Archive for July, 2009

Cap Pwe Lo Han – 18 Arahat

Thursday, July 30th, 2009

Cap Pwe Lo Han – 18 Arahat

Kalau anda berkesempatan berkunjung atau sembahyang ke Buddhist Temple Jindeyuan – Jakarta / Kelenteng Kim Tek Ie, maka akan terlihat Rupang 十八羅漢 Shi Ba Luo Han {Hok Kian: Cap Pwe Lo Han} yang berhadapan di kedua sisi kiri & kanan (atau berada di sisi Timur & Barat) ruang altar utama  dengan berbagai gaya yang lincah & hidup, dan dengan bentuk ekspresi yang banyak. Sungguh mengundang orang untuk berpikir, & tak terhindarkan membuat orang melihat lagi beberapa kali.

羅漢 Luo Han {Lo Han} dalam agama Buddha menunjuk kepada orang yang telah terbebas dari tumimbal lahir, seorang pembina diri yang telah berhasil mencapai kesucian, setingkat di bawah Bodhisatva. Lo Han berarti Arahat, siswa Sang Buddha yang telah memusnahkan segala nafsu. Apabila Buddha Maitreya dilahirkan ke dunia, maka para Arahat tersebut akan mengumpulkan semua relik Sang Buddha Sakyamuni & membangun sebuah pagoda di atas relik tersebut. Lo Han disebut juga 尊者 Zun Zhe {Cun Cia} yang berarti “Yang Suci” atau “Yang Patut Dihormati”.

Cap Pwe Lo Han (18 Arahat) yang dikenal di kalangan rakyat, adalah berasal dari 十六羅漢 Shi Liu Luo Han {Cap Lak Lo Han} 16 Arahat. Belakangan lebih berkembang lagi menjadi 五百羅漢 Wu Bai Luo Han {Go Pe Lo Han} 500 Arahat.

16 Arahat adalah murid Sang Buddha Sakyamuni, mereka adalah persaudaraan Bhikkhu Sangha yang menjaga Dharma Sang Buddha. Oleh karena itu mereka disebut juga sebagai Lo Han Seng Ceng (Yang Arya Bikkhu Sempurna). Para Lo Han ini telah mendapatkan pesan & bimbingan dari Sang Buddha, tidak memasuki Nirwana, sering berada di dunia, menerima penghormatan dari orang-orang di dunia, & memberikan berkah kepada umat manusia.

Menurut kepercayaan, para Lo Han tersebut diberi kekuasaan di berbagai tempat di dunia ini. Di tiap tempat Lo Han yang berkuasa, dibantu oleh sekelompok Lo Han bawahan yang terdiri dari 500 – 1.600 orang. Mereka umumnya berasal dari orang-orang yang pernah berbuat kesalahan, dan kemudian insyaf setelah menghayati ajaran-ajaran Sang Buddha. Kemudian para Lo Han ini menjadi penyebar Dharma yang tangguh.

Menurut sejarah, catatan tentang para Lo Han diperkenalkan di Tiongkok bersamaan dengan menyebarnya agama Buddha di sana. Umumnya catatan-catatan tersebut diterjemahkan & dibawa ke Tiongkok oleh musafir Tiongkok seperti Fa Xian & Xuan Zhang. Fa Xian adalah seorang Bikkhu yang pergi ke India & Ceylon (Sri Lanka) pada tahun 399 M. Sedangkan Xuan Zhang  pergi ke India pada zaman Dinasti Tang pada tahun 629.

Dalam buku Taiwan Wen Xian (Persembahan Sastra dari Taiwan), disebutkan bahwa di antara 18 Lo Han ini, yang tercatat dalam Kitab Suci Buddha hanya 16, sedangkan 2 Lo Han lagi ditambahkan oleh penganut Buddha di Tiongkok sehingga lengkap 18 & disebut Shi Ba Luo Han {Cap Pwe Lo Han} yang berarti 18 Arahat.

Cap Lak Lo Han (16 Arahat) yang berasal dari India adalah sebagai berikut (urutan adalah berdasarkan posisi di altar utama Kim Tek Ie di mana no. 1 s/d 8 ada di depan altar Kwan Kong, sedangkan no. 9 s/d 16 ada di depan altar Ma Co) :

