<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buddhist Temple Jin De Yuan - Jakarta &#187; Dewata</title>
	<atom:link href="http://jindeyuan.org/category/dewata/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jindeyuan.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 01:37:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ji Lay Hud &#8211; Perintis Agama Buddha</title>
		<link>http://jindeyuan.org/ji-lay-hud-perintis-agama-buddha-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/ji-lay-hud-perintis-agama-buddha-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 09:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha Ju Lai]]></category>
		<category><![CDATA[gautama]]></category>
		<category><![CDATA[Ji Lay Hud]]></category>
		<category><![CDATA[Ru Lai Fo]]></category>
		<category><![CDATA[Sakyamuni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Ji Lay Hud – Perintis Agama Buddha
Dalam bahasa Mandarin, 如來佛Ru Lai Fo {Hok Kian = Ji Lay Hud } merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, Tathagata, yang berarti Ia Yang Datang.
Buddha Sakyamuni adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Ji Lay Hud – Perintis Agama Buddha</strong></p>
<p>Dalam bahasa Mandarin, 如來佛Ru Lai Fo {Hok Kian = Ji Lay Hud } merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, Tathagata, yang berarti Ia Yang Datang.</p>
<p>Buddha Sakyamuni adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia dengan penganut yang berjumlah milyaran orang. Buddha Sakyamuni adalah ahli agama yang agung &amp; mulia, juga adalah orang suci yang arif bijaksana &amp; diakui di seluruh dunia.</p>
<p>Ideologi &amp; peradaban (kebudayaan) agama Buddha yang disabdakan Buddha Sakyamuni, diturunkan dari generasi ke generasi, sejak lama telah menjadi aspek penting &amp; utama yang memberikan nuansa aneka warna kebudayaan Dunia Timur, dan juga telah meninggalkan kebudayaan berharga yang sempurna &amp; berlimpah bagi sejarah dunia.</p>
<p>Buddha Sakyamuni lahir pada tahun 623 SM di sebuah negeri yang bernama Kapilavastu (dekat Nepal) dengan nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti : “Seorang yang tercapai cita-citanya”. Ayah Sidharta adalah Raja Sudhodana yang berasal dari Suku Sakya. Karena berasal dari Suku Sakya inilah maka kemudian beliau disebut sebagai Buddha Sakyamuni. Ibunda beliau adalah Ratu Mahamaya. Sebelum melahirkan Sidharta, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih memasuki rahimnya. Sebelum terlahir sebagai Pangeran Sidharta, beliau sebenarnya adalah Maha Bodhisatva yang datang dari Surga Tusita.</p>
<p>Hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap tanggal 15 bulan 4 Imlek. Tapi di kelenteng-kelenteng, diperingati pada tanggal 8 bulan 4 penanggalan Imlek.</p>
<p>Sewaktu beliau lahir terjadi keajaiban, seperti yang tercatat dalam Kitab Sakyamuni Buddha : Begitu bayi tersebut dilahirkan, ia melangkah 7 (tujuh) langkah. Bunga teratai yang berwarna merah &amp; kuning keemasan muncul dari dalam tanah setiap kali ia menapakkan kakinya. Pada langkah terakhir, dengan tangan kanan menunjuk ke langit &amp; tangan kiri menunjuk ke bumi, bayi tersebut mengumandangkan suaranya dengan lantang : “Akulah yang teragung di antara langit &amp; bumi. Aku datang dari Surga Tusita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta &amp; kebenaran tentang kehidupan, guna membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Inilah kelahiranku yang terakhir di dunia ini!”</p>
<p>Demikianlah seorang Maha Bodhisatva telah dilahirkan melalui kandungan Permaisuri Dewi Maha Maya yang berhati suci &amp; berbudi luhur. Seminggu setelah melahirkan Pangeran Sidharta, sang ibunda meninggal dunia. Beliau kemudian dibesarkan oleh bibinya Mahaprajapati.</p>
<p>Pangeran Sidharta menikah pada usia 16 tahun dengan adik iparnya Putri Yasodhara. Mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Rahula, yang berarti belenggu.</p>
<p>Sebagai seorang Pangeran, Sidharta menikmati kehidupan istana yang menyenangkan, nikmat &amp; serba berkecukupan. Raja Sudhodana mengharapkan beliau naik tahta &amp; menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja. Namun Pangeran Sidharta tak terbiasa dengan kehidupan mewah, senang &amp; berkedudukan tinggi seperti ini.</p>
<p>Pada usia 29 tahun, beliau melihat 4 peristiwa yang kemudian mengubah jalan kehidupannya. Pertama, ia melihat seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bersandar pada tongkatnya. Kedua, ia melihat seorang yang menderita sakit parah. Ketiga, ia melihat seorang yang telah meninggal dunia. Keempat, ia melihat seorang Bikkhu dengan jubah kuning berjalan tenang dengan wajah yang penuh kedamaian. Ketiga peristiwa pertama menyadarkan pangeran akan hukum alam yang pasti akan dialami setiap orang tanpa pandang bulu. Peristiwa keempat menunjukan cara untuk mengatasi penderitaan dunia &amp; mencapai ketentraman hidup.</p>
<p>Demikianlah Sang Pangeran Sidharta meninggalkan istana pada usia 29 tahun, &amp; membina diri dengan penuh penderitaan di hutan Uruvela. Enam tahun lamanya beliau membina diri hidup sebagai seorang pertapa. Akhirnya di bawah pohon Bodhi, beliau memperoleh Penerangan Sempurna pada usia 35 tahun, &amp; sejak itu disebut sebagai Buddha Gautama.</p>
<p>Hari beliau 成道 mencapai Penerangan Sempurna diperingati setiap tanggal 8 bulan 12 penanggalan Imlek {Ji Lay Hut Co Sing To}.<br />
Kemudian beliau membabarkan Dharma selama 45 tahun kepada murid-muridnya yang tak terhitung jumlahnya &amp; mendirikan Sangha (persaudaraan suci para Bikkhu/Bikkhuni). Beliau Parinibbana (wafat) pada usia 80 tahun.</p>
<p style="text-align: center;">O<br />
&#8212;oooOOOooo&#8212;<br />
O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_570" class="wp-caption aligncenter" style="width: 396px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/01/jilayhut04.jpg"><img class="size-full wp-image-570" title="Ji Lay Hud – Perintis Agama Buddha" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2012/01/jilayhut04.jpg" alt="Ji Lay Hud – Perintis Agama Buddha" width="386" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Ji Lay Hud – Perintis Agama Buddha</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/ji-lay-hud-perintis-agama-buddha-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Giok Hong Tay Te &#8211; Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta</title>
		<link>http://jindeyuan.org/giok-hong-tay-te-maha-dewa-pelaksana-pemerintahan-alam-semesta-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/giok-hong-tay-te-maha-dewa-pelaksana-pemerintahan-alam-semesta-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 05:42:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Kaisar Giok]]></category>
		<category><![CDATA[Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Maha Dewa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=556</guid>
		<description><![CDATA[Giok Hong Tay Te – Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta
玉皇大帝 Yu Huang Da Di {Hok Kian = Giok Hong Tay Te = Kaisar Giok/Kumala} sering disebut juga sebagai 玉皇上帝 Yu Huang Shang Di {Hok Kian = Giok Hong Siong Te}. Sebutan lainnya adalah 昊天上帝 Hao Tian Shang Di, 玉天大帝 Yu Tian Da Di.
Di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Giok Hong Tay Te – Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta</strong></p>
<p><strong>玉皇大帝</strong> <strong><em>Yu Huang Da Di</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Giok Hong Tay Te</em></strong><em> = </em>Kaisar Giok/Kumala} sering disebut juga sebagai <strong>玉皇上帝</strong> <strong><em>Yu Huang Shang Di</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Giok Hong Siong Te</em></strong>}. Sebutan lainnya adalah <strong>昊天上帝</strong> <strong><em>Hao Tian Shang Di</em></strong>, <strong>玉天大帝</strong> <strong><em>Yu Tian Da Di</em>.</strong></p>
<p>Di dalam hati rakyat Tiongkok zaman dulu, Kaisar adalah orang yang paling dihormati &amp; paling dijunjung tinggi dalam sebuah negara (Kerajaan). Sedangkan dalam pola berpikir dari <strong>善男信女</strong>penganut agama Tiongkok (Buddha, Taoisme, Khong Hu Cu) yang saleh, Giok Hong Tay Te adalah Dewa Pertama Alam Langit, <strong>Dewata Tertinggi</strong> yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain, seperti Dewa Matahari &amp; Dewi Rembulan, Dewa Bintang, Dewa Halilintar, Dewa Angin, Dewa Awan, dan lain-lain. Sehingga tidak dapat disalahkan jika orang Tionghoa menganggap bahwa Giok Hong Siong Te adalah Tuhan mereka. Pandangan ini masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini identik dengan umat Kristiani yang menganggap Yesus sebagai Tuhan mereka.</p>
