air tersebut akan menjadi dangkal. Apabila seorang awak perahu yang tengah dihantam gelombang besar menyebut nama Guan Yin yang Maha Penyayang, maka ia akan selamat sampai tujuan. Di tengah-tengah gemerincingan pedang &amp; tombak di medan perang, apabila menyebut nama Guan Yin akan luputlah ia dari maut. Jika ada iblis yang merasuki ke dalam dirimu, sebutlah nama Guan Yin, maka anda akan memperoleh kedamaian &amp; ketenangan bathin.</em></p>
<p><em>Napsu amarah &amp; kebencian akan sirna kalau nama beliau diucapkan. Seorang yang menderita penyakit ingatan akan pulih kembali kalau berdoa dengan penuh ketulusan kepada Guan Yin. Guan Yin yang Maha Pengasih &amp; Penyayang akan memberikan anak bagi para ibu yang mendambakannya, seorang putra yang tampan &amp; seorang putri yang cantik. Seorang yang menyebutkan nama-nama dari 6.200.000 Buddha atau jumlah yang banyak laksana pasir Sungai Gangga, sama nilainya dengan orang lain yang hanya mengucapkan nama <strong>Guan Yin</strong> sekali saja. Guan Yin dapat muncul dalam wujud Buddha, Pangeran, Bikkhu, Pelajar, Nenek tua, dan lain-lain. Beliau dapat pergi ke negara mana saja, membabarkan ajaran suci ke berbagai penjuru dunia.</em></p>
<p>Demikianlah seorang Dewi Welas Asih yang Asli Tiongkok menyatu dengan Avalokitesvara, jadilah Dewata Buddhis khas Tiongkok, bahkan ciri-ciri ke-India-annya hilang sama sekali. Kisah Putri Miao Shan (Biao Sian) dalam kisah <em>Lam Hai Kwan Im Cwan Thwan</em> amat dikenal dalam Buddhisme Tiongkok, dan telah menyatu dalam sanubari orang-orang Tionghoa. Kisah Putri Miao Shan yang amat berbakti kepada orangtua ini merupakan cerminan dari kisah Sang Buddha Gautama, di mana beliau meninggalkan keduniawian menjadi pertapa dan sempurna di Gunung <em>Pu To Shan.</em></p>
<p>Figure Kwan Im yang dekat dengan segala lapisan masyarakat membuatnya amat termashur bahkan melebihi Sang Buddha Gautama sendiri. Dalam perujudannya sebagai <em>Chien Chiu Kwan Im</em> (Kwan Im Tangan Seribu) beliau secara Esotoris seolah-olah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.</p>
<p>Kwan Im Hut Co dikenal luas sebagai Dewi Welas Asih, yang dipuja tidak hanya di kalangan Buddhis saja, tapi juga di kalangan umat Taoisme dan semua lapisan masyarakat awam di pelbagai negara terutama di benua Asia.</p>
<p>Coba kita perhatikan, di setiap kelenteng atau wihara, siapapun yang menjadi <em>Tuan Rumah</em>–nya, misalnya玄壇公 <strong><em>Xian Tan Gong</em></strong><em> {Hian Than Kong}</em>; 地藏王 <strong><em>Di Zang Wang</em></strong><em> {Te Cong Ong}</em>; 媽祖 / 天后聖母 <strong><em>Ma Zhu</em></strong><em> / Tian Hou Sheng Mu {<strong>Ma Co</strong> / Thien Hou Sing Bo}</em>; 關聖帝君 / 關公 <strong><em>Guan Sheng Di Jun</em></strong><em> / Guan Gong {Kwan Seng Te Kun / <strong>Kwan Kong</strong>}</em>; 清元真君 <em>Qing Yuan Zhen Jun {<strong>Ceng Guan Ceng Kun</strong>}</em>; dan lain-lain, pasti di dalam kelenteng tersebut ada sebuah altar khusus untuk menghormati Kwan Im Hut Co ! Mengapa bisa demikian ? Ini karena Maha Cinta Kasih &amp; Maha Karuna (大慈大悲) beliau. Maka beliau disebut Guan Shi Yin. Bahkan Dunia Barat pun mengenal Dewi Kwan Im sebagai <strong>Goddess of Mercy</strong> !!!</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_642" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/KwanIm_06b.jpg"><img class="size-full wp-image-642" title="Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/03/KwanIm_06b.jpg" alt="Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita" width="300" height="299" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Kwan Im Pho Sat – Pria Atau Wanita</p></div>
<p><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/kwan-im-pho-sat-pria-atau-wanita-5/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co</title>
