Guan Sheng Di Jun 關聖帝君 {Hok Kian = Kwan Seng Tek Kun} secara umum disebut Guan Gong 關 公 {Hok Kian = Kwan Kong} adalah seorang Jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165 – 219 M). Beliau lahir di He Dong (sekarang Jie Zhou), propinsi Shan Xi, dan bernama asli Guan Yu alias Guan Yin Zhang.
Beliau adalah salah satu Dewata yang dipuja oleh ketiga agama (Sam Kauw). Kaum Buddhist menganggapnya sebagai Dewata Pelindung Kuil dan Bangunan2 Suci (salah satu dari Ke Lan Seng Ciong Pho Sat). Kaum Taoist memujanya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan. Sedangkan kaum Confusianist memujanya sebagai seorang suci dan teladan dalam hal Setia, Pri Kebenaran dan Keberanian. Sepanjang Kekaisaran Tiongkok dan pada masa Dinasti Qing, Kwan Seng Tee Kun amat dipuja bersama-sama Kwan Im Hut Co. Beliau adalah Dewata Utama Pelindung Kerajaan.
Gambar dan arcanya populer dengan ujud Beliau duduk membaca Kitab Hikayat zaman Chun Chiu 春秋 (salah satu dari 5 kitab klasik). Bersama 4 Dewata pendidikan lainnya Beliau dipuja sebagai 5 Dewata Pendidikan (Ngo Bun Ciang). Rakyat pada umumnya memujanya sebagai Dewata Sipil & Militer 文武雙神 (Bun Bu Seng Sin) dan salah satu dari Dewata Harta 財神 (Cay Sin). Bersama anak angkatnya Koan Phing 關 平 , dan pengawalnya Ciu Chong 周倉 yang setia, Beliau banyak dipuja baik di kelenteng maupun di rumah-rumah.
Dalam Kisah Tiga Negara (Sam Kok) Kwan Kong adalah seorang Jendral yang bernama Guan Yi (Kwan Yi). Lalu bagaimana Jenderal Kwan Yi (Kwan Kong) bisa menjadi Bodhisatva 菩薩 ? Seperti kita ketahui, Bodhisatva adalah seorang pembina diri yang penuh dengan cinta kasih. Sedangkan seorang Jendral di zaman peperangan pastilah banyak membunuh orang. Ini adalah hal yang amat kontradiktif. Namun perlu kita ketahui bahwa seseorang bisa menjadi Bodhisatva bila ia memiliki suatu kepribadian luhur 特德 yang luar biasa. Kepribadian luhur Jendral Kwan Kong yang luar biasa adalah Kesetiaan & Peri Kebenaran.
Berikut adalah intisari & kepribadian luhur dari Sejarah Hidup Kwan Kong dalam Kisah Sam Kok (Kisah Tiga Negara). Bandingkan jika Anda membaca Buku Sam Kok karangan Lo Kuan Chung yang terdiri dari 4 buku @ 750 halaman ! ) :
1. Setia Kepada Negara ( 盡忠於國 )
Pada suatu kali peperangan, Kwan Kong sendirian dikurung oleh ratusan prajurit musuh (Chao Chao). Namun beliau tidak takut mati, tetap tidak mau menyerah kepada Chao Chao. Malah mengajukan 3 Syarat: 1. Takluk kepada Kerajaan Han, bukan kepada Chao Chao. 2. Keluarga Lauw Pie (istri Lauw Pie) dijamin keamanannya. 3. Bila telah mendengar keberadaan Lauw Pie, Kwan Kong diperbolehkan bergabung kembali dgn kakaknya. Chao Chao dengan sangat terpaksa menerima ketiga syarat ini (Coba kita pikir: Mana ada orang yang menyerah, tapi malah mengajukan 3 syarat ???). Kemudian Kwan Kong tinggal di istana Chao Chao selama 12 tahun, namun Beliau tetap setia kepada Dinasti Han dengan prinsip patriotic: Menyerah kepada Han, bukan kepada Chao 降漢而不降曹
2. Menjaga Norma Susila ( 守禮不亂 )
Kwan Kong menjaga keselamatan kedua kakak ipar selama 12 tahun, ditemani lilin membaca kitab sastra Chun Chiu. Tak berani meninggalkan kakak ipar, karena takut mereka mendapat bahaya. Saat kedua kakak ipar tidur, Kwan Kong tidak tidur dan menjaga di luar kamar, mempersiapkan golok untuk menjaga keselamatan kedua kakak ipar. Sebenarnya Chao telah membangun istana yang megah untuk Kwan Kong, namun Beliau tak mau tinggal di dalamnya, karena senantiasa mengkhawatirkan kedua kakak iparnya. Lalu Chao dengan licik mengatur Kwan Kong tinggal dengan kedua kakak iparnya dalam 1 atap yang sama, ingin melihat apakah Kwan Kong bisa menjaga norma susila. Kalau melanggar berarti kegagahan Kwan Kong telah lenyap di tangan Chao, dan tak ada muka untuk kembali kepada Lauw Pie. Tapi taktik Chao tidak berhasil. Selama 12 tahun Kwan Kong berhasil menjaga norma susila !!! Manusia adalah mahluk yang berperasaan, orang yang tinggal bersama selama 12 tahun pasti ada perasaan. Namun Kwan Kong bisa menjaga kesucian. Sungguh luar biasa! Hawa ksatria membubung tinggi ke angkasa, sepanjang sejarah manusia tiada orang kedua ( along the history there was no the second man).