<p>Menurut legenda, Giok Hong Tai Tee adalah putra dari <strong>淨德國王</strong> Raja <em>Jing De</em> &amp; <strong>寶月光王后</strong> Ratu <em>Bao Yue Guang</em> dari negeri <strong>光嚴妙樂</strong> <em>Guang Yan Miao Le</em>. Setelah dewasa, beliau melepaskan kedudukan Raja dan pergi membina diri ke gunung. Setelah melewati berbagai bencana, barulah menjadi Maha Dewa <strong>玉帝</strong> <em>Yu Di</em>. Giok Hong Tai Tee bertahta di langit tingkat ke-33 di sebuah istana yang disebut <strong>淩霄寶殿Ling Xiao Bao Dian</strong> yang berarti <em>Istana Halimun Mukjizat</em>. Lalu mengapa banyak orang menganggap Yu Huang Shang Di sebagai<strong>上帝</strong> Shang Di / <strong>天公</strong> <em>Tian Gong</em> {Hok Kian = <em>Siong Tee </em>/<em> Thi Kong</em> = Tuhan Yang Maha Esa}???</p>
<p>[ NB : Perhatikan huruf Mandarin berikut (beda 1 huruf &lt;bahkan beda 1 goresan pun&gt;,  beda arti) : <strong>上帝</strong> Shang Di = Tuhan Yang Maha Esa. <strong>玉皇上帝</strong> Yu Huang Shang Di = Maha Dewa Tertinggi Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta. <strong>玄天上帝</strong> Xuan Tian Shang Di = Dewa Langit Utara ].</p>
<p>Sebenarnya Tuhan itu sendiri tak dapat dijangkau oleh daya pikir / nalar umat manusia yang terbatas, juga tidak dapat dijelaskan melalui ucapan &amp; tulisan yang amat sangat terbatas, namun melalui penciptaan-Nya kita mempercayai adanya <strong>SATU TUHAN, </strong>yaitu <strong>Tuhan Yang Maha Esa</strong>. Percaya &amp; hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa telah ada sejak 5.000-an tahun yang lalu pada zaman <strong>五帝</strong> <em>Wu Di</em> {<em>Ngo Tee</em> = 5 Kaisar Kuno, tahun 2952 – 2205 SM}.</p>
<p>Pada zaman dulu di Tiongkok, pemujaan terhadap <strong>上帝</strong><em>Shang Di</em> / <em>Tian Gong</em> {<em>Thi Kong</em>} hanya boleh dilakukan oleh Kaisar &amp; keluarganya saja, karena beranggapan bahwa Shang Di adalah leluhur mereka dan memberikan mandat kepada mereka untuk memerintah di bumi ini. Rakyat biasa tidak diperbolehkan memuja Thi Kong, karena dengan berbuat begitu dapat dianggap menyamakan dirinya sebagai keluarga Kaisar, suatu pelanggaran yang diancam dengan hukuman mati.</p>
<p>Jadi upacara sembahyang kepada Shang Di hanya boleh dilakukan oleh keluarga kerajaan &amp; dipimpin oleh Kaisar sendiri sebagai Pemimpin Upacara, dengan dibantu oleh anggota keluarganya dan para petinggi kerajaan yang lain. Upacara sembahyang kepada Tian ini biasanya dilakukan oleh pihak kerajaan di Ruang Altar Kerajaan yang disebut <strong>天壇</strong> <em>Tian Tan</em> (baca: Thien Than, arti harfiah = kuil langit), Temple of Heaven, yang ada di ibukota Tiongkok, <strong>北京</strong> <em>Bei Jing</em>. Di Tian Tan ini Kaisar &amp; keluarganya sembahyang kepada Tian {Thi Kong} dengan sebutan <strong>皇天上帝</strong> <em>Huang Tian Shang Di</em> {<em>Hong Thian Siong Tee</em>} &lt; Huruf Huang Tian Shang Di ini sampai sekarang masih tercantum di bagian atas Tian Tan &gt;.</p>
<p>Sedangkan rakyat biasa mengadakan sembahyang di rumah masing-masing, di depan pintu, atau di tepi jalan, tanpa upacara macam-macam; cukup dengan menyalakan sepasang lilin dan sebatang/3 batang dupa yang disojakan ke arah langit. Rakyat Tiongkok terutama orang Hok Kian menganggap Giok Hong Siong Tee sebagai Thi Kong, karena Giok Hong Tai Tee adalah Dewata Tertinggi sebagai Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta.</p>
<p>Setelah zaman Dinasti Song [960 – 1280 M], Kaisar-Kaisar yang bertahta kemudian tidak begitu ketat lagi dalam memberlakukan larangan pemujaan Shang Di oleh rakyat. Sehingga, orang pada umumnya berkata bahwa mereka mengadakan sembahyang sederhana kepada Shang Di, pada waktu menyalakan dupa &amp; lilin. Padahal ia tidak berhak berbuat begitu, walaupun sangat menghormati Shang Di.</p>
<p>Di dalam kelenteng, biasanya tidak terdapat gambar atau arca Giok Hong Siong Tee. Untuk sembahyang kepadanya cukup disediakan sebuah pedupaan besar yang terletak di depan ruang utama. Pedupaan ini dinamakan <strong>天公爐</strong> <strong>Tian Gong Lu </strong>{Hiolo Thi Kong}. Seperti di Kelenteng Kim Tek Ie ini, Hiolo (tempat menancapkan dupa) untuk sembahyang kepada Thi Kong, bersamaan dengan hiolo untuk sembahyang kepada Giok Hong Tai Tee. Seperti pada foto di bawah, ini adalah Hiolo Thi Kong di Kim Tek Ie.</p>
<p>Pada waktu bersembahyang, mula-mula kita berdoa kepada Thi Kong, dengan membakar dupa &amp; menancapkannya di Hiolo Thi Kong terlebih dulu sebelum bersembahyang kepada para dewata lainnya. Bahwasanya <strong>Sembahyang di Kelenteng</strong> itu termasuk agama yang monotheis, karena mengakui Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan para dewata di sini adalah sebagai wakil Tuhan di dunia yang mendengarkan segala doa dari umatnya. Jadi jika ada orang Tionghoa yang bersembahyang di kelenteng, ini <strong>BUKAN </strong>karena mereka percaya <strong>TAHAYUL</strong>, melainkan karena mereka hendak menghadap kepada salah satu di antara sekian banyak pembantu Tuhan (yaitu : dewa/i) di dunia ini untuk keperluan tertentu, misalnya: kesehatan, pekerjaan / bisnis supaya lancar, karir semakin meningkat, dapat jodoh, keluarga harmonis, atau sekedar menumpahkan perasaan hatinya (<em>curhat</em>).</p>
<p>Namun ada pula kelenteng yang khusus memuja Yu Huang Da Di, yang ditampilkan dengan wujud seorang kaisar yang berpakaian kuno, dengan tangan memegang sebilah <em>Hu</em> (bilah dari gading atau sejenisnya yang digunakan oleh menteri-menteri zaman kuno untuk menghadiri sidang kerajaan). Yu Huang Da Di adalah Dewata Tertinggi sebagai Pelaksana Pemerintahan alam semesta, dan mewakili Tuhan dalam memerintah alam semesta. Oleh karena itu beliau ditampilkan dengan memegang <em>Hu,</em> yang digunakan dalam upacara menghadap atasannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_557" class="wp-caption aligncenter" style="width: 190px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/giokhongtayte_05.jpg"><img class="size-full wp-image-557" title="Giok Hong Tay Te – Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/giokhongtayte_05.jpg" alt="Giok Hong Tay Te – Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta" width="180" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">Giok Hong Tay Te – Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta</p></div>
<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:A00280.jpg"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/giok-hong-tay-te-maha-dewa-pelaksana-pemerintahan-alam-semesta-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>O Mi To Hud &#8211; Buddha Dengan Terang Tiada Tara</title>
		<link>http://jindeyuan.org/o-mi-to-hud-buddha-dengan-terang-tiada-tara-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/o-mi-to-hud-buddha-dengan-terang-tiada-tara-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 04:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[omitohud]]></category>
		<category><![CDATA[Tiada Tara]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak Terbatas]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Ratna Buddha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[O Mi To Hud – Buddha Dengan Terang Tiada Tara
Memperbincangkan nama 阿彌陀佛A Mi Tuo Fo {Hok Kian = O Mi To Hud} di kalangan Buddhis, jika ada umat Buddha yang tidak pernah mendengar namanya, itu sungguh-sungguh …… “Omitohud !” (bahasa Jakarta : Kebangetan!)  Dari hal ini dapat diketahui bahwa banyak umat Buddha yang bisa menyebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>O Mi To Hud – Buddha Dengan Terang Tiada Tara</strong></p>
<p>Memperbincangkan nama 阿彌陀佛<strong><em>A Mi Tuo Fo</em></strong> {Hok Kian = <em>O Mi To Hud}</em> di kalangan Buddhis, jika ada umat Buddha yang tidak pernah mendengar namanya, itu sungguh-sungguh …… “Omitohud !” (bahasa Jakarta : Kebangetan!)  Dari hal ini dapat diketahui bahwa banyak umat Buddha yang bisa menyebut A Mi Tuo Fo (Buddha Amitabha) dengan fasih &amp; lancar. Namun, orang yang sungguh-sungguh mengerti &amp; memahami maknanya, dikhawatirkan tidak banyak.</p>
<p>A Mi Tuo Fo adalah Buddha yang merintis Dunia Sukhawati Barat. Nama Sansekerta dari A Mi Tuo Fo adalah <strong>Buddha Amitabha</strong>, yang bermakna : <strong>Terang Yang Tiada Tara</strong>, <strong>Usia Yang Tidak Terbatas</strong>. Buddha Amitabha kecemerlangannya tiada tara, umurnya tidak ada batas, sehingga disebut pula 無量光佛 Wu Liang Guang Fo (Buddha Dengan Terang Tiada Tara), 無數壽佛 Wu Shu Shou Fo (Buddha Yang Usianya Tanpa Batas). Hari lahir (Se Jit) A Mi Tuo Fo diperingati setiap tanggal 17 bulan 11 Imlek.</p>
<p>Di dalam Kelenteng, seperti di 金德院 Jin De Yuan {Kim Tek Ie} ini, Buddha Amitabha ditampilkan bersama dengan 釋迦牟尼佛<strong><em>Shi Jia Mou Ni Fo</em></strong> {Hok Kian = Sek Ka Mo Ni Hud} Buddha Sakyamuni, &amp; 藥師佛<strong><em>Yao Shi Fo</em></strong> {<em>Yok Su </em>Hud} Buddha Bhaisajya Guru. Mereka bertiga disebut 三尊大佛 <strong><em>San Zun Da Fo</em></strong><em> </em>{<em>Sam Cun Tai Hud </em>} atau lebih terkenal dengan sebutan 三寶佛 <strong><em>San Bao Fo</em></strong> {<em>Sam Po Hud </em>} atau <strong>Tri Ratna Buddha</strong>.</p>