		<link>http://jindeyuan.org/hari-ulang-tahun-kwan-im-hut-co-11/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/hari-ulang-tahun-kwan-im-hut-co-11/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Mar 2013 12:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[Se Jit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=833</guid>
		<description><![CDATA[* PENGUMUMAN *
 
 Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co 
Tanggal         : 30 Maret 2013
H a r i                  : Sabtu
Imlek                  : 2564 Ji Gwe 19
Untuk memperingati HUT tersebut, &#38; untuk memudahkan umat yang akan bersembahyang, Kim Tek Ie pada hari Jumat, 29 Maret 2013 ( Imlek : 2564 Ji Gwe 18 ) tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>* PENGUMUMAN *</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co </strong></p>
<p>Tanggal         : 30 Maret 2013</p>
<p>H a r i                  : Sabtu</p>
<p>Imlek                  : 2564 Ji Gwe 19</p>
<p>Untuk memperingati HUT tersebut, &amp; untuk memudahkan umat yang akan bersembahyang, Kim Tek Ie pada hari Jumat, 29 Maret 2013 ( Imlek : 2564 Ji Gwe 18 ) tetap buka terus sampai keesokan harinya (buka 24 jam).</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_837" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/03/SeJit-1303301.jpg"><img class="size-full wp-image-837" title="Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co  " src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/03/SeJit-1303301.jpg" alt="Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co  " width="300" height="182" /></a><p class="wp-caption-text">Hari Ulang Tahun Kwan Im Hut Co  </p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/hari-ulang-tahun-kwan-im-hut-co-11/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tek Hay Cin Jin &#8211; Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut</title>
		<link>http://jindeyuan.org/tek-hay-cin-jin-dewata-pelindung-perdagangan-di-laut-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/tek-hay-cin-jin-dewata-pelindung-perdagangan-di-laut-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2013 17:06:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Angke]]></category>
		<category><![CDATA[Batavia]]></category>
		<category><![CDATA[Hong Xi]]></category>
		<category><![CDATA[Khong Hie]]></category>
		<category><![CDATA[Tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[Tek Hay Cin Jin – Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut
澤海真人Ze Hai Zhen Ren {Hok Kian: Tek Hai Cin Jin} nama aslinya adalah Guo Liu Guan {Hok Kian = Kwee Lak Kwa}, adalah salah satu Dewata Lokal yang Khas Indonesia (lahir di Indonesia). Kekuasaannya meliputi jalur laut sepanjang Pantura Jawa. Menurut catatan yang ada di Kong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Tek Hay Cin Jin – Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut</strong></p>
<p>澤海真人<em>Ze Hai Zhen Ren</em><em> </em>{Hok Kian: <em>Tek Hai Cin Jin</em>} nama aslinya adalah <em>Guo Liu Guan</em> {Hok Kian = <em>Kwee Lak Kwa</em>}, adalah salah satu <strong>Dewata Lokal</strong> yang <strong>Khas Indonesia </strong>(lahir di Indonesia). Kekuasaannya meliputi jalur laut sepanjang Pantura Jawa. Menurut catatan yang ada di <em>Kong Kwan</em> (Dewan Opsir Tionghoa) Semarang, Guo Liu Guan berasal dari Semarang. Beliau adalah orang Hok Kian bermarga <em>Kwee</em>, bernama <em>Lak</em>, sedangkan <em>Kwa</em> adalah panggilan kehormatan.</p>
<p>Guo Liu Guan {Kwee Lak Kwa} lahir tahun 1695, waktu Kaisar <em>Khong Hie</em> memerintah tahun ke-34, berdagang antar pulau dari Palembang sampai Semarang dengan kapal. Waktu itu di Jakarta (saat itu bernama Batavia) tanggal 9 – 12 Oktober 1740 terjadi suatu tragedi yang amat memilukan, di mana <span style="text-decoration: underline;">+</span> 10.000 jiwa dibantai oleh penjajah Belanda (VOC). Peristiwa ini terkenal dengan sebutan <strong>Tragedi Pembantaian Angke</strong><em>.</em></p>
