Archive for March, 2009

Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara

Thursday, March 26th, 2009

Hian Thian Siang Te – Dewa Langit Utara

玄天上帝Xuan Tian Shang Di {Hok Kian = Hian Thian Siang Te} disebut juga 玄天大帝 Xuan Tian Da Di、元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian Da Di、玄武帝 Xuan Wu Di、真武帝 Zhen Wu Di、元武帝 Yuan Wu Di, adalah salah satu Dewa yang paling terkenal dengan wilayah penghormatan yang amat luas, dari Tiongkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia & Indonesia. Sebagian orang menyebutnya sebagai 上帝公Shang Di Gong {Siang Te Kong}. Kedudukannya di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, berada setingkat di bawah Yu Huang Da Di {Giok Hong Tai Te}. Merupakan salah satu dari Si Tian Shang Di (baca: Se Thian Sang Ti = Empat Maha Raja Langit), yang terdiri dari :

  1. 青天上帝 Qing Tian Shang Di di Timur.

  2. 殷天上帝 Yan Tian Shang Di di Selatan.

  3. 白天上帝 Bai Tian Shang Di di Barat.

  4. 玄天上帝 Xuan Tian Shang Di di Utara.

Hian Thian Siang Te mempunyai kekuasaan di Langit bagian Utara & menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di kawasan tersebut. Arcanya selalu digambarkan dengan menginjak kura-kura & ular. Xuan Wu adalah dewa yang berkedudukan di wilayah Utara & dilambangkan sebagai ular & kura-kura. Hian Thian Siang Te yang disebut juga Zhen Wu Da Di {Cin Bu Tay Tee} adalah Xuan Wu. Pada zaman Dinasti Song secara resmi huruf Xuan diganti Zhen, dan sebutan Xuan Wu diganti menjadi Zhen Wu Da Di. Di sebelah kiri & kanan Hian Thian Siang Te biasanya terdapat 2 orang pengawal yaitu Jendral Zhao & Jendral Kang.

Penghormatan kepada Hian Thian Siang Te mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakan Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di Pegunungan Wu Tang Shan {Bu Tong San}, propinsi Hu Bei, dalam sebuah Kelenteng Shang Di Miao. Berkat perlindungan Hian Thian Siang Te, Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol, yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya.

Kemudian berkat bantuan Hian Thian Siang Te pula, Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongolia dan menumbangkan Dinasti Yuan. Zhu Yuan Zhang mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

Untuk mengenang jasa-jasa Hian Thian Siang Te & berterima kasih atas perlindungannya, Zhu Yuan Zhang lalu mendirikan kelenteng penghormatan kepadanya di ibukota Nan Jing (Nan King) & di Gunung Bu Tong San. Sejak itu Bu Tong San menjadi tempat suci bagi penganut Taoisme. Kemudian penghormatan kepada Hian Thian Siang Te meluas ke seluruh negeri, & hampir di setiap kota besar ada kelenteng yang menghormatinya. Kelenteng Hian Thian Siang Te dengan arcanya yang terbuat dari tembaga, bisa dilihat sampai sekarang. Selain itu Hian Thian Siang Te juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong {Siang Te Kong} didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, & menjadi pusat pemujaan bersama rakyat & tentara. Oleh karena itu, kelenteng Shang Di Miao {Siang Te Bio} tersebar di berbagai tempat. Di antaranya yang terbesar adalah di Tai Nan (Taiwan Selatan), yang dibangun pada saat Belanda berkuasa di Taiwan.

Setelah kekuasaan Zheng Cheng Gong jatuh, Dinasti Qing dari Manzhu yang berkuasa, mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebenarnya adalah seorang tukang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan & mengikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng ajaran Buddha tentang seorang tukang jagal yang telah bertobat, lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya & menjadi pengikut Buddha. Kura-kura & ular yang diinjak tersebut dikatakan sebagai usus & jeroan si tukang jagal. Oleh karena itu tingkatannya diturunkan menjadi Malaikat Pelindung Pejagalan.

Sejak itu pembangunan kelenteng-kelenteng Siang Te Bio amat berkurang. Pada masa ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu Shi Miao di Tai Nan.

Namun sebenarnya Kaisar-Kaisar Manzhu sangat menghormati Hian Thian Siang Te, terbukti dengan dibangunnya kelenteng penghormatan khusus untuk Hian Thian Siang Te di komplek Kota Terlarang, Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian. Satu kelenteng lagi dibangun di Istana Persinggahan di Cheng De.

Wu Dang Shan {Bu Tong San}, gunung suci para penganut Taoisme, terletak di propinsi Hu Bei, Tiongkok Tengah. Sejak zaman Dinasti Tang, kelenteng-kelenteng sudah mulai didirikan di sana. Namun pembangunan secara besar-besaran adalah pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le pada zaman Dinasti Ming. Hal ini tidak mengherankan karena Xuan Tian Shang Di diangkat sebagai Dewa Pelindung Kerajaan.

Di antara kelenteng-kelenteng di sana yang terkenal adalah Yu Xu Gong {Giok Hi Kiong} dengan bangunannya bergaya istana Beijing, terletak di bagian Barat Laut puncak utama Bu Tong San. Adalagi kelenteng Yu Zhen Gong yang dibangun pada tahun Yong Le ke-15, terletak di kaki Utara Bu Tong San. Di kelenteng ini terdapat penghormatan & arca Zhang San Feng {Thio Sam Hong}, pendiri perguruan silat cabang Wu Dang {Bu Tong Pay}.