<p>Seperti kita ketahui dalam Buddhisme yang disebut <em>Tri Ratna</em> adalah 佛Buddha, 法 Dharma &amp; 僧 Sangha. Buddha adalah orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Dharma adalah ajaran-ajaran suci Sang Buddha, &amp; Sangha adalah persaudaraan suci para Bhikkhu/Bhikkhuni. Dalam Bahasa Mandarin, Buddha disebut sebagai 佛寳 Fo Bao, Dharma disebut sebagai 法寶Fa Bao, &amp; Sangha disebut 僧寳 Seng Bao. Ketiganya secara bersama disebut 三寶 San Bao (Sansekerta = Tri Ratna). San Bao ini dalam Khasanah Dewata Buddhisme Tionghoa dipersonifikasikan dengan 3 (tiga) tokoh, yaitu : Shi Jia Mou Ni Fo sebagai Fo Bao, A Mi Tuo Fo sebagai Fa Bao, &amp; Yao Shi Fo sebagai Seng Bao.</p>
<p>Berdasarkan Kitab Agama Buddha 無量壽經 ada tercatat sebagai berikut : Pada beberapa kalpa kehidupan yang lampau, ada seorang Raja yang bernama 法藏比丘 Fa Chang Bi Qiu. Beliau meneguhkan niat suci, melepaskan kedudukan sebagai Raja &amp; menjadi Bhikkhu dengan nama <em>Dharmakarsa</em>. Diilhami khotbah Sang Buddha pada masa itu, Lokesvaraja Buddha, yang mengajarkan kepadanya Jalan Penerangan Sempurna sejak berabad-abad lampau. Dharmakarsa lalu menegakkan 48 ikrar untuk menyelamatkan mahluk-mahluk yang menderita. Setelah melewati 5 kalpa kehidupan, beliau memperoleh Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha Amitabha.</p>
<p>Beliau merintis Dunia Sukawati Barat (Taman Firdaus). Mahluk-mahluk yang menderita akan dibimbing ke Dunia Sukawati jika mereka dengan segenap ketulusan hati menyebutkan berulang kali 南無阿彌陀佛 <em>Nan Wu A Mi Tuo Fo</em> (Sansekerta = Namo Amitabha Buddha) yang berarti : “Saya berlindung kepada Buddha Amitabha”.</p>
<p>Tentu saja bukan hanya sekedar mulut mengucapkan doa kepada Buddha, lalu bisa terlahir di Tanah Suci. Dalam Kitab <em>A Mi Tuo Jing</em> ada tertulis : 不可以少善根福德因緣，得生彼國. Yang berarti : Kalau seseorang tidak baik hati, tidak berbuat amal kebajikan &amp; menolong orang, walaupun mengucapkan doa seberapa banyak, juga tidak dapat terlahir di Dunia Sukawati Barat. Jadi yang terpenting adalah kita banyak berdoa kepada Buddha, &amp; banyak berbuat amal kebajikan sesuai kemampuan kita.</p>
<p><strong>Buddha Amitabha bersama dengan</strong> 觀世音菩薩 <strong>Guan Shi Yin Pu Sa</strong> {<em>Kwan Se Im Pho Sat </em><em>}</em> dan 大勢至菩薩<strong>Da Shi Zhi Pu Sa</strong> {<strong><em>Tay Si Ci Pho Sat</em></strong> } &lt; Guan Shi Yin Pu Sa &amp; Da Shi Zhi Pu Sa melambangkan welas asih &amp; kearifan &gt; , bertiga terkenal dengan sebutan 西方三聖 <strong>Xi Fang San Sheng</strong> {<em>Se Hong Sam Seng </em><em>}</em>, yang berarti Tri Suci dari Alam Barat.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_553" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/Omitohud_04.jpg"><img class="size-medium wp-image-553" title="O Mi To Hud – Buddha Dengan Terang Tiada Tara" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/Omitohud_04-224x300.jpg" alt="O Mi To Hud – Buddha Dengan Terang Tiada Tara" width="224" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">O Mi To Hud – Buddha Dengan Terang Tiada Tara</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/o-mi-to-hud-buddha-dengan-terang-tiada-tara-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Co Su Kong &#8211; Dewa Dari Cadas Air Jernih</title>
		<link>http://jindeyuan.org/co-su-kong-dewa-dari-cadas-air-jernih-4/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/co-su-kong-dewa-dari-cadas-air-jernih-4/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 03:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Air Jernih]]></category>
		<category><![CDATA[cadas]]></category>
		<category><![CDATA[Hidung Lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[Co Su Kong – Dewa Dari Cadas Air Jernih
清水祖師 Qing Shui Zu Shi {Hok Kian = Ching Cui Co Su}disebut juga sebagai 烏面祖師Wu Mian Zhu Shi (Dewa yang berwajah hitam). Di kalangan rakyat Taiwan, penduduk di propinsi Hok Kian, RRC, &#38; orang-orang Hok Kian di manca negara beliau sering dihormati sebagai 祖師公 Zu Shi Gong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Co Su Kong – Dewa Dari Cadas Air Jernih</strong></p>
<p>清水祖師 <strong><em>Qing Shui Zu Shi</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Ching Cui Co Su</em></strong>}disebut juga sebagai 烏面祖師<strong><em>Wu Mian Zhu Shi</em></strong><strong><em> </em></strong>(Dewa yang berwajah hitam). Di kalangan rakyat Taiwan, penduduk di propinsi Hok Kian, RRC, &amp; orang-orang Hok Kian di manca negara beliau sering dihormati sebagai 祖師公 <strong><em>Zu Shi Gong</em></strong> {<strong><em>Co Su Kong</em></strong>}. Sebutan lain untuk beliau adalah : 清水巗祖師 <strong><em>Qing Shui Yan Zu Shi</em></strong> (Dewa dari cadas air jernih), 昭應祖師<em> <strong>Zhao Ying Zu Shi</strong></em> (Guru Besar Zhao Ying), dan 落鼻祖師 <strong><em>Luo Bi Zu Shi</em></strong> (Dewa yang hidungnya terlepas).</p>
<p>Co Su Kong berasal dari propinsi Hok Kian, kabupaten Yong Chun. Nama panggilan sehari-hari adalah 陳昭應 Chen Zhao Ying {Hok Kian = Tan Ciao Eng}. Beliau lahir pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song [960-1279 M], masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat. Chen Zhao Ying pada usia kanak-kanak telah mencukur rambut untuk menjadi Bhikkhu. Beliau pergi ke Gunung 大靜山 Da Jing Shan untuk berguru kepada Guru Zen 明松禪師 <em>Ming Song Chan Shi</em>, yang kemudian menamainya kembali dengan Pu Zu {Pho Ciok}.</p>
<p>Setelah membina diri dengan tekun selama 3 tahun, beliau mencapai kesempurnaan, lalu berpamitan kepada gurunya. Sebelum berangkat gurunya mewariskan jubah &amp; patra kepada Chen Zhao Ying, dan berpesan kepadanya agar berpegang teguh pada semangat cinta kasih Buddhisme, &amp; memberikan manfaat kepada makhluk hidup &amp; dunia sebagai misi luhur seumur hidup.</p>
<p>Chen Zhao Ying mahir dalam pengobatan &amp; mendatangkan hujan bagi penduduk di sekitar <em>An Xi</em> {<em>An Hui</em>} &amp; <em>Xia Men</em> {<em>E Meng</em>}. Beliau sering membantu penduduk yang miskin dalam hal pengobatan dan menolong orang-orang membangun jembatan. Di dekat gua tempat beliau bertapa terdapat sumber air yang jernih, yang bernama <em>Qing Shui Yan</em> {<em>Ching Cui Giam</em>} yang berarti Cadas Air Bersih. Dengan air jernih &amp; meditasi di gua ini Chen Zhao Ying mengobati orang-orang yang meminta pertolongannya. Karena itu beliau mendapat sebutan 清水巗祖師 <strong>Qing Shui Yan Zu Shi </strong>{<strong>Qing Shui Zu Shi} </strong>yang berarti <strong>Dewa</strong> <strong>dari Cadas Air Jernih</strong>.</p>
<p>Co Su Kong kadang disebut juga 烏面祖師 <strong>Wu Mian Zhu Shi</strong> (Dewa yang berwajah hitam). Pada saat bertapa di gua Qing Shui Yan, beliau diganggu oleh setan iblis. Lalu beliau terdesak sampai masuk ke lubang selama 7 hari 7 malam. Walaupun terkurung dalam lubang selama berhari-hari, beliau tidak meninggal. Pada saat keluar dari lubang, wajah beliau seluruhnya sudah dipenuhi warna hitam. Inilah sebabnya mengapa beliau disebut juga sebagai <strong>Wu Mian Zhu Shi</strong>.</p>
<p>Qing Shui Zu Shi sering ditampilkan dengan wajah berbeda-beda, kadang berwarna hitam, kuning atau merah. Ada ahli sejarah yang berpendapat bahwa perbedaan warna muka disebabkan karena asal daerah pemujaan yang berbeda-beda. Arca Qing Shui Zu Shi ditampilkan sebagai seorang Bikkhu yang yang duduk bersila dengan memakai topi 5 warna Buddhis, dengan memakai jubah {<em>Jia Sha</em>} berwarna merah.</p>
<p>Pernah pada suatu kali, arca Co Su Kong copot hidungnya. Belakangan, walaupun sudah diperbaiki oleh orang, namun setiap kali akan timbul bencana alam atau mara bahaya yang akan menimpa penduduk setempat, hidungnya akan copot kembali. Ini merupakan isyarat akan datangnya bencana. Sehingga Co Su Kong disebut juga sebagai 落鼻祖師 <strong>Luo Bi Zu Shi</strong>, yang berarti <strong>Dewa yang Hidungnya Terlepas</strong>.</p>
<p>Co Su Kong wafat pada saat bersemedi tanggal 6 bulan 6 Imlek, tahun 1143 M, pada masa pemerintahan Kaisar Wei Zhong dari Dinasti Song tahun ke sembilan.</p>
<p>Kelenteng Qing Shui Zu Shi banyak terdapat di propinsi Fu Jian {Hok Kian}. Di Taiwan &amp; negara Asia lainnya, kelenteng Qing Shui Zu Shi didirikan oleh kelompok imigran dari 廈門 Xia Men {E Meng}. Karena para imigran dari Xia Men ini banyak terdapat pula di Indonesia, maka kelenteng yang memuja Qing Shui Zu Shi juga ada, antara lain : Kelenteng 金德院 Kim Tek Ie, Jakarta; Kelenteng Da Jue Si {Tai Kak Si}, Jl. Gg Lombok, Semarang; &amp; Kelenteng Tanjung Kait, Tangerang.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_549" class="wp-caption aligncenter" style="width: 258px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/cosukong_03.jpg"><img class="size-medium wp-image-549" title="Co Su Kong - Dewa Dari Cadas Air Jernih" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/cosukong_03-248x300.jpg" alt="Co Su Kong - Dewa Dari Cadas Air Jernih" width="248" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Co Su Kong - Dewa Dari Cadas Air Jernih</p></div>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/co-su-kong-dewa-dari-cadas-air-jernih-4/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Twa Thien Ong &#8211; Empat Raja Langit</title>