<p>Asal mula kata <em>Kali Angke</em> juga berasal dari peristiwa ini. 紅溪 <em>Hong Xi</em> dalam bahasa Mandarin berarti sungai kecil (<em>kali</em>) yang berwarna merah. Dari mana warna merah dalam sungai ini? Berasal dari darah orang-orang Tionghoa yang dibantai tersebut. <em>Hong Xi </em>ini dalam dialek Hok Kian disebut <em>Ang Ke.</em> Demikian sekilas asal mula kata Kali Angke.</p>
<p>Peristiwa ini menyulut kemarahan beberapa pemimpin Tionghoa, antara lain : Kwee Lak Kwa, Kwee An Say, Oey Ing Kiat, Tan Pan Jiang, dan lain-lain. Kwee Lak Kwa bergerilya di Jakarta. Karena Belanda lebih kuat akhirnya Kwee Lak Kwa mundur sampai Cirebon, lalu ke Tegal.</p>
<p>Tahun 1742 perlawanan ini berhenti setelah semua pihak kehabisan tenaga, Kwee Lak Kwa di Tegal menghilang, Kwee An Say tertangkap, Tan Pan Jiang &amp; Oey Ing Kiat gugur di Welahan. Peristiwa ini dalam Babad Tanah Jawa terkenal sebagai <strong>Geger Petjinan</strong><em>. </em>Kwee Lak Kwa setelah menghilang di Tegal sering menampakkan diri di beberapa tempat yang berjauhan pada waktu bersamaan. Beliau sering pula menampakkan dirinya kepada nelayan-nelayan di Tegal untuk memberi berbagai petunjuk. Karena hal-hal tersebut mereka percaya bahwa Kwe Lak Kwa sesungguhnya adalah seorang yang sakti.</p>
<p>Oleh Kaisar Dinasti <em>Qing</em>, Kwee Lak Kwa dianugerahi gelar 澤海真人<strong><em>Ze Hai Zhen Ren</em></strong><em> </em>{Hok Kian: <strong><em>Tek Hay Cin Jin</em></strong>}<strong>.</strong> Beliau dihormati tidak hanya sebagai pahlawan, namun juga sebagai <strong>Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut</strong>.</p>
<p>Tek Hai Cin Jin ditampilkan sebagai seorang Pejabat Tinggi yang berpakaian ala Dinasti <em>Han</em> disertai 2 orang pengiringnya. Salah satu dari 2 pengiring tersebut, dilihat dari corak pakaian &amp; ikat kepalanya, jelas adalah seorang pribumi Jawa.</p>
<p>Arca Tek Hai Cin Jin terdapat di 6 buah kelenteng di Pulau Jawa, antara lain: di Kelenteng金德院 Jin De Yuan {Kim Tek Ie} – Jakarta, Kelenteng澤海廟 Ze Hai Miao {Tek Hay Bio = Kuil Penenang Samudra} – Semarang, Kelenteng澤海宮 Ze Hai Gong {Tek Hay Kong} – Tegal, Kelenteng寶安殿 Bao An Dian {Po An Tiam} – Pekalongan.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong></p>
<div id="attachment_830" class="wp-caption aligncenter" style="width: 356px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/03/TekHaiCinJin_05.jpg"><img class="size-full wp-image-830" title="Tek Hay Cin Jin – Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/03/TekHaiCinJin_05.jpg" alt="Tek Hay Cin Jin – Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut" width="346" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Tek Hay Cin Jin – Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut</p></div>
<p></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/tek-hay-cin-jin-dewata-pelindung-perdagangan-di-laut-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cai Sin Ya &#8211; Dewa Harta</title>
		<link>http://jindeyuan.org/cai-sin-ya-dewa-harta-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/cai-sin-ya-dewa-harta-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Mar 2013 03:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Hok Kie]]></category>
		<category><![CDATA[luck]]></category>
		<category><![CDATA[Rich]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Cai Sin Ya – Dewa Harta
Di antara sekian banyak dewa-dewa, seandainya diadakan pemungutan suara: “Dewa apakah yang paling disukai?” Barangkali 財神爺 Cai Shen Ye {Hok Kian = Cai Sin Ya} akan terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak. Walau bagaimanapun, realitas hidup di dunia ini, kebutuhan/tuntutan manusia akan uang/harta, selamanya tidak akan ada habis-habisnya. Sementara baik apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Cai Sin Ya – Dewa Harta</strong></p>