  1. 阿氏多尊者 A Shi Duo Zun Zhe (Sansekerta: Ajita). Ajita dianggap sebagai reinkarnasi dari Mi Le Fo {Bi Lek Hut} Buddha Maitreya. Di Tiongkok, A She Duo Zun Zhe terkenal sebagai Bu Dai Zun Zhe {Po Tay Cun Cia} atau Bu Dai He Shang {Po Tay Hwe Sio} yang berarti Bikkhu dengan kantong dari kain. Ajita digambarkan sebagai seorang Bikkhu yang menggendong kantong besar yang diikatkan di punggungnya. Di dalam kantong itu terdapat banyak perampok & pencuri serta orang jahat lainnya. Menurut legenda ia hidup pada kira-kira abad ke-6 Masehi.
  2. 羅睢羅尊者 Luo Sui Luo Zun Zhe (Sansekerta: Rahula). Rahula adalah putra Pangeran Siddharta Gautama. Luo Hu Luo adalah seorang murid Buddha yang amat rajin & sangat taat akan hukum-hukum Buddhisme, setelah menyadari bahwa hidupnya penuh kesesatan. Orang-orang percaya bahwa ia akhirnya akan kembali ke dunia sebagai putra Sang Buddha. Sekarang ia bertanggung jawab atas suatu daerah yang penuh keharuman tanaman obat, dengan dibantu oleh 1.000 Arahat pembantu. Luo Hu Luo biasanya ditampilkan dengan wajah luar biasa, kepala berbentuk kubah & alis mata yang tebal. Secara umum ia disebut sebagai Xi She Zun Zhe {Hok Kian: Hi Say Cun Cia}. Disebut demikian karena ia sering digambarkan dengan membawa seekor singa kecil di tangannya.
  3. 伐那婆斯尊者 Fa Na Bo Si Zun Zhe (Sansekerta: Vanavasa). Vanavasa adalah penguasa pegunungan Gan Zhou & membawahi 1.400 Lo Han sebagai pembantu-pembantunya. Ia sering dilukiskan sebagai seorang pertapa yang sedang bersemedi dengan mata tertutup. Ia juga disebut sebagai  Long Po Zun Zhe {Lang Pwat Cun Cia} yang berarti orang suci yang memainkan kecer. Disebut demikian karena beliau sering ditampilkan dengan membawa kecer.
  4. 賓頭羅跋羅惰闍尊者 Bin Tou Lo Ba Lo Duo She Zun Zhe (Sansekerta: Pindola Bharadvaja) mempunyai wilayah kekuasaan di wilayah Surga Barat sebelah Barat. Menurut legenda, pada waktu usia muda, ia adalah seorang yang sangat kejam & amat tidak patuh pada orangtuanya. Ia kemudian dilemparkan ke Neraka & harus memakan karang & batu-bata sebagai santapan sehari-hari. Karena penderitaan ini badan menjadi kurus kering. Tapi kemudian ia menyesali dosa-dosanya & menjadi penganut ajaran Buddha. Ia menjadi salah satu murid Sang Buddha yang terkemuka & punya Lo Han bawahan sebanyak 1.000 orang. Ia mempunyai kesaktian antara lain dapat terbang di udara & terapung di atas air. Seringkali ia ditampilkan dengan membawa buku yang sedang terbuka di atas pahanya & sebatang tongkat pengemis yang tersandar di sampingnya.
  5. 諾距羅尊者 Nuo Ju Luo Zun Zhe (Sansekerta: Nakula) disebut juga sebagai Puchulo. Nakula menguasai wilayah India, mempunyai bawahan sebanyak 800 Arahat yang menjadi pembantu-pembantunya. Ia berhasil melepaskan diri dari kehidupan sesat & memeluk ajaran Buddha pada usia 120 tahun. Seringkali ditampilkan dengan kedua tangan membuka dadanya, dan dalam rongga itu terlihat wajah sang Buddha Sakyamuni. Oleh karena itu beliau secara umum disebut Kai Xin Zun Zhe {Khai Sim Cun Cia} yang berarti “Orang terhormat yang membuka hati”.
  6. 注荼半托迦尊者 Zhu Tu Ban Tuo Jia Zun Zhe (Sansekerta: Pantha, Choto Phanthaka). Pada usia muda ia bebal & sulit mencerna pelajaran. Namun dengan bantuan Buddha Sakyamuni ia menjadi rajin & sangat cerdas. Akhirnya ia mencapai tingkat Arahat & masuk Nirwana. Karena Pantha memiliki kesaktian terbang, ia ditunjuk sebagai penguasa pegunungan Ishidara dengan dibantu oleh 1.600 Arahat bawahan. Ia adalah adik kandung Panthoka, merupakan salah satu murid kesayangan Sang Buddha. Ia digambarkan sebagai seorang tua yang bersandar di batang pohon tua memegang kipas sambil mengajar Dharma. Dalam kalangan Tionghoa ia disebut juga Jin Guo Zun Zhe {Cin Ko Cun Cia} yang berarti “Orang suci yang mempersembahkan buah”.