		<link>http://jindeyuan.org/si-twa-thien-ong-empat-raja-langit-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/si-twa-thien-ong-empat-raja-langit-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 03:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Four King]]></category>
		<category><![CDATA[Heaven]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Langit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Si Twa Thien Ong – Empat Raja Langit
四大天王 Si Da Tian Wang {Hok Kian = Si Twa Thien Ong} adalah Empat Raja Langit, yang terdiri dari :

Nan      Fang Zeng Chang Tian Wang      南方增長天王
Xi      Fang Guang Mu Tian Wang 西方廣目天王
Bei  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Si Twa Thien Ong – Empat Raja Langit</strong></p>
<p>四大天王 <strong><em>Si Da Tian Wang</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Si Twa Thien Ong</em></strong>} adalah Empat Raja Langit, yang terdiri dari :</p>
<ol>
<li>Nan      Fang Zeng Chang Tian Wang      南方增長天王</li>
<li>Xi      Fang Guang Mu Tian Wang 西方廣目天王</li>
<li>Bei      Fang Duo Wen Tian Wang 北方多聞天王</li>
<li>Dong      Fang Che Guo Tian Wang 東方持國天王</li>
</ol>
<p>Si Twa Thien Ong ini sering disebut juga sebagai 四大金剛 <strong><em>Si Da Jin Gang</em></strong> <strong><em>{Si Twa Kim Kong}</em></strong> yang berarti <strong>Empat Prajurit Pengawal Buddha</strong> (Sansekerta = Catur Vajra). Si Twa Thien Ong adalah para hulu balang yang menjaga langit. Mereka adalah penguasa benua-benua yang terletak di ke empat mata angin dari Gunung Suci Semeru yang dianggap oleh para umat Buddha sebagai pusat dunia. Mereka juga dianggap bisa melimpahkan berkah kepada siapa saja yang menghormati Tri Ratna Buddha (Tiga Pusaka Buddhisme) yaitu Buddha, Dharma &amp; Sangha.</p>
<p>Menurut Kitab Suci Buddha, mereka berempat adalah pengawal Indra, yang bertugas di luar kahyangan, dan mempunyai wilayah kekuasaan di empat penjuru alam. <strong><em>Nan</em></strong><strong><em> Fang Zeng Chang Tian Wang</em></strong> (Virudhaka) yang berwajah biru berkuasa di wilayah Selatan. <strong><em>Xi Fang Guang Mu Tian Wang</em></strong> (Virupaksa) yang berwajah merah berkuasa di wilayah Barat. <strong><em>Bei Fang Duo Wen Tian Wang</em></strong> (Dhanada) yang berwajah kuning berkuasa di wilayah Utara. <strong><em>Dong Fang Che Guo Tian Wang</em></strong> (Dhatarastra) yang berwajah putih berkuasa di wilayah Timur.</p>
<p>Setelah Buddhisme memasuki Daratan Tiongkok, muncullah versi Tionghoa untuk Si Twa Kim Kong ini. Mereka sering kali muncul dalam bentuk arca yang berukuran besar dan menjaga sebelah kiri &amp; kanan pintu besar kelenteng-kelenteng Buddhis. Hampir semua kelenteng Buddhis, seperti Shao Lin Si (kuil Shao Lim) di pegunungan Song Shan, Bi Yun Si di lereng Utara bukit Xiang Shan dekat Bei Jing dan lain-lain, terdapat arca-arca mereka berempat dalam ukuran besar. Kira-kira 3 X ukuran manusia.</p>
<p>Dalam versi Tionghoa, Si Twa Thien Ong digambarkan sebagai 4 saudara yang bertubuh raksasa, memakai pakaian perang yang lengkap &amp; memegang senjata yang berbeda-beda. Riwayat mereka terdapat dalam novel <em>Feng Shen</em> {Hong Sin}, dan disebut sebagai 4 Saudara dari keluarga Mo.</p>
<p>Saudara tertua adalah <strong><em>Mo Li Qing</em></strong> {<em>Mo Le Khing</em>}, bergelar <strong><em>Zeng Chang Tian Wang</em></strong> (Raja Langit Penguasa Pertumbuhan) dengan tinggi 8 meter, mempunyai warna kulit yang bersih tapi wajahnya bengis, berewokan. Ia membawa sebuah pedang &amp; gelang kumala. Di mata pedang tersebut terdapat 4 buah huruf : 地, 水, 火, 風 Di, Shui, Huo, Feng (Tanah, Air, Api &amp; Angin). Apabila pedang ini dihunus, muncullah angin hitam yang membawa puluhan ribu lembing yang dapat menembus tubuh musuh-musuhnya dan membuatnya menjadi debu. Angin hitam ini kemudian diikuti munculnya beribu-ribu ekor ular. Asap tebal menutupi bumi, membuat musuh-musuhnya menjadi buta &amp; terbakar, dan tak seorangpun dapat meloloskan diri.</p>
<p><strong><em>Mo Li Hong</em></strong> {<em>Mo Le Hong</em>} bergelar <strong><em>Guang Mu Tian Wang</em></strong> (Raja Langit Pelihat Jauh), mempunyai sebatang payung pusaka yang disebut <em>Payung Pengacau Jagat</em>. Payung ini terbuat dari rangkaian mutiara-mutiara yang mahal. Apabila payung ini dibuka, seluruh jagat akan terselimuti kegelapan. Bila payung itu diputar, akan terjadi topan di laut &amp; gempa di daratan.</p>
<p><strong><em>Mo Li Hai</em></strong><em> {Mo Le Hai}</em> bergelar <strong><em>Duo Wen Tian Wang</em></strong> (Raja Langit Yang Amat Termashur), ia memakai senjata sejenis mandolin yang mempunyai 4 dawai. Apabila dawai itu dipetik, sebuah kekuatan yang dahsyat akan muncul dan mempengaruhi bumi, air, api &amp; angin. Kalau sebuah lagu dimainkan, kubu-kubu musuh akan tenggelam dalam lautan api.</p>
<p><strong><em>Mo Li Shou</em></strong><em> {Mo Le Siu}</em> bergelar <strong><em>Che Guo Tian Wang</em></strong> (Raja Langit Pendukung Negara), mempunyai 2 batang cambuk sakti &amp; sebuah kantong dari kulit macan tutul, yang selalu digantungkan di pinggangnya. Dalam kantong ini terdapat seekor mahluk sebesar tikus yang disebut Hua Hu Diao. Jika dikeluarkan dari kantongnya Hua Hu Diao ini dapat berubah menjadi mahluk raksasa yang mirip dengan gajah putih yang bersayap, &amp; melahap siapa saja yang ditemuinya. Seringkali Mo Li Shou dilukiskan juga dengan membawa ular atau mahluk ajaib lain yang siap melaksanakan perintahnya, &amp; gemar menelan manusia.</p>
<p>Pemujaan Si Twa Kim Kong di Tiongkok dipopulerkan oleh seorang Bikkhu dari Sri Lanka, Bu Kong {Hok Kian = Put Kong} yang datang ke Tiongkok pada tahun 720 M, pada masa Dinasti Tang [618 – 907 M]. Kemudian pada masa pemerintahan Kaisar Xuan Zong [712 – 756 M] arca-arcanya mulai bermunculan. Kaisar sendiri memerintahkan agar arca Si Twa Kim Kong ini ditempatkan di sudut Barat Laut ibukota untuk melindungi kota itu dari pengaruh buruk.</p>
<p>Di kalangan Taoist, ada juga istilah untuk 4 Jendral Langit yang bertugas mengawal pintu Surga &amp; Kahyangan yang disebut <strong><em>Si Da Yuan Shuai</em></strong> {<strong><em>Si Twa Gwan Swee</em></strong>}. Mereka terdiri dari orang-orang yang bermarga Li, Ma, Zhao &amp; Wen. Kelompok 4 Jendral versi Taoist ini adalah : Li Jing {Li Ceng} yang memiliki sebuah pagoda wasiat, sehingga disebut juga Li Tian Wang {Li Tian Ong}, yang bermarga Ma tidak jelas apa lengkapnya. Yang ketiga adalah Zhao Gong Ming {Tio Kong Beng} yang dikenal juga sebagai Xuan Dan Yuan Shuai (Dewa Kekayaan). Yang keempat adalah Wen Tai Shi / Wen Zhong {Bun Tiong}, Jendral terkenal dari Zhou Wang, pada masa Dinasti Shang [abad 16 – abad 11 SM].</p>
<p>Selain di Tiongkok, di Kuil Todainyi, Jepang, juga memiliki arca Si Twa Thien Ong dalam ukuran besar, yang tentu saja dalam Versi Jepang. Di Singapura, arca Si Twa Thien Ong dapat ditemui di Kelenteng-kelenteng <em>Xuang Lin Si</em> <em>{Siang Lim See}</em>, di Jalan Toa Payoh, yang merupakan suatu hasil seni yang bermutu tinggi.</p>
<p>Di Indonesia, selain di Kelenteng Kim Tek Ie, arca Si Twa Thien Ong juga dapat ditemui di Kelenteng Tri Dharma, Lawang, Jawa Timur. Sementara di kelenteng lainnya kita hanya dapat menemui gambarnya saja.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_545" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/SiTwaThienOng_03.jpg"><img class="size-medium wp-image-545" title="Si Twa Thien Ong – Empat Raja Langit" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/12/SiTwaThienOng_03-300x150.jpg" alt="Si Twa Thien Ong – Empat Raja Langit" width="300" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Si Twa Thien Ong – Empat Raja Langit</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/si-twa-thien-ong-empat-raja-langit-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sam Kwan Tai Te &#8211; Kaisar 3 Dunia</title>
		<link>http://jindeyuan.org/sam-kwan-tai-te-kaisar-3-dunia-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/sam-kwan-tai-te-kaisar-3-dunia-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 03:51:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[kaisar]]></category>
		<category><![CDATA[Sam Gwan]]></category>
		<category><![CDATA[Taois]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Murti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Sam Kwan Tai Te – Kaisar 3 Dunia
San Guan Da Di {Hok Kian = Sam Kwan Tai Te} adalah Tri Murti Taois, dianggap sebagai wakil Tuhan Yang Maha Esa di dunia. Nampak dalam perwujudan sebagai Kaisar Tiga Dunia : Langit, Bumi &#38; Air, terdiri dari 3 (tiga) orang, dan secara umum disebut San Jie Gong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Sam Kwan Tai Te – Kaisar 3 Dunia</strong></p>
