Hok Tek Cing Sin
Wednesday, July 18th, 2007Fu De Zheng Shen {Hok Kian = Hok Tek Cing Sin } adalah Dewa Bumi yang secara umum disebut pula sebagai Tu Di Gong {Hok Kian = Tho Tek Kong }. Beliau merupakan salah satu dewa yang tertua usianya. Oleh karena itu beliau sering disebut juga sebagai Hou Tu.
Orang-orang biasanya membedakan dengan cara perletakannya. Jika dipuja di atas altar lengkap dengan Bun Bu Phoa Koa (Pengawal Sipil dan Militer) disebut Fu De Zheng Shen, dan memiliki wilayah kekuasaan yang lebih luas bukan hanya setempat/lokal saja. Sedangkan bila dipuja di bawah (di atas tanah) tanpa pengawal disebut Tu Di Gong, kadang kala disertai istrinya Tu Di Po. Area kekuasaannya setempat saja.
Di semua tempat, Hok Tek Cin Sin ditampilkan dalam bentuk yang hampir sama, yaitu seorang tua, berambut dan berjenggot putih, dengan wajah yang tersenyum ramah. Biasanya Hok Tek Cin Sin tampak menggenggam sebongkah uang emas di tangan kanannya.
Seperti juga Seng Hong Ya, Hok Tek Cin Sin mempunyai masa jabatan yang terbatas. Jabatan Hok Tek Cin Sin biasanya diduduki oleh orang-orang yang selama hidupnya banyak berbuat kebaikan dan berjasa bagi masyarakat. Setelah meninggal tokoh pujaan rakyat itu lalu diangkat sebagai Hok Tek Cin Sin . Oleh karena itu tiap tempat mempunyai Hok Tek Cin Sin tersendiri.
Ada sebuah versi yang mengatakan bahwa Hok Tek Cin Sin adalah Zhang Fu De {Hok Kian = Thio Hok Tek}, seseorang yang pernah hidup di zaman Dinasti Zhou (Masa Kaisar Zhou Wu Wang). Zhang Fu De lahir pada tahun 1134 SM, sejak kecil telah menunjukkan bakat sebagai orang pandai dan berhati mulia. Beliau menjabat Menteri Urusan Pemungutan Pajak Kerajaan. Dalam menjalankan tugasnya ia selalu bertindak bijaksana & tidak memberatkan rakyat, sehingga rakyat sangat mencintainya. Ia meninggal pada usia 102 tahun. Jabatannya digantikan oleh Wei Chao, seorang yang tamak & kejam. Rakyat sangat menderita karena Wei Chao tidak mengenal kasihan dalam menarik pajak. Karena derita yang tak tertahankan, rakyat banyak yang pergi meninggalkan kampong halamannya, sehingga sawah ladang banyak yang terbengkalai. Dalam hati mereka amat mendambakan seorang bijaksana seperti Thio Hok Tek yang telah wafat itu. Lalu mereka memuja Thio Hok Tek sebagai tempat memohon perlindungan. Dari nama Thio Hok Tek inilah kemudian muncul gelar Hok Tek Cin Sin yang dianggap sebagai Dewa Bumi.
Sembahyang kepada Dewa Bumi ini sangat luas wilayahnya. Di seluruh negeri, dapat dikatakan Tu Di Miao (Kelenteng Tu Di Gong)-lah yang paling banyak jumlahnya baik besar maupun kecil. Tu Di Miao kecil umumnya terdapat di dusun-dusun, di tepi pematang sawah, dan bahkan di halaman rumah. Di desa terpencil yang melarat, sembahyang Tu Di Gong dilakukan di dalam sebuah jembangan air yang telah pecah. Jembangan itu dibalik dan dari bagian dinding yang pecah ditempatkan sebuah arca Tu Di Gong, dan dianggap sebagai kelenteng ! Sebab itu ada pemeo di kalangan rakyat yang mengatakan: You Wu Zhu Da Tang, Mei Wu Zhu Po Gang, yang artinya : Kalau ada rumah tinggal di dalam ruangan besar, kalau tak ada rumah jembangan pecah pun jadi ! Kecuali kelenteng khusus, di kelenteng-kelenteng lain, biasanya disediakan altar pemujaan Tu Di Gong sebagai pelengkap.
Kaum petani menganggap Hok Tek Cin Sin sebagai Dewa Pelindungnya. Kaum pedagang memandangnya sebagai Roh Suci yang mendatangkan rezeki. Masyarakat umum memandangnya sebagai Pelindung Keselamatan. Oleh karena itulah perayaan dan sembahyang kepada Hok Tek Cin Sin paling banyak dilakukan dalam setahun.
Pada masa lalu, banyak kaum pedagang bersembahyang memohon rezeki & perlindungan dari Hok Tek Cin Sin pada tiap Ce Ji & Cap Lak (tanggal 2 & 16 Imlek tiap bulan). Sembahyang ini disebut Zuo Ya {Hok Kian = Cuo Ge } atau Ya Fu. Upacara sembahyang pada Cia Gwe Ce Ji (tanggal 2 bulan 1 Imlek) disebut Tou Ya {Hok Kian =Thou Ge }. Tanggal 2 bulan 2 Imlek disebut sembahyang Ya Li. Tanggal 16 bulan 12 Imlek disebut Wei Ya {Hok Kian = Be Ge }, sembahyang penutup tahun.