  7. 迦諾迦跋喱惰闍尊者 Jia Nuo Jia Ba Li Duo She Zun Zhe (Sansekerta: Kanaka Baridvaja) disebut juga Pin Tou Lo Suo She atau Pinkola yang muda. Ia bertugas di wilayah Purva Videha dibantu oleh 600 Arahat bawahan & sering digambarkan berjenggot. Di Tiongkok ia disebut juga Fei Zhang Zun Zhe {Hui Tiang Cun Cia} atau “Lo Han dengan tongkat terbang”.
  8. 戍博迦尊者 Shu Bo Jia Zun Zhe (Sansekerta: Gobaka). Beliau berkedudukan di Pegunungan Gandhamadana, dengan 900 orang Arahat pembantunya. Sering ditampilkan dalam keadaan semedi, dengan tangan memegang kipas. Dalam bahasa Tionghoa ia sering disebut sebagai Jin Xiang Zun Zhe {Cin Hio Cun Cia} yang berarti “Orang terhormat yang mempersembahkan dupa”.
  9. 迦理迦尊者 Jia Li Jia Zun Zhe (Sansekerta: Kalika) dikenal juga sebagai Kala. Ia mempunyai kekuasaan di wilayah Sri Lanka. Dalam legenda ia adalah Raja Kala yang mencapai tingkatan Arahat setelah melalui pengorbanan. Ia mempunyai bawahan yang terdiri dari 1.000 Arahat. Kalika seringkali ditampilkan sedang bermeditasi atau sedang membersihkan telinga. Oleh karena itu ia disebut juga sebagai Xi Er Zun Zhe atau “Orang suci yang membersihkan telinga”.
  10. 伐闍羅弗多羅尊者 Fa She Luo Fu Duo Luo Zun Zhe (Sansekerta: Vajra Putra). Wilayah kekuasaannya adalah di Parnadvipa & dibantu oleh 1.100 Arahat. Secara umum ia disebut juga sebagai Duo Li Zun Zhe {To Li Cun Cia} yang berarti “Orang terhormat yang memberikan keuntungan berlimpah”.
  11. 那迦犀那尊者 Na Jia Xi Na Zun Zhe (Sansekerta: Nagasina) memiliki kekuasaan di Gunung Pandhava, wilayah Inagadha, dengan dibantu oleh 1.200 Arahat.  Lo Han ini terkenal suka humor tapi cerdik. Nagasina adalah seorang penceramah & guru yang ulung dalam ajaran Buddha Dharma. Beliau sering disebut juga sebagai Jin Deng Zun Zhe {Cin Teng Cun Cia} atau “Lo Han yang membawa penerangan”.
  12. 蘇頻陀尊者 Su Pin Tuo Zun Zhe (Sansekerta: Subhinda) biasanya ditampilkan sebagai seorang suci yang terpelajar, dengan mangkok untuk minta sedekah & sebuah kitab suci di tangan kirinya. Jari-jari tangan kanannya membentuk Mudra yang menyatakan bahwa ia akan masuk ke Nirwana dalam waktu singkat. Wilayah kekuasaan Lo Han ini berada di Negeri Kuru dengan dibantu 800 Arahat. Secara umum ia disebut sebagai Dao Wu Zun Zhe {To Ngo Cun Cia} yang berarti “Orang suci yang menginsafi Tao”.
  13. 跋陀羅尊者 Ba Tuo Luo Zun Zhe (Sansekerta: Badra) digambarkan sebagai orang perkasa yang menaklukkan seekor harimau, sebagai lambang kesaktian & kekuatannya dalam menaklukkan kejahatan secara umum. Lo Han ini disebut juga sebagai Fu Hu Zun Zhe {Hok Ho Cun Cia} yang berarti “Orang suci yang menaklukkan harimau”.
  14. 迦諾迦伐蹉尊者 Jia Nuo Jia Fa Cuo Zun Zhe (Sansekerta: Kanaka Vasa) mempunyai kekuasaan di suatu tempat di Kashmir, India & mempunyai bawahan sebanyak 500 Arahat. Setelah menjadi pengikut Buddha, ia rajin belajar & menjadi orang yang amat berpengetahuan. Lo Han ini dilukiskan sebagai orang yang berparas luar biasa & beralis panjang. Secara umum ia disebut juga sebagai Chang Mei Zun Zhe {Tiong Bi Cun Cia} atau “Orang terhormat yang beralis panjang”.
  15. 半托迦尊者 Ban Tuo Jia Zun Zhe (Sansekerta: Pantoka, Pantha) berada di Sorga Troyastrimsat dengan dibantu oleh 1.300 Arahat. Nama Pantoka berarti “Melanjutkan jalan & penyebaran agama Buddha”. Menurut legenda ia dilahirkan pada saat ibunya sedang dalam perjalanan. Ia bertemu Sang Buddha & mengikuti pelajarannya, sampai akhirnya mencapai Nirwana. Lo Han ini memiliki kesaktian antara lain dapat menembus benda-benda padat & pergi tanpa meninggalkan bekas. Secara umum ia disebut juga sebagai Bai Na Zun Zhe {Pek Lap Cun Cia}.
  16. 因揭陀尊者 Yin Jie Tuo Zun Zhe (Sansekerta: Angida) menguasai pegunungan yang disebut Guang Xie, dibantu oleh 1.300 Arahat sebagai bawahannya. Dalam dewa rupang ia sering diwujudkan sebagai seorang pendeta tua yang membawa tongkat kayu & kitab suci. Di Tiongkok Lo Han ini sering disebut juga sebagai Jin Hua Zun Zhe {Cin Hwa Cun Cia} atau “Orang suci yang mempersembahkan bunga”.