<p><em>San Guan Da Di</em> {Hok Kian = <em>Sam Kwan Tai Te</em>} adalah Tri Murti Taois, dianggap sebagai wakil Tuhan Yang Maha Esa di dunia. Nampak dalam perwujudan sebagai Kaisar Tiga Dunia : Langit, Bumi &amp; Air, terdiri dari 3 (tiga) orang, dan secara umum disebut <em>San Jie Gong</em> {Hok Kian = <em>Sam Kai Kong</em>}.</p>
<p>Sebutan untuk <em>San Goan Da Di </em>ada bermacam-macam :</p>
<p><strong>Pertama</strong>, sebutan <strong><em>San Yuan</em></strong> {Hok Kian = <em>Sam Gwan</em>}. Sebutan ini menunjukkan waktu ketiga Kaisar tersebut turun ke dunia, yaitu :</p>
<ol>
<li>Cia Gwe Cap Go (tgl 15 bulan      1 Imlek) = Shang Yuan {Hok Kian = Siang Gwan}</li>
<li>Cit Gwe Cap Go (tgl 15 bulan      7 Imlek) = Zhong Yuan {Hok Kian = Tiong Gwan}</li>
<li>Cap Gwe Cap Go (tgl 15 bulan      10 Imlek) = Xia Yuan {Hok Kian = He Gwan}</li>
</ol>
<p><strong>Kedua</strong>, sebutan <strong><em>San Guan</em></strong> {Hok Kian = Sam Kwan}. Sebutan ini ditinjau dari pangkatnya, yaitu: Tian Guan, Di Guan, Shui Guan, yang merupakan pemberi berkah, pengampunan dosa &amp; pelindung dari bencana &amp; malapetaka.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, terkenal dengan sebutan <strong><em>San Goan Da Di</em></strong><em> </em>{Hok Kian = <em>Sam Kwan Tai Te</em>}. Gelar ini diberikan oleh Maha Dewa <em>Yuan Shi Tian Zun</em>.</p>
<p>Tian Guan diberi gelar <em>Zi Wei Da Di</em> {Hok Kian = <em>Ci Wi Tai Te</em>}.</p>
<p>Di Guan diberi gelar <em>Qing Xu Da Di</em> {Hok Kian = <em>Ching Hi Tai Te</em>}</p>
<p>Shui Guan diberi gelar <em>Dong Xu Da Di</em> {Hok Kian = <em>Thong Hi Tai Te</em>}</p>
<p>Ketiga Da Di ini secara bersama-sama disebut San Guan Da Di.</p>
<p>Penjelasan San Guan Da Di adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.      <em>Tian Guan</em> {<em>Thien Kwan</em>} = Dewa Penguasa Langit; menguasai peredaran matahari, bulan, bintang, udara, dan benda semesta lainnya. Tian Guan turun ke dunia untuk memberikan berkah kepada umat manusia setiap tanggal 15 bulan 1 Imlek {<em>Cia Gwe Cap Go</em>}, oleh karena ini beliau disebut Shang Yuan. Gelar lengkapnya adalah <em>Shang Yuan Ci Fu Tian Guan Yi Ping Zi Wei Da Di</em> (disingkat <strong>Shang Yuan Tian Guan Da Di</strong>), yang berarti sebagai berikut : Zi Wei Da Di adalah gelar Tian Guan, penguasa langit pertama (Tian Guan Yi Ping), pada waktu Shang Yuan (Cia Gwe Cap Go) turun membagi berkah (Ci Fu). Hari Se Jit Tian Guan diperingati setiap tanggal 15 bulan 1 Imlek (Cia Gwe 15).</p>
<p>2.      <em>Di Guan</em> {<em>Tee Kwan</em>} = Dewa Penguasa Bumi; berkuasa atas terciptanya semua yang ada di dunia, termasuk manusia, binatang &amp; tumbuhan. Di Guan turun ke dunia untuk mengatur kelahiran &amp; kematian, mengatur hasil panen, mengatur tempat-tempat yang sunyi untuk roh-roh manusia ke akherat dan mengurus pengampunan dosa pada setiap tanggal 15 bulan 7 Imlek {<em>Cit Gwe Cap Go</em>}, oleh karena ini beliau disebut Zhong Yuan. Gelar lengkapnya adalah <em>Zhong Yuan She Zui Di Guan Er Ping Qing Xu Da Di</em> (disingkat <strong>Zhong Yuan Di Guan Da Di</strong>), yang berarti sebagai berikut : Qing Xu Da Di adalah gelar kehormatan Di Guan, penguasa bumi tingkat menengah (Di Guan Er Ping), pada waktu Zhong Yuan (Cit Gwe Cap Go) datang ke dunia untuk mengampuni dosa-dosa manusia (She Zui). Hari Se Jit Di Guan diperingati setiap tanggal 15 bulan 7 Imlek (Cit Gwe 15).</p>
<p>3.      <em>Shui Guan</em> {<em>Cui Kwan</em>} = Dewa yang menguasai peredaran air, hujan, sumber di gunung, sungai, lautan dan mengatur angin yang membawa hujan, banjir &amp; segala sesuatu yang berhubungan dengan air. Shui Guan turun ke dunia untuk mengatur peredaran air &amp; membebaskan manusia dari berbagai musibah yang ada hubungannya dengan air pada tanggal 15 bulan 10 Imlek {<em>Cap Gwe Cap Go</em>}, oleh karena ini beliau disebut Xia Yuan. Gelar lengkap beliau adalah <em>Xia Yuan Jie E Shui Guan San Ping Dong Xu Da Di</em> (disingkat <strong>Xia Yuan Shui Guan Da Di</strong>), yang berarti sebagai berikut : Dong Xu Da Di adalah gelar kehormatan Shui Guan, Penguasa Air Tingkat Bawah (Shui Guan San Ping), pada waktu Xia Yuan (Cap Gwe Cap Go) datang ke dunia menolong manusia menghindarkan bencana (Jie E). Hari Se Jit Shui Guan diperingati setiap tanggal 15 bulan 10 Imlek (Cap Gwe 15).</p>
<p><strong>Keempat</strong>, ada lagi sebutan <strong><em>San Yuan Gong</em></strong> {Hok Kian = <em>Sam Gwan Kong</em>}. Sebutan ini muncul dari anggapan bahwa Tian Guan, Di Guan &amp; Shui Guan sesungguhnya adalah sebutan penuh penghormatan kepada 3 orang kaisar zaman dulu yang terkenal yaitu Kaisar <strong><em>Yao</em></strong> {Hok Kian = <em>Giauw</em>}, Kaisar <strong><em>Shun</em></strong> {<em>Sun</em>}, dan Kaisar <strong><em>Yu</em></strong> {<em>Ie</em>}.</p>
<p>Kaisar Yao [2357 – 2258 SM], Shun [2225 – 2205 SM] &amp; Yu [2205 – 2198 SM] merupakan 3 Kaisar Suci yang adil, bijaksana &amp; sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya, sehingga ketiga Kaisar ini menjadi contoh ideal Kong Zi {Khong Hu Cu}, Meng Zi {Beng Cu}, dan para ahli filsafat lainnya dalam mengajar kepada murid-muridnya, dan juga sering digunakan oleh para ahli filsafat tersebut untuk memberi teladan bagi kaisar-kaisar yang bertahta kemudian.</p>
<p>Oleh rakyat, Kaisar Yao, Shun &amp; Yu dipuja sebagai Tian Guan, Ti Guan dan Shui Guan. Mereka bertiga disebut San Yuan Gong dan kelentengnya banyak tersebar di mana-mana. Mereka dipuja sebagai Dewa yang mengawasi perbuatan baik buruk manusia dan Dewa pelindung kehidupan.</p>
<p>Rupang Sam Kwan Tai Te banyak terdapat di dalam kelenteng, baik di daratan Tiongkok maupun di Hongkong. Di Taiwan terutama di Tai Nan ada 3 kelenteng yang khusus menghormati San Guan Da Di, yaitu <em>San Guan Tang</em>,<em> San Jie Tang </em>&amp; <em>San Guan Da Di Miao.</em> Di pulau Jawa penghormatan kepada Sam Kwan Tai Te, selain di kelenteng Kim Tek Ie, Jakarta juga terdapat di kelenteng Tiauw Kak Si, Cirebon, &amp; kelenteng Tay Kak Si, Semarang.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_537" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/11/SamKwanTaiTe-04.jpg"><img class="size-medium wp-image-537" title="San Guan Da Di – Emperor of Three Worlds" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/11/SamKwanTaiTe-04-300x168.jpg" alt="San Guan Da Di – Emperor of Three Worlds" width="300" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">San Guan Da Di – Emperor of Three Worlds</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/sam-kwan-tai-te-kaisar-3-dunia-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tat Mo Co Su &#8211; Patriach Bodhi Dharma</title>
		<link>http://jindeyuan.org/tat-mo-co-su-patriach-bodhi-dharma-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/tat-mo-co-su-patriach-bodhi-dharma-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 03:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Bodhi Dharma]]></category>
		<category><![CDATA[Patriat]]></category>
		<category><![CDATA[Teratai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[Tat Mo Co Su – Patriach Bodhi Dharma
Membahas tentang Tat Mo Co Su, tak terelakkan terpikir tentang Wihara Shao Lin. Membicarakan tentang Wihara Shao Lin, tak terhindarkan teringat tentang ilmu silat Shao Lin 少林功夫 {Siao Lim Kung Fu} yang terkenal di seluruh dunia. Sebenarnya, ketrampilan ilmu silat Shao Lin (kadang disebut juga Wu Shu), baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Tat Mo Co Su</span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">– </span></strong><strong><span style="text-decoration: underline;">Patriach Bodhi Dharma</span></strong></p>
<p>Membahas tentang <strong><em>Tat Mo Co Su</em></strong>, tak terelakkan terpikir tentang Wihara Shao Lin. Membicarakan tentang Wihara Shao Lin, tak terhindarkan teringat tentang ilmu silat Shao Lin 少林功夫 {<strong>Siao Lim Kung Fu</strong>} yang terkenal di seluruh dunia. Sebenarnya, ketrampilan ilmu silat Shao Lin (kadang disebut juga Wu Shu), baik dengan tangan kosong maupun dengan memakai alat seperti pedang, tombak, dan sebagainya, pada awalnya hanyalah berasal dari semacam olahraga untuk menyehatkan badan setelah melakukan meditasi.</p>
<p><em>Tat Mo Co Su </em>termashur ke seluruh dunia, &amp; membuat orang kagum, bukanlah karena ilmu silatnya yang tinggi, melainkan karena keistimewaannya, dan belajar Dharma Buddha melalui pengalaman sendiri yang sempurna. Salah satu bagian kisah hidup beliau yang tersohor adalah <em>Mian Bi Jiu Nian </em>(bertapa menghadap tembok selama 9 tahun).</p>