<p>Di antara sekian banyak dewa-dewa, seandainya diadakan pemungutan suara: “Dewa apakah yang paling disukai?” Barangkali 財神爺 <strong><em>Cai Shen Ye</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Cai Sin Ya</em></strong>} akan terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak. Walau bagaimanapun, realitas hidup di dunia ini, kebutuhan/tuntutan manusia akan uang/harta, selamanya tidak akan ada habis-habisnya. Sementara baik apakah Cai Shen bisa sungguh-sungguh memberikan kekayaan atau tidak, maupun keberadaan Dewa Harta (Dewa Kekayaan) itu sendiri, sedikit banyak dapat memuaskan fantasi orang banyak terhadap kekayaan.</p>
<p>Dewa Harta yang dipercaya di kalangan rakyat jelata sangat banyak macamnya, ada 文武財神 <strong><em>Wen Wu Cai Shen</em></strong><em> </em>{<strong><em>Bun Bu Cai Sin</em></strong>} – <strong>Dewa Harta Sipil &amp; Militer</strong>, 五路財神 <strong><em>Wu Lu Cai Shen</em></strong><em> </em>{<strong><em>Ngo Lo Cai Sin</em></strong>} – <strong>Dewa Harta dari Lima Jalan</strong>, 增福財神 <strong><em>Zheng Fu Cai Shen</em></strong><em> </em>{<strong><em>Tiam Hok Cai Sin</em></strong>} – <strong>Dewa Kekayaan Penambah Rezeki</strong>, dan lain-lain. 土地公 <strong><em>Tu Di Gong </em>{<em>Tho Tek Kong</em>}</strong> – Dewa Bumi adalah Cai Shen yang paling dikenal oleh semua orang.</p>
<p>Cai Sin Ya memiliki wilayah penghormatan yang luas. Sembahyang kepada Cai Shen, selain terdapat di kelenteng-kelenteng, juga terdapat di rumah-rumah penduduk.</p>
<p>Wu Cai Shen (Dewa Kekayaan Militer) adalah 玄壇元帥趙公明 <strong><em>Xuan Tan Yuan Shuai Zhao Gong Ming</em></strong> {<strong><em>Hian Tan Gwan Swe Tio Kong Beng} </em></strong>dan 關公 <strong><em>Guan Gong {Kwan Kong}</em></strong>.</p>
<p>Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling terkenal adalah Riwayat 趙公明 <em>Zhao Gong Ming</em> {<em>Tio Kong Beng</em>} yang tertulis dalam 封神榜 <strong><em>Feng Shen Bang</em></strong> (<strong>Daftar Penganugerahan Dewa-Dewa</strong>). Dalam Feng Shen Bang ini diceritakan sebagai berikut:</p>
<p>Kaisar <em>Zhou Wang</em> {<em>Tiu Ong</em>} dari Kerajaan Shang memerintahkan <em>Wen Zhong</em> {<em>Bun Tiong</em>} jendralnya yang terkenal, untuk menyerbu Xi Chi, basis pertahanan pasukan <em>Wen Wang {Bun Ong}</em>. Untuk mencapai tujuannya tersebut, Wen Zhong minta bantuan 6 orang sakti untuk membentuk formasi barisan yang disebut <em>Shi Jue Zhen</em> {Si Ciap Tin} – Sepuluh Barisan Pemusnah. Tapi 姜子牙 <em>Jiang Zi Ya</em> berhasil menghancurkan 6 di antaranya. Melihat kekalahan di pihaknya, Wen Zhong meminta bantuan <em>Zhao Gong Ming</em> yang pada waktu itu sedang bertapa di gua <em>Lou Fu Dong</em>, pegunungan <em>E Mei Shan {Go Bi San}.</em></p>
<p>Zhao Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor harimau besar menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan 2 jari tangannya. Kemudian ia mengendarai harimau yang telah diikat lehernya dengan angkin (sejenis kain). Pada dahi si raja hutan tersebut ditempelkan selembar <em>Hu</em> (Surat Jimat). Selanjutnya harimau itu menjadi tunggangannya &amp; tunduk pada perintahnya.</p>
<p>Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa jurus, Zhao Gong Ming mengeluarkan ruyung saktinya &amp; menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh &amp; tewas. Tapi, datanglah Guang Cheng Zi {Kong Sheng Cu} yang lalu menolong Zi Ya sehingga ia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren {Wi Liong Cin Jin} keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi ia tertawan oleh tali wasiat Zhao Gong Ming. Chi Jing Zi &amp; Guang Cheng Zi juga terpukul jatuh oleh pertapa dengan banyak kesaktian tersebut.</p>
<p>Kemudian Jiang Zi Ya mendapat bantuan dari <em>Xiao Sheng</em>, seorang sakti dari pegunungan Wu Yi Shan. Semua wasiat dari Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Karena merasa malu Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau 3 Dewa) untuk menemui Yun Xiao Niang Niang, seorang petapa wanita yang sakti. Zhao Gong Ming meminjam sebuah gunting wasiat kepada Yun Xiao Niang Niang untuk merebut kembali wasiat-wasiatnya yang dirampas musuh.</p>
<p>Ternyata gunting wasiat itu adalah 2 ekor naga yang berubah wujud, dengan kemampuan yang luar biasa. Banyak dewa-dewa sakti dari pihak Jiang Zi Ya terpotong menjadi 2 bagian &amp; tewas karena pusaka ini. Jiang Zi Ya menjadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar. Pada saat yang kritis ini datanglah seorang Taoist dari pegunungan <em>Gun Lun Shan</em> <em>{Kun Lun San}</em> yang bernama <em>Lu Ya</em>. Lu Ya menyuruh Jiang Zi Ya membuat boneka dari rumput. Pada tubuh boneka rumput tersebut diletakkan selembar kertas yang dituliskan nama Zhao Gong Ming. Pada bagian kepala &amp; kaki dipasang masing-masing sebuah pelita kecil. Di depan boneka Zhao Gong Ming tersebut diadakan sembahyangan selama 21 hari berturut-turut. Jiang Zi Ya atas nasehat Lu Ya bersembahyang di situ beberapa hari. Ia terus bersembahyang sampai suatu hari Zhao Gong Ming merasakan jantungnya berdebar-debar, badannya terasa panas dingin tak menentu. Semangat &amp; tenaganya lenyap. Pada hari ke-21, setelah mencuci rambutnya, Jiang Zi Ya mementang busur &amp; mengarahkan anak panah ke mata kiri boneka rumput tersebut. Zhao Gong Ming yang berada di kubu pasukan Shang, mendadak merasa mata kirinya sakit sekali &amp; kemudian menjadi buta. Panah Jiang Zi Ya berikutnya diarahkan ke mata kanan boneka Zhao Gong Ming &amp; panah ketiga diarahkan ke jantungnya. Akhirnya Zhao Gong Ming yang sakti ini tewas terpanah oleh Jiang Zi Ya.</p>
<p>Setelah Wen Wang berhasil menghancurkan pasukan Shang &amp; mendirikan dinasti Zhou, Jiang Zi Ya melaksanakan perintah gurunya untuk mengadakan pelantikan para malaikat. Zhao Gong Ming dianugerahi gelar <em>Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun</em> yang secara singkat disebut 正一玄壇真君 <em>Zheng Yi Xuan Tan Zhen Jun {Ceng It Hian Than Cin Kun}</em>.  Xuan Tan Zhen Jun mempunyai 4 pengiring yang disebut 財神使者 <strong><em>Cai Shen Shi Zi</em></strong>, <strong>Duta Dewa Kekayaan</strong>, yaitu :</p>
<ol>
<li>招寳天尊蕭升<em>Zhao Bao Tian Zun Xiao Sheng</em> (Malaikat Pemanggil Mestika)</li>
<li>納珍天尊震寳<em>Na Zhen Tian Zun Zen Bao</em> (Malaikat Pemungut Benda Berharga)</li>
<li>招財使者陳九公<em>Zhao Chai Shi Zhe Chen      Jiu Gong</em> (Duta Pemanggil Kekayaan)</li>
<li>利市仙官姚少司<em>Li Shi Xian Guan Yao      Shao Si</em> (Pejabat Dewa Keuntungan)</li>
</ol>
<p>Xuan Tan Zhen Jun bersama 4 pengiringnya ini sering ditampilkan secara bersama-sama dalam bentuk gambar &amp; disebut <strong><em>Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin}</em> – Dewa Kekayaan dari Lima Jalan.</strong></p>
<p>Dewa Kekayaan ini sering ditampilkan sebagai seorang panglima perang berwajah bengis dengan pakaian perang lengkap, 1 tangan menggenggam ruyung &amp; tangan yang lain membawa sebongkah emas, mengendarai seekor harimau hitam. Ini merupakan gambaran berdasarkan buku Feng Shen Bang tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_821" class="wp-caption aligncenter" style="width: 188px"><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/03/CaiSinYa_041.jpg"><img class="size-full wp-image-821" title="Cai Sin Ya – God of Wealth" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2013/03/CaiSinYa_041.jpg" alt="Cai Sin Ya – God of Wealth" width="178" height="300" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Cai Sin Ya – God of Wealth</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/cai-sin-ya-dewa-harta-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