3. Tidak tergiur akan Kesenangan/Kenikmatan ( 不圖享樂 )
Chao Chao melayani Kwan Kong dengan 3 hari 1 pesta kecil, 5 hari 1 pesta besar 三日一小宴,五日一大宴 , dengan siasat lembut ingin menaklukkan hati Kwan Kong agar mau mengabdi kepadanya. Karena Chao Chao melihat Kwan Kong menjaga Lauw Pie selama berperang, dengan penuh penderitaan, letih, tiap saat terancam bahaya. Namun Kwan Kong tetap setia kepada Lauw Pie, hatinya tidak tergerak dengan pesta-pesta tersebut.
4. Tidak silau akan nama dan harta ( 不慕功名 )
Kwan Kong dilantik sebagai Sou Ting Hou 壽亭候 (Panglima Laskar Tertinggi Angkatan Perang), naik kuda diberi emas, turun kuda diberi perak ( 上馬金,下馬銀 ). Chao Chao sangat pintar menjilat / mengambil hati: Setiap Kwan Kong mau naik kuda diberi sekantung emas, kemudian begitu Kwan Kong turun dari kuda ada pengawal yang memberi sekantung perak. Tapi Kwan Kong tetap tidak bergeming, tidak serakah akan harta [Coba kalau kita tukar posisi; Misalnya setiap mau naik mobil diberi emas, begitu turun dari mobil diberi sekantung perak. Jika kita serakah, ingin dapat harta berlimpah dengan mudah, maka kita setiap hari pekerjaannya hanya naik & turun mobil saja!?]. Chao merasa kesal, apakah emas dan perak saya palsu? Karena di otak Chao Chao, di dunia ini tak ada orang yang tidak bisa ditaklukkan dengan 4 Ta : Harta (emas & perak), Tahta (kedudukan tinggi: Sou Ting Hou), Wanita cantik {Chao Chao mengirimkan puluhan wanita cantik kepada Kwan Kong, tapi beliau tidak merasa tertarik sama sekali, malah diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya. Ada pepatah China yang mengatakan 英雄難過美人關 , yang berarti Seorang Pahlawan Sukar Melewati Gerbang Ujian Wanita Cantik. Tapi pepatah ini tak berlaku untuk Kwan Kong}, dan Jamuan Pesta ( 三日一小宴 , 五日一大宴 ). Namun semua cara Chao Chao untuk menaklukkan Kwan Kong gagal total. Kwan Kong tak bergeming, tetap setia kepada Lauw Pie !
5. Tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama. ( 不迎新,不去舊 )
Chao Chao memberikan hadiah jubah merah yang dilapisi permata kepada Kwan Kong. Namun oleh Kwan Kong jubah merah (baru) tersebut dipakai di dalam, sementara jubah hijau pemberian dari Lauw Pie yang sudah lama, robek, dan lusuh dipakai di luar. Melihat hal ini Chao Chao merasa amat heran, lalu bertanya kepada Kwan Kong mengapa demikian? Kwan Kong menjawab bahwa, jubah merah yang baru pemberian dari Chao Chao dipakai di dalam adalah sebagai tanda Kwan Kong menghormati Chao Chao. Sementara jubah hijau yang sudah lama & lusuh tapi dipakai di luar adalah sebagai tanda Kwan Kong senantiasa mengingat kakak angkatnya, Lauw Pie !
6. Tidak melupakan kesetiaan persaudaraan ( 不忘兄弟情義 )
Pada saat menerima kabar dari kakaknya Lauw Pie, Kwan Kong segera mohon pamit kepada Chao Chao, tapi Chao Chao sengaja tidak mau bertemu, menggantung plat di depan kamar: Tidak terima tamu ! Tapi Kwan Kong tidak terbelenggu oleh budi awam, lalu mengembalikan semua emas & perak yang diterimanya, juga stempel kebesaran Sou Ting Hou. Kemudian Kwan Kong meninggalkan istana Chao Chao untuk pergi ribuan kilometer mencari kakak angkatnya, Lauw Pie.
7. Melupakan aku, tidak mempedulikan keselamatan sendiri ( 忘我,奮不顧身 )
Chao Chao begitu mengetahui kaburnya Kwan Kong dari istananya, menurunkan perintah: Jika tidak bisa menahan Kwan Kong, lebih baik bunuh saja ! Kwan Kong sendirian dengan membawa & melindungi kedua kakak iparnya berhasil Menerobos 5 benteng dan membunuh 6 Jenderal ( 過五關,斬六將 ). Sungguh Luar Biasa !!! Akhirnya Kwan Kong yang sudah amat letih berhasil bertemu kembali dengan Lauw Pie & Tio Hui, adik angkatnya.
Kesetiaan dan Peri Kebenaran Kwan Kong sungguh tak tertandingi, sepanjang sejarah manusia hanya ada 1 orang. Beliau berhasil mempertahankan kepribadian luhur 剛正 Gang Zheng : ksatria, adil, jujur, teguh, berintegritas, dan gagah berani, akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai Maha Bodhisatva Kumala Raja, Guan Sheng Di Jun (Kwan Seng Tek Kun). Beliau juga bergelar Fu Mo Da Di (Bodhisatva Penakluk Mara), Guan Fa Li Zu (Bodhisatva Penegak Hukum).
Bersama ini mengimbau umat agar waktu bersembahyang kepada Kwan Kong, tidak menggunakan daging sebagai persembahan, tapi hanya menggunakan buah-buahan atau kue-kue (vegetarian). Ingat, Beliau telah mencapai Bodhisatva dengan gelar Kwan Seng Tek Kun (Sansekerta : Bodhisatva Satyakalama).