<p><strong><em>Da Mo Zu Shi</em></strong> 達摩祖師 {Hok Kian = <em>Tat Mo Co Su</em>} nama aslinya adalah <strong>Bodhi Dharma</strong>, lahir di India Selatan dalam suku Brahma. Setelah menjadi bikkhu, beliau dengan tekun mendalami aliran Mahayana. Dharma {Mandarin = <em>Da</em><em> </em>Mo}, <em>Zu Shi = </em>Master / Guru Besar. <em>Da Mo Zu Shi</em> merupakan pendiri aliran <em>Chan</em> {Jepang = Zen} dalam Buddhisme Tiongkok. Beliau juga terkenal dengan nama <strong>Master Of Zen</strong>. Pada tahun 520 M Bodhi Dharma meninggalkan India &amp; pergi ke Tiongkok (waktu ini merupakan masa Dinasti Liang: 502 – 557 M). Beliau tiba di Guang Zhou, &amp; dari sini berjalan sampai ke negeri Wei (sekarang propinsi Henan). Beliau mengunjungi Wihara Shaolin {Hok Kian = <em>Siao Lim Si</em>} di pegunungan Song Shan. Di wihara ini ia memperdalam ilmu meditasi aliran Chan &amp; mengajarkan kepada para bikkhu di sana. Ilmu meditasi ini kemudian menjadi dasar latihan tenaga dalam, sebagai bagian dari ilmu silat Shaolin yang terkenal. Di biara ini, <em>Hui Ke</em> (kelak menjadi guru besar aliran Chan yang ke-2) berguru pada Da Mo Zu Shi. Karena tertarik akan ketulusan hatinya, Da Mo Zu Shi<em> </em>menyerahkan 4 gulung Sutra <em>Leng Jia</em> kepada Hui Ke, dan berkata bahwa sutra tersebut paling sesuai untuk orang Tiongkok.</p>
<p><em>Da Mo Zu Shi</em> menjadi legenda seiring dengan berkembangnya aliran Chan. Sebuah kisah yang amat populer adalah percakapan antara Da Mo Zu Shi<em> </em>dengan Kaisar <em>Liang Wu Di</em> di <em>Jin Ling </em>(sekarang <em>Nan Jing</em>). Liang Wu Di adalah seorang Kaisar pemeluk agama Buddha yang banyak berbuat amal kebajikan; mendirikan banyak kuil, penulisan kitab suci, membuat banyak Buddha Rupang &amp; pentahbisan bikkhu. Dengan bangga Sang Kaisar bertanya kepada Da Mo Zu Shi : “Aku telah banyak beramal, berapa banyakkah kebajikanku ?” Da Mo Zu Shi menjawab dengan singkat “Tidak ada kebajikan!” Liang Wu Di terkejut dan bertanya: “Mengapa tidak ada kebajikan?” Da Mo Zu Shi menjawab dengan tenang:  “Yang Anda kerjakan adalah perbuatan yang bermanfaat, namun itu bukan kebajikan yang sejati.” Liang Wu Di tidak dapat memahami makna dari jawaban Da Mo Zu Shi.</p>
<p>Da Mo Zu Shi lalu meninggalkan negeri Liang &amp; menyeberangi sungai Yang Zi dan masuk ke negeri Wei. Kisah Da Mo Zu Shi menyeberangi sungai Yang Zi ini menjadi sebuah legenda tersendiri. Dikatakan bahwa Da Mo Zu Shi menyeberangi sungai besar tersebut dengan hanya menggunakan sebatang rumput gelagah. Pada zaman setelah itu muncul banyak lukisan yang menggambarkan adegan tersebut.</p>
<p>Buddhis Mahayana yang dibawa Da Mo Zu Shi dari India ke Tiongkok kemudian mendapat pengaruh dari agama asli Tiongkok yaitu <strong>Tao</strong> dan <strong>Khong Hu Cu</strong>. Inilah yang kemudian disebut sebagai <strong>Zen Buddhisme</strong>, merupakan salah satu sekte penting dalam agama Buddha Mahayana. Mulanya Buddhisme Zen (Dhyana/Meditasi) ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Dao {<em>Tao</em>} dan Kong Fu Zi {<em>Khong Hu Cu</em>}. Namun pada perkembangannya, Buddhisme Zen ini mempengaruhi kembali Neo Confucianisme yang terbentuk pada masa Dinasti Song (960-1279 M).</p>
<p>Tat Mo Co Su termasuk salah satu dari <strong><em>Shi Ba Lo Han {Cap Pwe Lo Han} = </em></strong>18 Lo Han, yang arcanya terdapat di ruang utama kelenteng Kim Tek Ie.</p>
<p>Hari lahir Tat Mo Co Su<em> </em>diperingati setiap <em>Cap Gwe Ce Go </em>(tanggal 5 bulan 10 Imlek).</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_533" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/11/TatMoCoSu-05.jpg"><img class="size-medium wp-image-533" title="Tat Mo Co Su – Patriach Bodhi Dharma" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/11/TatMoCoSu-05-300x224.jpg" alt="Tat Mo Co Su – Patriach Bodhi Dharma" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Tat Mo Co Su – Patriach Bodhi Dharma</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/tat-mo-co-su-patriach-bodhi-dharma-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemukjizatan Kwan Im</title>
		<link>http://jindeyuan.org/kemukjizatan-kwan-im-5/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/kemukjizatan-kwan-im-5/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 16:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[bodhisattva]]></category>
		<category><![CDATA[Kwan Im]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[
Kemukjizatan Kwan Im
Di antara para 神明 Sen Ming {Hok Kian: Sin Beng} / Dewata yang dipuja di kelenteng, 觀音佛祖 Kwan Im Hut Co oleh para penganutnya dianggap paling sering menampakkan kemukjizatan. Seorang yang dengan penuh ketulusan membaca mantera : 南無大悲觀世音菩薩 Nan Wu Da Bei Guan Shi Yin Pu Sa {Na Mo Ta Pei Kwan Se [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>Kemukjizatan Kwan Im</strong></p>
<p>Di antara para 神明 <strong><em>Sen Ming</em></strong> {Hok Kian: <strong><em>Sin Beng</em></strong>} / Dewata yang dipuja di kelenteng, 觀音佛祖 <strong><em>Kwan Im Hut Co</em></strong> oleh para penganutnya dianggap paling sering menampakkan kemukjizatan. Seorang yang dengan penuh ketulusan membaca mantera : 南無大悲觀世音菩薩 <strong><em>Nan Wu Da Bei Guan Shi Yin Pu Sa</em></strong><strong><em> </em></strong>{<strong><em>Na Mo Ta Pei Kwan Se Im Pho Sat}</em></strong><em>,</em> cepat atau lambat akan mendapat pertolongan dari Kwan Im, tergantung dari <strong>KETULUSAN</strong> dan <strong>KARMA</strong> orang tersebut pada saat mengucapkan.</p>
<p>Kemukjizatan Kwan Im Hut Co banyak disaksikan &amp; diceritakan oleh para penganutnya. Kemukjizatan Kwan Im Hut Co yang ditulis di sini adalah yang tercatat dalam kitab suci maupun pengalaman atau kesaksian seseorang :</p>
<ol>
<li>Yang termuat dalam Kitab 法圓竹林 <strong><em>Fa Yuan Zhu Lin</em></strong>, a.l. menceritakan tentang <em>Sun Jing De</em> {<em>Sun Keng Tek</em>}. Sun Jing De adalah seorang pegawai negri bagian      sosial di kota      <em>Ding Zhou</em>, negeri Wei. Sun Jing      De telah membuat sebuah arca Dewi Kwan Im dan sangat tekun bersembahyang      kepada Sang Dewi. Suatu ketika ia dilibatkan dalam suatu peristiwa      perampokan oleh salah seorang pelakunya. Tanpa pemeriksaan &amp;      penelitian lagi Sun Jing De lalu dijatuhi hukuman mati. Malam menjelang      pelaksanaan hukuman mati, ia bermimpi bertemu seorang pendeta yang mengajarinya      untuk membaca doa yang kemudian terkenal dengan nama高王觀世音經 <strong><em>Gao      Wang Guan Shi Yin Jing</em></strong><em> </em>{<strong><em>Ko      Ong Kwan Si Im Keng</em></strong>} sebanyak 1.000 kali agar dapat lolos dari      kematian. Paginya, pada saat digiring ke tempat pelaksanaan hukuman mati,      Sun Jing De masih terus membaca doa itu dengan PENUH KETULUSAN. Tepat pada      saat pelaksanaan hukuman mati akan dilaksanakan, Sun Jing De berhasil      mencapai jumlah doa ke-1.000. Pada saat golok algojo menebas batang      lehernya, terjadilah kemukjizatan: golok tersebut patah menjadi 2 bagian !      Sampai 3X algojo mengganti goloknya, tetap saja Sun Jing De tidak terluka      sedikitpun !!! Semua orang yang hadir di situ terkejut luar biasa. Ketika      diteliti pada leher, arca Kwan Im buatan Sun Jing De, ternyata terdapat 3      garis seperti bekas goresan benda tajam. Menerima laporan ini, Perdana      Menteri Gao Huan lalu memerintahkan agar Sun Jing De dibebaskan dari semua      perkara, dan menganjurkan agar doa penolong dari Kwan Im ini ditulis &amp;      disebarluaskan. Sejak saat itu <em>Ko      Ong Kwan Si Im Keng</em> terkenal sampai sekarang.</li>
<li>Sun Dao De, seorang yang      gemar berdoa &amp; hidup di zaman dinasti Jin. Pada usia 50 tahun belum      dikaruniai seorang anak. Seorang Bikkhu yang tinggal dalam kelenteng dekat      rumahnya menganjurkan agar membaca <strong><em>Guan Yin Jing</em></strong><em> </em>{<em>Kwan Im Keng</em>}.  Sejak      itu, tak lama kemudian istrinya hamil &amp; kemudian melahirkan seorang      anak laki-laki.</li>
<li>Pada Maret 1923 seorang      perwira Angkatan Darat <em>Zhang Jiang      Jun</em>, berangkat bersama keluarganya dari <em>Shang Hai</em> ke <em>Nan Jing</em> dengan pesawat terbang. Setelah mengudara beberapa saat, tiba-tiba pesawat      itu mengalami gangguan mesin &amp; tidak dapat dikuasai. Zhang Jiang Jun      yang biasanya sering membaca Doa Penolong Kwan Im, lalu mengajak semua      orang yang ada di pesawat untuk berdoa bersama. Baru saja berdoa, dari      jendela pesawat tampak Dewi Kwan Im muncul dengan tersenyum di antara      awan. Pesawat yang hampir jatuh ke bumi itu mendadak dapat naik kembali      dengan mesin hidup kembali. Sekretaris Zhang Jiang Jun sempat memotret      wajah Kwan Im yang muncul di antara awan itu.</li>
<li>Pada tahun 1973 seorang      perwira Angkatan Udara Amerika (USAF) yang sedang mengadakan penerbangan      patroli di atas Selat Taiwan,      melihat sekumpulan awan hitam yang berbentuk aneh. Iapun lalu memotretnya.      Setelah dicuci, tampaklah foto Kwan Im sedang berdiri di atas seekor naga      yang sedang terbang. Peristiwa ini amat menggemparkan &amp; sempat dimuat      oleh beberapa surat      kabar terkemuka.</li>