Bangunan kuil yang paling lengkap adalah kelenteng Zi Xiao Gong yang terletak di puncak Timur Laut, merupakan pusat dari keseluruhan rangkaian tempat ibadah di gunung tersebut. Arca perunggu Hian Thian Siang Tee hasil pahatan Guru Ji (pemahat ulung dari Korea yang amat terkenal sampai ke manca negara) ditempatkan di sini. Di kelenteng ini dapat terlihat lambang Gunung Bu Tong San yaitu patung kura-kura & ular. Patung logam itu menggambarkan seekor kura-kura sedang dililit erat-erat oleh seekor ular. Katanya sang ular bermaksud memaksa sang kura-kura memuntahkan semua isi perutnya.

Menurut kepercayaan, kura-kura tersebut berasal dari perut besar (lambung/maag), & sang ular dari usus Zhen Wu yang berubah ujud. Dikisahkan bahwa suatu ketika dalam samadhinya yang tanpa makan & minum, Zhen Wu merasakan usus & lambungnya sedang bertengkar. Rupanya rasa lapar yang amat sangat menyebabkan kedua organ tubuh tersebut saling menyalahkan. Zhen Wu menyadari kalau dibiarkan, hal ini dapat mempengaruhi ketentraman batinnya. Dalam kejengkelannya, ia membelah perutnya & mengeluarkan kedua organ tubuh tersebut, lalu melemparkan ke rerumputan di belakangnya. Kemudian seperti tanpa terjadi sesuatu ia melanjutkan samadhinya.

Sang lambung & usus karena setiap hari mendengarkan Zhen Wu membaca ayat-ayat suci Tao, lama kelamaan memiliki tenaga gaib juga. Keduanya lalu berubah menjadi kura-kura & ular, kemudian menyelinap turun gunung untuk memakan ternak & juga manusia. Zhen Wu yang telah menjadi Dewa, amat murka akan kejadian ini. Dengan mengendarai awan & pedang terhunus ia turun gunung. Tebasan pedangnya di punggung kura-kura meninggalkan bekas sampai sekarang. Sejak itu di punggung kura-kura tampak guratan-guratan seperti bekas tebasan pedang. Dengan tali wasiat diikatnya leher sang ular, sehingga sejak itu leher ular menjadi lebih kecil daripada tubuhnya.

Setelah ditaklukkan, kura-kura & ular memperoleh pangkat Er Jiang yang berarti “Dua Panglima”, dan menjadi landasan tempat duduk Zhen Wu Da Di. Tapi sang kura-kura rupanya masih belum hilang watak silumannya. Hal ini diketahui oleh Zhen Wu, beliau lalu menyuruh sang ular melilit tubuh kura-kura erat-erat, agar segala benda yang telah ditelannya dimuntahkan kembali, & agar mengungkapkan semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Patung kura-kura & ular ini sampai sekarang masih ada di ruang belakang kelenteng Zi Xiao Gong, & selanjutnya dijadikan logo yang melambangkan gunung Bu Tong San.

Masih ada 1 peninggalan penting yang ada kaitannya dengan Hian Thian Siang Tee, yaitu sebuah sumur yang dinamakan Mo Zhen Jing (Sumur tempat mengasah jarum). Konon pada waktu Zhen Wu sedang melakukan tapa di gunung ini, hatinya merasa goyah. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Sampai di tepi sumur ini ia melihat seorang wanita tua sedang mengasah alu besi. Zhen Wu merasa heran, lalu menanyakan apa maksud si nenek mengasah alu besi. Dengan tertawa si nenek berkata bahwa ia sedang mengasah alu untuk membuat jarum sulam. Mendengar jawaban ini Zhen Wu baru menyadari maksud yang terkandung di balik perkataan sang nenek. Segera ia kembali ke atas gunung untuk melanjutkan tapanya. Nama Mo Zhen Jing kemudian menjadi terkenal. Kini di dekat sumur itu dibangun rangon & patung seorang nenek tua yang sedang mengasah alu.

Sehubungan dengan kura-kura & ular ini, para pengusaha rakit bambu di Taiwan & Hongkong sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee, agar kura-kura & ular di sungai-sungai tidak berani menimbulkan ombak & gelombang yang mengancam usaha mereka. Selain di Taiwan & Hongkong, persembahyangan kepada Hian Thian Siang Tee ini telah menyebar ke Asia Tenggara, terutama di Malaysia, Singapura & Indonesia. Di Singapura, kelenteng Wak Hai Cheng Bio di Philip Street, terkenal sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee. Di Indonesia hampir setiap kelenteng menyediakan altar untuknya.

Menurut cerita, Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang, sebagian besar kelenteng ada menyediakan altar khusus untuknya. Di Jakarta, kelenteng Kim Tek Ie menyediakan altar khusus untuk Hian Thian Siang Te bersama dengan muridnya, yaitu 玄壇公 Xuan Tan Gong {Hian Tan Kong}. Sementara di Kelenteng di Palmerah, Jakarta Barat menempatkan Hian Thian Siang Te sebagai tuan rumah. Selain itu kelenteng yang khusus sembahyang Hian Thian Siang Tee sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen & Bugangan.

Hian Thian Siang Tee (Zhen Wu Da Di / Cin Bu Tay Tee) ditampilkan sebagai seorang dewa yang memakai pakaian perang keemasan dengan tangan kanan menghunus pedang penakluk iblis, kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura & ular. Hari Se Jit Hian Thian Siang Te diperingati setiap tanggal 3 bulan 3 Imlek.

O

—oooOOOooo—

O

Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara