Artifak
| Keleteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Luitnant Tionghoa bernama Kwee Hoen dan menamakannya Koan Im Teng (Paviliun Koan Im).
Dalam perkembangannya hampir seabad kemudian kelenteng ini ikut dirusak dan dibakar dalam peristiwa pembantaian etnis Tionghoa terbesar dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 - 12 Oktober 1740 ini mengakibatkan terbunuhnya sekitar 10.000 jiwa yang tak berdosa, yang kemudian terkenal dengan sebutan Tragedi Pembantaian Angke. Kelenteng dipugar kembali pada tahun 1755 oleh Kapitein Oei Tjhie dan diberi nama Kim Tek Ie. Dengan sejarah tidak kurang dari 350 tahun, dapat dipastikan gedung ini beserta artifak-nya merupakan salah satu peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya. |
gambar dari buku “Tempat-Tempat |
| Kata Kim Tek Ie yang berarti “Kelenteng Kebajikan Emas” mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme tetapi lebih mementingkan kebajikan antar manusia. Dengan luas tanahnya sebesar 3000 m2 Kim Tek Ie termasuk biara besar (Tay Bio).
Pada saat ini, Kelenteng Kim Tek Ie bukan saja terpelihara dengan baik sebagai tempat yang suci bagi pengikut Budhis Mahayana, bahkan Tay Bio ini terus dipugar agar dapat terus menyamai kemegahannya seperti saat ia didirikan beberapa abad silam, seperti yang terlihat pada foto ke-2 kanan atas: Disamping gedung keleteng yang sudah berumur 247 tahun, Kim Tek Ie juga memiliki sejumlah artifak yang kurang lebih seumur dengan bangunannya. Diantaranya adalah seperti yang terlihat dibawah ini: |
|
|
Salah satu dari 3 Arca Tri Buddha (Sam Cun Tay Hud), abad ke-18. |
|
![]() Arca Dewa Wi To Pho Sat |
|
Sepasang singa (Bao-gu shi) penunggu kelenteng dari abad ke-18 berasal dari propinsi Kwangtung, Tiongkok Selatan. |
Sebuah tempat untuk membakar uang emas kelenteng yang disebut Jin-lu, abad ke-19 (1821) Kwantung, Tiongkok Selatan. |
Jin-lu baru ini juga sudah berumur. |
Tambur tua. |
Lonceng tertua di Jakarta, abad 19 (1825). |
Lonceng tua, abad 19 (1890) berasal dari Fu Shou, Tiongkok. |
![]() |
![]() |
| Lonceng tua lainnya. | |
![]() |
|
| Alat2 sembahyang yang digunakan oleh para Bhiksu dulu, | |
Tahun 1754 |
Tahun 1892 |
| dan dua dari sekian banyak kaligrafi indah yang ditulis oleh para Bhiksu tersebut. | |