<li>Pada Juni 1977 pratima Kwan      Im besar di Port Stanley, Hongkong telah      bergerak secara ajaib. Peristiwa didahului dengan memancarnya sinar dari      batu permata yang ditempelkan pada dahi pratima tersebut, dan disaksikan      oleh banyak umat yang pada waktu itu sedang hikmad berdoa. Berita ini      sempat dikutip oleh Pikiran Rakyat, Bandung      terbitan 7 Juni 1977, dari salah satu Harian di Hongkong.</li>
<li>Guan Ming, seorang penulis      dari Malaysia,      menceritakan pengalamannya yang dimuat dalam buku “Popular Deities of      Chinese Buddhisme” terbitan tahun 1985. Pada awal tahun 1979 Guan Ming      mengalami suatu peristiwa spiritual luar biasa yang telah mengubahnya      menjadi umat Budhis yang taat. Berminggu-minggu ia berdoa kepada Tuhan untuk      kesembuhan adik lelakinya yang mengidap kanker ganas. Doa itu didengar      oleh Yang Maha Kuasa dan tanpa terduga Kwan Im Hut Co muncul di      hadapannya. Kwan Im tak hanya akan menyembuhkan adiknya, tetapi juga      mengatakan bahwa ia akan dikaruniai seorang putra pada tahun berikutnya.      Adiknya yang divonis dokter hanya dapat bertahan hidup beberapa minggu      lagi, ternyata sembuh total !!! Dan pada tahun 1980 ia dikaruniai seorang      putra, tepat seperti yang telah diucapkan oleh Kwan Im. Sejak itu Guan      Ming mendirikan perkumpulan doa Kwan Im yang berpusat di Malaysia, utnuk menyebarkan      Agama Buddha dan memuja Kwan Im.</li>
</ol>
<p>Membicarakan kemukjizatan Kwan Im mungkin memerlukan buku setebal Encyclopedia Britanica, karena tiap penganut memiliki cerita tersendiri tentang pengalamannya. Untuk mempercayai hal-hal demikian bagi orang awam memang tidak mudah. Tapi apabila kita berkeyakinan bahwa semua agama adalah berasal dari <strong>1 SUMBER</strong>, yaitu <strong>Tuhan Yang Maha Esa</strong>, dan diturunkan melalui Nabi yang berbeda, di tempat yang berbeda adat istiadatnya, dan pada zaman yang berbeda pula {<strong>Orang, Tempat &amp; Waktu</strong>}, kita tak usah heran dengan kemukjizatan seperti itu. Sebab hal itupun terjadi pula pada penganut agama lain, dengan catatan mereka telah mengamalkan ajarannya secara BENAR &amp; TULUS.</p>
<p>Sebab beragama itu sebenarnya adalah pengalaman pribadi dan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain yang tentunya punya pengalaman yang berbeda dengan kita. Jadi yang benar adalah kita mengamalkan ajaran agama masing-masing yang sesuai dengan diri kita, tanpa harus menjelekkan agama orang lain &amp; menganggap agama sendiri adalah yang paling benar. Dengan demikian kita akan dapat hidup damai, tenggang rasa &amp; saling menghargai dengan agama lain.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jakarta Jindeyuan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_528" class="wp-caption aligncenter" style="width: 345px"><strong><strong><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/10/KwanIm_04.jpg"><img class="size-full wp-image-528" title="Kemukjizatan Kwan Im" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/10/KwanIm_04.jpg" alt="Kemukjizatan Kwan Im" width="335" height="480" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Kemukjizatan Kwan Im</p></div>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/kemukjizatan-kwan-im-5/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Er Lang Shen &#8211; Dewa Pelindung Kota Sungai</title>
		<link>http://jindeyuan.org/er-lang-shen-dewa-pelindung-kota-sungai-3/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/er-lang-shen-dewa-pelindung-kota-sungai-3/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 03:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa Mata Kembar]]></category>
		<category><![CDATA[Monkey Go West]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Er Lang Shen &#8211; Dewa Pelindung Kota Sungai
二朗神 Er Lang Shen {Hok Kian = Ji Lang Sin} adalah Dewa Pelindung Kota Sungai. Beliau adalah putra 李彬 Li Bing, seorang Gubernur dari propinsi 四川Xi Chuan, yang hidup pada zaman dinasti Qin {221 – 206 SM}.
Pada masa itu Sungai Min (閩江 Min Jiang, salah satu cabang Sungai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Er Lang Shen &#8211; Dewa Pelindung Kota Sungai</span></strong></p>
<p>二朗神<strong> <em>Er Lang Shen</em></strong> {Hok Kian = <strong><em>Ji Lang Sin</em></strong>} adalah Dewa Pelindung Kota Sungai. Beliau adalah putra 李彬 <strong><em>Li Bing</em></strong>, seorang Gubernur dari propinsi 四川<strong><em>Xi Chuan</em></strong>, yang hidup pada zaman dinasti Qin {221 – 206 SM}.</p>
<p>Pada masa itu Sungai Min (閩江 <strong><em>Min Jiang</em></strong>, salah satu cabang Sungai 陽子江 <strong><em>Yang Zi Jiang</em></strong> yang bermata air di wilayah Xi Chuan), seringkali mengakibatkan banjir di wilayah <em>Guan Kou</em> (dekat Cheng Du). Sebagai gubernur yang peka akan penderitaan rakyat, Li Bing mengajak putranya Li Er Lang, meninjau daerah bencana dan memikirkan penanggulangannya.</p>
<p>Rakyat Guan Kou {Kwan Khou} yang sudah putus asa menghadapi bencana banjir yang tiap kali menghancurkan rumah dan sawah ladangnya, tampak pasrah dan mengandalkan para dukun untuk menghindarkan bencana. Para dukun menggunakan kesempatan ini untuk memeras dan menakut-nakuti rakyat. Dikatakan bahwa bencana banjir itu diakibatkan karena Raja Naga ingin mencari istri. Penduduk diharuskan tiap tahun mengirimkan seorang gadis untuk dijadikan pengantin Raja Naga di Sungai Min itu. Maka tiap tahun diadakan upacara penceburan gadis di sungai yang dipimpin oleh dukun dan diiringi oleh ratap tangis orang tua sang gadis.</p>
<p>Li Bing bertekad mengakhiri semua ini, dan berusaha menyadarkan rakyat bahwa bencana dapat dihindarkan asal mereka mau bergotong-royong memperbaiki aliran sungai. Usaha ini tentu saja ditentang para dukun yang melihat bahwa mereka akan rugi apabila rakyat tidak percaya lagi kepada mereka.</p>
<p>Untuk menghadapi mereka, Li Bing mengatakan bahwa putrinya bersedia menjadi pengantin Raja Naga untuk tahun itu. Ia minta sang dukun memimpin upacara. Sebelumnya, Li Bing memerintahkan Er Lang untuk menangkap seekor ular air yang besar, dimasukkan ke dalam karung dan disembunyikan di dasar sungai.</p>
<p>Pada saat diadakan upacara <em>mengantar pengantin</em> di tepi sungai, Li Bing mengatakan kepada dukun kepala bahwa ia ingin sang Raja Naga menampakkan diri agar rakyat bisa melihat wajahnya. Sang dukun marah dan mengeluarkan ancaman. Tapi Li Bing yang bertekad mengakhiri praktek yang kejam ini, berkeras agar sang dukun menampilkan wujud Raja Naga. Karena keadaan yang telah memungkinkan untuk bertindak, Li Bing memerintahkan putranya Li Er Lang agar terjun ke sungai dan memaksa sang Raja Naga ke luar. Setelah menyelam sejenak Er Lang muncul kembali sambil menyeret bangkai ular air itu ke tepi. Penduduk menjadi gempar. Li Bing mengatakan bahwa sang Raja Naga yang jahat sudah dibunuh. Rakyat tak perlu khawatir akan gangguan lagi dan tak usah mengorbankan anak gadisnya setiap tahun.</p>
<p>Setelah itu Li Bing mengajak rakyat untuk mengendalikan Sungai Min. Usaha ini akhirnya berhasil dan rakyat daerah itu terbebas dari bencana banjir. Untuk memperingati jasa-jasa Li Bing dan Er Lang, di tempat itu kemudian didirikan kelenteng peringatan.</p>
<p>Er Lang Shen banyak dipuja di propinsi Xi Chuan. Beberapa kelenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Guan Xian dengan nama <strong><em>Guan Kou Miao</em></strong> {<strong><em>Kwan Khou Bio</em></strong>}; di Cheng Du, Bao Ning, Ya An dan beberapa tempat lain dengan nama<strong>二郎廟</strong><strong> </strong><strong>Er Lang Miao (<em>Ji Lang Bio = </em>Kelenteng Er Lang).</strong> Selain Xi Chuan, propinsi Hu Nan juga memiliki beberapa Er Lang Miao yang cukup kuno.</p>
<p>Ji Lang Sin ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai pakaian keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor <strong>Anjing Langit (</strong><strong>天狗</strong><strong> </strong><strong>Thien Kou), </strong>kadang-kadang ditambah dengan seekor elang. Beliau dianggap sebagai Dewa Pelindung Kota-kota di tepi sungai. Namun sering juga ditampilkan bersama 太上老君 <strong><em>Tai Shang Lao Jun</em></strong> sebagai pengawal.</p>
<p>Ji Lang Sin Se Jit (Hari Ulang Tahun Er Lang Shen) diperingati setiap tanggal 28 bulan 8 penanggalan Imlek.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_523" class="wp-caption aligncenter" style="width: 369px"><a href="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/09/ErLangShen-04.jpg"><img class="size-full wp-image-523" title="Er Lang Shen - Dewa Pelindung Kota Sungai" src="http://jindeyuan.org/wp-content/uploads/2011/09/ErLangShen-04.jpg" alt="Er Lang Shen - Dewa Pelindung Kota Sungai" width="359" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Er Lang Shen - Dewa Pelindung Kota Sungai</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/er-lang-shen-dewa-pelindung-kota-sungai-3/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Thai Yin Niang &#8211; Dewi Bulan</title>
		<link>http://jindeyuan.org/thai-yin-niang-dewi-bulan-2/index.htm</link>
		<comments>http://jindeyuan.org/thai-yin-niang-dewi-bulan-2/index.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 16:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dewata]]></category>
		<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[dewi bulan]]></category>
		<category><![CDATA[tai yin niang]]></category>
		<category><![CDATA[tiong ciu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jindeyuan.org/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Thai Yin Niang – Dewi Bulan
Hari Raya Zhong Qiu {Hok Kian = Tiong Ciu} yang diperingati setiap tahun pada bulan 8 tanggal 15 Imlek {Peh Gwe Cap Go}, dianggap sebagai hari lahirnya Dewi Bulan. Umumnya rakyat bersembahyang dengan menyediakan sebuah meja kecil di halaman rumah pada saat bulan purnama, dengan menyajikan buah-buahan, bunga segar &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Thai Yin Niang – Dewi Bulan</strong></p>
<p>Hari Raya Zhong Qiu {Hok Kian = Tiong Ciu} yang diperingati setiap tahun pada bulan 8 tanggal 15 Imlek {Peh Gwe Cap Go}, dianggap sebagai hari lahirnya Dewi Bulan. Umumnya rakyat bersembahyang dengan menyediakan sebuah meja kecil di halaman rumah pada saat bulan purnama, dengan menyajikan buah-buahan, bunga segar &amp; tak lupa kue bulan.</p>
<p>Pemujaan terhadap matahari &amp; bulan telah ada sejak zaman purba, &amp; tidak hanya dilakukan oleh bangsa Tiongkok saja. Pemujaan ini termasuk pemujaan kenegaraan di mana para pegawai kerajaan bersujud &amp; menyediakan sesaji ke hadapan Dewa Matahari. Sedangkan pemujaan terhadap Dewi Bulan diadakan bertepatan dengan pesta panen saat bulan purnamanya, yaitu bulan 8 tanggal 15 Imlek. Pada saat ini biasanya orang-orang bersama keluarganya menyalakan Hio &amp; bersujud kepada Dewi Bulan di halaman rumah mereka.</p>
<p>日神 <strong><em>Ri Shen</em></strong> {<strong><em>Jit Sin</em></strong>}, Dewa Matahari dikenal juga dengan nama 太陽帝君 <strong><em>Tai Yang Di Jun</em></strong> (disingkat 太陽公 <strong><em>Tai Yang Gong</em></strong>). 月神 <strong><em>Yue Shen</em></strong> {<strong><em>Gwat Sin</em></strong>} <strong>Dewi Bulan</strong> sering disebut juga 太陰皇金 <strong><em>Tai Yin Huang Jin</em></strong> (太陰娘 <strong><em>Tai Yin Niang</em></strong>) atau 月府嫦娥 <strong><em>Yue Fu Chang E</em></strong> (<strong>Chang E dari Istana Bulan</strong>).</p>
<p>Tai Yang Di Jun yang terkenal dengan nama <em>Hou Yi</em> adalah seorang pemanah ulung. Dikisahkan pada masa itu adalah tahun XII pemerintahan Kaisar Yao (2346 SM). Bencana besar sedang menimpa negerinya, kekeringan menghancurkan seluruh lahan pertanian sehingga kelaparan terjadi di mana-mana. Malapetaka itu disebabkan karena ada 10 matahari yang muncul bersama-sama di angkasa. Konon ke-10 matahari tersebut adalah putra-putri <em>Dong Hua Di Zun</em> {<em>Tong Hua Tek Kun</em>}, yaitu Dewa Penguasa Langit Timur.</p>
<p>Karena tidak dapat mentolelir lagi ulah putra-putrinya, &amp; juga karena doa-doa permohonan yang terus menerus dilakukan oleh Kaisar Yao, Dong Hua Di Jun merasa perlu bertindak untuk menghentikan perbuatan mereka. Ia lalu memanggil Hou Yi, seorang malaikat sakti, untuk turun ke dunia. Tapi ia berpesan supaya putra-putranya itu diberi pelajaran saja, jangan sampai dibunuh. Hou Yi lalu turun ke dunia bersama istrinya, <em>Chang E</em> {Siang Go}, seorang dewi yang cantik jelita.</p>
<p>Hou Yi lalu menemui Kaisar Yao. Melihat keadaan dunia yang kacau pada waktu itu, Hou Yi sangat marah. Tanpa menghiraukan pesan Dong Hua Di Jun, dipanahnya matahari itu satu per satu, &amp; akhirnya hanya tinggal satu saja. Melihat Hou Yi tidak menuruti perintahnya, Dong Hua Di Jun merasa kesal. Sejak itu Hou Yi tidak bisa kembali ke langit lagi. Walaupun demikian Hou Yi masih terus melanjutkan usahanya menyelamatkan rakyat dari malapetaka dengan membasmi berbagai macam binatang buas &amp; aneh yang mengganggu rakyat. Karena kegagahan &amp; keberaniannya ini, menjadikan Hou Yi dipuja sebagai pahlawan.</p>
<p>Chang E karena perbuatan Hou Yi ini, tidak dapat kembali ke langit untuk menjadi Dewi. Ia menjadi amat kesal. Sejak itu hubungannya dengan Hou Yi menjadi dingin &amp; renggang.</p>
<p>Pada suatu hari Hou Yi pergi ke Gunung <em>Kun Lun Shan</em> menemui <em>Xi Wang Mu</em> (Dewi Penguasa Langit Barat) untuk meminta obat hidup abadi. Xi Wang Mu mengabulkan permintaannya. Hou Yi amat gembira, sebab dengan obat tersebut ia berkesempatan untuk menjadi dewa lagi.</p>
<p>Pada suatu hari sewaktu Hou Yi tidak ada di rumah, Chang E melihat seberkas sinar putih yang menyorot turun dari sebuah tiang penyangga atap, bersamaan dengan itu bau harum semerbak memenuhi ruangan. Dengan tangga, dicarinya sumber cahaya &amp; bau harum tersebut. Chang E menemukan obat hidup abadi yang disimpan Hou Yi. Tanpa pikir panjang ditelannya obat itu. Lalu ia merasa badannya menjadi ringan dan dapat melayang di angkasa. Malam itu bulan bersinar amat terang. Chang E terus terbang melayang kearah bulan tersebut, dan tinggal di sana.</p>
<p>Istana rembulan di luar dugaan Chang E, ternyata sangat sunyi. Di sana hanya ada seekor kelinci yang tak pernah berhenti menumbuk obat di lumpang &amp; sebatang pohon kayu manis. Chang E amat kesepian, tapi ia tak bisa turun ke dunia &amp; bertemu suaminya lagi. Ia merasa menyesal &amp; mulai mengenang kebaikan suaminya. Chang E tinggal selamanya di bulan &amp; menjadi lambang Yin (unsur negatif / wanita).</p>
<p>Hou Yi ketika menyadari bahwa obat kekal abadinya telah dicuri istrinya, lalu mengejar ke angkasa. Tapi angin topan membawanya terhampar di atas sebuah gunung. Di puncak gunung itu terdapat sebuah istana yang dihuni <em>Dong Wang Gong</em> (Dong Hua Di Jun). “Tak usah kau resah. Sekarang istrimu telah menjadi dewi di bulan. &amp; kamu sendiri karena kegagahan &amp; keberanianmu pantas untuk menjadi dewa. Untukmu telah disiapkan sebuah istana di matahari untuk menjadi tempat tinggalmu. Sejak sekarang <em>Yang</em> &amp; <em>Yin</em> akan bersatu selamanya”, kata Dong Wang Gong. Lalu ia memberi sebuah kue &amp; sebuah jimat yang bisa menyebabkan Hou Yi tahan terhadap dinginnya bulan bila datang mengunjungi Chang E.</p>
<p>Di bulan, ia melihat Chang E sedang termenung kesepian. Hou Yi mengatakan bahwa ia tidak akan mempersoalkan masalah pencurian obat, karena keduanya sekarang sudah menjadi dewa. Di bulan, Hou Yi mendirikan sebuah Istana <em>Guang Han Gong</em> (Istana Kesejukan Abadi) untuk tempat tinggal Chang E.</p>
<p>Sejak itulah Dewa Matahari &amp; Dewi Bulan mempunyai wilayah masing-masing.</p>
<p>Kaisar Yao kemudian mengangkat Hou Yi menjadi <em>Zhong Bu Shen</em>, yaitu Malaikat yang bertugas menghindarkan penduduk dari bencana alam &amp; musibah lain. Lama-kelamaan Zhong Bu Shen dianggap pelindung rumah tangga &amp; mampu menguasai roh-roh jahat &amp; menolak bala. Gambarnya dipasang di rumah-rumah penduduk. Jadi Hou Yi dianggap sebagai Tai Yang Gong (Dewa Matahari), juga disebut sebagai Zhong Bu Shen. Sedangkan <strong>Chang E</strong> disebut sebagai <strong>Tai Yin Niang</strong> (Dewi Bulan).</p>
<p>Hari ulang tahun Tai Yang Gong diperingati setiap tanggal 19 bulan 3 Imlek. Sinar matahari dianggap sebagai lambang Ming (terang) &amp; panasnya dianggap sebagai lambang Zhu (merah). Dengan memuja Tai Yang Gong berarti rakyat tetap mengenang Dinasti Ming dengan Kaisarnya dari keluarga Zhu.</p>
<p>Pemujaan terhadap bulan &amp; matahari ini hanyalah sebagai penghormatan terhadap keduanya, jarang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Umumnya orang-orang menghadap ke arah matahari &amp; bulan pada saat bersembahyang, jarang ada kelenteng yang didirikan untuk mereka.</p>
<p>Di Tainan (Taiwan Selatan) hanya ada sebuah kelenteng yang terdapat arca Dewa Matahari &amp; Dewi Rembulan, yaitu di Kelenteng San Guan Tang. Di Singapura, di Kelenteng Giok Hong Tian terdapat arca Tai Yang Gong &amp; Tai Yin Niang yang diletakkan di sisi kanan &amp; kiri altar utama Yu Huang Da Di. Di kelenteng Guan Yin Tang, Jl. Telok Blangah Drive, Singapura, juga terdapat arca Tai Yang Gong &amp; Tai Yin Niang.</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;oooOOOooo&#8212;</p>
<p style="text-align: center;">O</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Buddhist Temple Jindeyuan Jakarta</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img title="Thai Yin Niang – Dewi Bulan" src="http://jindeyuan.org/images/change.jpg" alt="Thai Yin Niang – Dewi Bulan" width="200" height="249" /><p class="wp-caption-text">Thai Yin Niang – Dewi Bulan</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jindeyuan.org/thai-yin-niang-dewi-bulan-2/index.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