Setelah masuk ke Tiongkok, dari ke-16 Arahat ini, Yin He Tuo Zun Zhe digantikan oleh Da Mo Zu Shi {Tat Mo Co Su} atau Patriach Bodhidharma pendiri Buddhisme Zen (aliran Chan). Di Kim Tek Ie, Shu Bo Jia Zun Zhe digantikan oleh 慶友尊者 Qing You Zun Zhe {Khing Yu Cun Cia}.

Cap Lak Lo Han (16 Arahat) yang disebut di atas, setelah ditambahkan 2 Lo Han lagi lengkap menjadi Cap Pwe Lo Han (18 Arahat). Lo Han ke-17 & Lohan ke-18 yang ditambahkan ada berbagai versi. Ada yang Qing You Zun Zhe & Bin Tou Luo, ada yang Jia Da Mu Duo Luo & Bu Dai He Shang. Ada juga Jia Ye Zun Zhe & Mi Le Zun Zhe. Versi lain adalah tambahan 2 Lo Han yaitu: Nandimitra & Pindola muda. Ada juga versi yang memasukkan Ji Gong Huo Fo {Chi Kung Huo Hut} ke dalam salah satu dari Cap Pwe Lo Han.

Di Tiongkok & Taiwan Cap Pwe Lo Han berubah menjadi versi Tionghoa, ada beberapa adalah orang Tiongkok yang dimasukkan ke dalam jajaran Cap Pwe Lo Han, seperti: Kaisar Liang Wu Di [502 – 549 M]; seorang kaisar yang hidup pada zaman Dinasti Liang [502 – 557 M], dan Zhi Kuan; seorang Bikkhu pada zaman Dinasti Tang [618 – 907 M].

Di Kim Tek Ie, 2 Pho Sat (Bodhisatva) ditambahkan ke Cap Lak Lo Han sehingga menjadi 18 & ditempatkan di jajaran Cap Pwe Lo Han, yaitu : 文殊菩薩 Wen Shu Pu Sa {Bun Su Pho Sat} Bodhisatva Manjusri yang berada di depan altar Kwan Kong & 普賢菩薩 Pu Xian Pu Sa {Pho Hian Pho Sat} Bodhisatva Samanta Bhadra yang berada di depan altar Ma Co.

Rupang Cap Pwe Lo Han dengan pelbagai sikapnya yang khas memang banyak dijumpai di kelenteng-kelenteng Buddha di Tiongkok, seperti Ling Yun Si di Hang Zhou & Bi Yun Si di Bei Jing dan lain-lain. Di pulau Jawa, arca Cap Pwe Lo Han selain terdapat di Kim Tek Ie, Jakarta, juga terdapat antara lain di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok Semarang & Kelenteng Eng An Kiong, Malang.

Arca Cap Pwe Lo Han di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang merupakan versi lain, yaitu dengan memasukkan Mu Lian Zun Zhe yang merupakan salah 1 dari 10 murid utama Sang Buddha Sakyamuni ke dalam salah 1 dari 18 Arahat tersebut.

Secara umum dapat dipastikan bahwa Cap Lak Lo Han yang berasal dari India, terdapat di antara rupang-rupang Lo Han versi berbagai daerah, hanya urutan & tambahan 2 Lo Han saja yang berbeda.

Bentuk Cap Pwe Lo Han yang hidup & lincah memberikan inspirasi & menjadi thema yang sangat disukai di kalangan pelukis & pengukir. Keberadaan mereka telah memperkaya kesenian & kebudayaan, juga memberikan kesan khidmat dalam agama Buddha.

Coba perhatikan ekspresi muka & bentuk tubuh mereka, setiap rupang tidak sama. Sungguh-sungguh melambangkan suka & duka, amarah & kebahagiaan yang dialami dalam hidup manusia. Serta menampakkan keakraban & kekuatan yang lengkap, & mendekatkan diri pada bentuk yang mirip dengan sifat & karakter manusia.

O

—oooOOOooo—

O